Maafkan Aku

Maafkan Aku
032


__ADS_3

Keesokan harinya, winda sudah menyiapkan surat sesuai saran dari mas ferdy. dan benar apa tebakkannya. di laci mejanya sudah ada sebuah kotak biru, sama seperti kotak biru beberapa waktu yang lalu. tanpa membukanya, ia lalu menempelkan suratnya di atas kotak biru itu, kemudian ia berlaku biasa tanpa memperdulikan kotak itu supaya kawan yg lain tidak curiga kepadanya terutama wildan. kemudian dibukanya buku pelajaran, ditenggelamkannya pikiran itu kedalamnya.


bel pun berbunyi menandakan waktu belajat dimulai. hari itu, kelas winda kedapatan mata pelajaran olah raga. bergegas seluruh siswa berganti pakaian olah raga dan menuju ke lapangan. mereka pun bersiap berolah raga. guru membagi mereka menjadi 4 kelompok kecil gabungan siswa laki-laki dan perempuan. mereka memulai permainan gobak sodor di lapangan rumput yang luas di sekolah mereka. mereka memberi garis dengan tali untuk pembagi ruang. bergantian mereka memainkannya. pak guru sengaja memberikan beberapa kali jenis permainan olah tubuh selain untuk olah raga tapi juga sebagai rekreasi sejenak untuk siswanya. mereka semua bermain dengan penuh semangat. diiringi suara candaan dan tawa tercipta di dalamnya. setelah selesai dalam permainan, beberapa anak laki laki memgambil bola basket dan mulai memainkannya. sedangkan yang lainnya menonton dipinggir lapangan sambil beristirahat.


jam pelajaran pun berganti, mereka telah siap menerima pelajaran baru. betapa terkejutnya winda, melihat surat yang ia taruh tadi pagi sudah tidak ada lagi di lacinya berganti dengan sebuah note kecil bertuliskan


"maaf jika ini mengganggumu"


sontak setelah membacanya ia menjadi bingung dan heran, terkait maksud dari surat itu. tambah bingung kini yang winda rasakan. apa ini menyinggung dia tapi winda kan hanya ingin tahu siapa yang mengirimnya. sejenak berusaha winda tenang dan kembali fokus ke pelajaran.


selesai sekolah, winda membereskan buku dan alat tulisnya serta memasukkan kotak biru tadi dan note kecil itu. wildan sebenarnya sudah memperhatikan winda dari setelah pelajaran olah raga karena ia merasa ada sesuatu yg winda sembunyikan tapi ia hanya diam karena takut membuat winda bete dan kesel kayak sebelumnya terkait sikapnya itu.


"pulang bareng yuk, daripada kamu naik bus"


"eh ndk usah wil, aku naik bus aja bareng mala ma yg lain"


"oh ya lupa, tadi mala bilang ia ma helen mau ngerjain tugas kelompok gitu katanya"


"loh kok dia ndk ngomong ke aku"


"km sih abis makan siang langsung ngelonyor aja ke kelas, jadi dia bilang ke aku"

__ADS_1


"oh gitu"


"ada yg kamu pikirkan"


"ndk kok, ya udah boleh deh bareng kamu, yuks pulang, kasian mas ferdy sendirian di rumah apalagi masih ndk enak badan juga" winda mencoba mengalihkan perhatian wildan karena wildan udah mulai curiga akan sesuatu


"ya udah, ayo" wildan merasa winda hanya mengalihkan pembicaraan tapi ia tak ingin membuat winda kesulitan akan sikapnya ini jadi ia mencoba percaya pada winda dan yakin suatu saat winda akan cerita padanya maupun mala.


wildan dan winda berjalan beriringan menuju parkiran. dalm diam mereka menyusuri lorong kelas dengan rasa cnggung yg winda tunjukkan tak seperti biasanya. wildan mencoba cuek dan memasang headset dan berjalan di depan winda agar winda bisa terbiasa kembali. suasana pun sedikit lebih baik.


wildan mengantar winda sampai di depan rumah. sebenarnya wildan ingin menjenguk mas ferdy dan mampir sebentar di rumah winda tapi adeknya sudah meneleponnya dan membuat ia bergegas pulang ke rumah.


winda pun masuk ke rumah. tak langsung ke kamar. ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. ditatapnya langit langit rumah. note yang tadi masih terbayang dalam pikirannya. dari kamar, mas ferdy melihat adeknya itu. dihampirinya dengan pelan. duduklah mas ferdy di samping winda.


"mas ferdy, ngagetin aja deh. ndk apa kok mas, winda capek aja"


"ndk mungkin cuma capek, kenapa hayo cerita donk. kan udah janji"


"ehm....." dengan ragu winda mengeluarkan kotak biru dan note itu dan menyerahkannya ke mas ferdy.


mas ferdy menerima