
...🌹🌹🌹 Welcome to Reading 🌹🌹🌹...
mentari bersinar terang. hari ini akhir pekan. karena masih pagi, winda pun melanjutkan tidurnya tanpa memperdulikan sapaan sang mentari pagi. ditariknya selimut lagi setelah ia melaksanakan kewajibannya.
pagi itu jam masih menunjukan pukul 7 pagi. mas ferdy sudah sibuk dengan aktivitas olah raganya sedangkan winda masih berpelukan dengan gulingnya. dari lantai bawah mas ferdy memanggil winda dengan suara lantang. mas ferdy memanggilnya untuk sarapan bersama. tapi tak ada sautan jawaban dari adiknya. karena geram melihat tingkah adeiknya ini. disamperinnya adeknya yang sedang pulas tertidur dikamar. tanpa mengetuk pintu, mas ferdy masuk dengan segelas kecil air. yups tau sendiri lah apa yang akan dilakukan mas ferdy. disiramnya pelan air itu ke muka adeknya. dengan kagetnya karena mukanya basah. terbangunlah winda dengan kagetnya dan diusapnya mukanya dengan keduan tangan. ia mengira bahwa bocor tapu setelah menengok ke samping diliharnya abangnyang sudah melipat kedua tangannya di dada sambil berucap.
"bagus ya masih molor, udah jam berapa coba? gitu ya kalau ndk ada bunda dan cuma ada mas kamh jadi malas malasan gini" tegas mas ferdy
"iya maaf mas, winda ngantuk aja mas. ndk lagi deh mas"
"ya udah, kamu cuci muka atau ndk mandi abis itu sarapan. makanan dah siap. abis sarapan terserah kalau mau tidur lagi" ujar mas ferdy dan pergi keluar kamar adeknya tanpa menengok adeknya
winda ngerasa bersalah karena melihat ekspresi abangnya yang sedikit marah karena kelakuaannya. winda tahu abangnya ndk akan marah hanya karena bangun siang tapi karena winda melewatkan makan dan biasanya ia akan sakit. jadi mas ferdy cuma ndk pengen adeknya itu sakit.
bergegas winda ke kamar mandi dan hanya cuci muka karena ndk ingin mas ferdy menunggu lama karenanya. setelah cuci muka dan sikat gigi bergegas winda turun menuju ruang makan. sesampainya di ruang makan, mas ferdy sedang menyiapkan sarapan di meja makan. segera winda membantu mas ferdy merapikan beberapa makan dan mengambilkan peralatan makan. mereka pun sarapan bersama.
setelaj sarapan, mas ferdy pergi ke rumah mas bima kawannya karena ada urusan sebentar. jadinya winda sendirian di rumah. untuk mengisi waktunya ia kemudian mengambil peralatan lukis dan melukis di halaman belakang rumah. di tengah keasyikannya melukis, tiba tiba ada yang mengetok pintu rumahnya. bergegas ia membukakan pintu. betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang. ya wildan dan adeknya wulan. segera ia membukakan pintu.
"hai kak winda, ndk nganggu kakak kan" ujar wulan ramah
"ndk kok, tumben kalian ke sini ayok sini masuk"
mereka pun masuk ke rumah
"kemana abang kamu, katanya sakit" tanya wildan dingin
"aduh kak, bisakan ramah dikit, kan kak winda kawan kakak masak gini"
"kamu juga gitu kan sama kawan kamu, ngapain negur abang gitu" ucapan wildan membuat wulan ndk berkomentar lagi karena memang dia juga begitu dg temannya di sekolah
"aduh wildan, udah deh kasian dek kamu jika kamu ngomong gitu. aku ndk apa kok wulan, wildan ya emang gitu sifatnya tapi dia baik banget kok ma aku, jadi ndk perlu murung gitu ya. setiap orang kan mempunyai sifat yang berbeda."
"iya kak. tapi wulan juga ngerasa bersalah ma kawan wulan yang memperlakukannya seperti kak winda dipelakukan ma abang"
"belajar pelan pelan ke arah lebih baik dek. sama seperti yang abang lakukan sekarang. mencoba terbuka dan menerima lainnya ya" ujar wildan memotong perkataan adeknya dan membuat wulan kaget lalu memandangnya hangat
"maaf win, aku kesini mengganggumu tapi aku cuma ingin adekku bisa terbuka ma kawannya dan menghancurkan tembok yang ia buat sama kayak kita dulu terlebih dari aku sendiri"
"ndk ganggu kok, tapi kalian ndk perlu memaksakan itu. pelahan saja mengalir aja santai ya."
"jadi abang mengajakku kesini supaya aku tau gimana abang memperlakukan kak winda yang sama kayak aku memperlakukan dingin kawanku"
"iya. tqpi abang yakin kamu bisa lebih baik dari abang. sama seperti yang kamu tujukan tadi ma winda"
"makasih bang, wulan sayang abang. wulan janji akan mencobanya" mereka berdua pun saling berpelukan. melihatnya membuat winda tersenyum.
"kak winda sibuk ndk"
"ndk kok wulan , kenapa?"
"ikut kita jalan jalan yuks kak, ke taman bermain"
"hemm boleh, tapi aku izin abang aku dan ganti baju dulu ya"
__ADS_1
"iya kak, kita tunggui. asyik ke tamn bermain, udah lama ndk ke sana"
"dasar bocah"
"biari we... bocah bocah gini abang sayang kan"
winda pun nelepon mas ferdy dan kemudian mengganti baju. setelah semuanya siap, mereka berangkat bersama menggunakan mobil yang dikendaraai oleh wilda. tanpa diketahui winda dan kedua kakak beradik itu, dari kejauhan ada seseorang yang mengamati mereka dan akhirnya memutuskan untuk mengikutinya.
di sepanjang perjalanan, winda dan wulan asyik mengobrol di bangku penumpang sedangkan wildan fokus pada jalanan yang sesekali tersenyum mendengar sekilas obrolan dari adek dan sahabatnya itu. dari spion wildan menyadari ada sebuah sepeda motor yang mengikuti mereka dari keluar perumahan winda tapi wildan tak memberitahu keduanya. ia hanya ingin memastikannya terlebih dahulu.
sesampainya di taman bermain, wildan memarkirkan mobilnya. kemudian mereka berjalan beriringan memasuki taman bermain. karena weekend jadi taman bermain itu ramai pengunjung tapi mereka masih bisa menikmati permainan yang ada. wildan masih melihat seseorang itu ikut mengawasi mereka. dengan kecerdikannya wildan menangkap seseorang dengan hoodie dan masker tanpa adeknya dan wimda tahu karena mereka sedang menikmati wahana permainan sedangkan ia beralasan mau ke toilet. segera ia menahan seseorang itu dan membawanya ke arah toilet untuk mengetahui siap dibaliknya.
setelah sampai di toilet dibukanya penutup hoodie dan masker. betapa terkejutnya wildan ternyata yang mengikutinya itu adalah andri.
"andri, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu mengikuti kami"
"maaf aku tak bermaksud, sebenarnya aku hanya ingin jujur sama winda aja tpi waktu aku ingin mengatakannya ada kalian"
"mengatakan apa maksudmu?"
wildan kebingungan dengan maksud andri. dan andri hanya diam tak menjawab pertanyaan dari wildan. dan tiba tiba ia ingat kotak biru waktu itu.
"jadi kamu yang mengirim kotak biru itu pada winda"
andri hanya mengangguk
"kenapa"
"karena aku menyukainya tapi aku takut dia akan menjauhiku dan aku juga sadar jika dibandingkan kamu aku ndk pantas untuk dia, kamu lebih pantas dari sisi mana pun" ujar andri tegas mencoba memberanikan diri mengatakannya pada wildan.
"aku belum seberani kamu wil, makanya aku hanya berani lewat surat"
"beranikan dirimu untuk jujur padanya jangan biarkan ia terus bertanya tanya. aku tahu dia ingin tahu siapa kamu dan mencoba menyembunyikannya dari aku maupun mala yang notabennya sahabatnya"
"aku belum berani wil"
"coba perlahan, kalau memang kamu berani lewat surat, ajak dia berpikir secara tidak langsung kamu beritahu dia. jika udah yakin langsung jujur padanya."
"akan aku coba. tapi apa kamu akan memberi tahunya soal siapa pengirim itu padanya"
"aku tak akan melakukannya tapi aku akan mengawasi kalian. dan bila kamu sudah membuatnya bersedih dan kecewa jangan harap kamu bisa dekat atau berhubungan dengannya"
"aku janji tak akan membuatnya sedih walau terkadang aku berpikir yang aku lakukan sebenarnya terlalu ke kanakan dan tidak mencerminkan seorang laki laki."
"okey ,aku pegang janjimu. dan karena kamu udah disini gabung bersama kami dan kamu bisa memulainya sekarang. bagaimana?"
"apa kau yakin wil?"
"kita ndk tau kalau ndk di coba"
akhirnya andri ikut ajakan wildan untuk bergabung bersama mereka. andri sedikit tenang dengan hadirnya wildan. ndk nyangka seseorang yang dulunya dianggapnya saingan karena ia lebih dekat dengan orang yang dia suka ternyata membantunya untuk jujur akan perasaannya pada orang tersebut.
di lain sisi, wulan dan winda kebingungan dimana wildan berada karena mereka udah selesai menaiki permainan tapi ia tak kunjung datang. tak berapa lama dari kejauhan mereka melihat wildan dengan seseorang.
__ADS_1
"itu siapa kak yang bersama abang, kayak tak asing melihatnya"
"itu andri, wulan. teman sekolah kita"
"oh, apa dia pernah ke rumah juga"
"iya"
melihat andri winda bingung dan bertanya mengapa ia juga ada disini. wildan dan andri menghampiri mereka.
"kok lama banget sih kak, terua kenapa kakak bisa sama kak andri"
"kamu tahu dia dek"
"ndk kok tadi kak winda jawab kalau itu kak andri"
"kok kmu bisa ma dia wil"
"iya kak, kok bisa sama kak andri"
"jadi andri kesini ma keluarganya dan ketemi di toilet jadi ya udah aku ajak gabung, kan enak ada temannya ndk dikacangin kayak tadi. kan kalian asyik aberdua aja"
"iya wulan winda, tadi ketemu pas di toilet ya udah aku ikut aja. nemenin wildan juga sih"
"oh gitu, ya udah ayok kita lanjutkan main yang main. mumpung masih pagi."
merekapun melanjutkan menaiki wahanan lainnya. sebenarnya winda sedikit curiga dengan kehadiran andri tapi ditepisnya. merekapun bahagia menaiki segala wahana permainan disana. andri sudah terbiasa dengan suasana yang ada berkat wildan dan wulan. jadi tak ada kecanggungan lagi diantara keempatnya.
setelah puas, merekapun makan bersama. di sela makan, mereka menceritakan betapa asyiknya hati ini dan menyenangkan. tiba tiba wildan memberikan tisu yang udah ia tulis sesuatu pada andri.
"mending kamu pamit kalau keluargamu mau pulang, jadi biar ndk curiga masak kamu pulang bareng kita. biar ndk bareng"
setelah membacanya, andri segera berpura pura mengecek ponselnya. dan menenguk minum setelahnya.
"maaf semua, tapi kayaknya aku duluan deh. soalnya keluargaku udah selesai dan mereka mengajakku pulang"
"ya elah kak, ya udah deh. hati hati ya kak, makasih udah nemenin wulan kali ini ma kak wildan dan kak winda"
"iya ndri makasih ya, hati hati ya"
"thanks bro, kalau ndk ada kamu ndk tau deh betapa kacangnya aku diantara mereka" sambil nunjuk wulan dan winda. mereka berduapun hanya nyengir memdengar ucapan wildan.
"iya sama sama, ya udah aku duluan ya bye."
andri pun pergi meninggalkan mereka. merekapun melanjutkan makan, dan memutuskan untuk pulang karena winda sudah di telepon mas ferdy untuk pulang karena udah mau sore. setelah makan mereka ke rumah winda untuk mengantarnya pulang. sesampainya di rumah mas ferdy sudah menunggunya dengan memasang wajah serius. wildan dan wulan juga ikut turun karena melihat ekspresi dari mas ferdy. mas ferdy pun tersenyum melihat ke tiganya yang membuat wildan dan terlebih lagi wulam bingung.
"udah ya senang senangnya, udah makan belum" ujar mas ferdy ramah
"udah kok mas, tadi sebelum pulang winda ma mereka makan dulu."
"ya udah, kirain belum makan. ya udah masuk gih, dan kaliam berdua hati hati dijalan , terima kasih hari ini udah jagain adek mas, jngan ngebut ya wildan" ujar mas ferdy sambil menepuk pundak wildan
"iya mas tentu, kalau begitu kami permisi dulu"
__ADS_1
merekapun pulang, mas ferdy dan winda melihat mobil itu pergi. dan setelahnya mereka masuk kedalam rumah. winda segera ke kamar untuk bersih bersih karena badannya penuh keringat karena pergi seharian. setelah bersih ia merebahkan tubuhnya di kasur. hari ini cukup menyenangkan untuknya. tanpa sadar ia mulai terlelap mungkin karena lelah berkeliling taman bermain hari ini.
...🌹🌹🌹 Happy Reading Everyone 🌹🌹🌹...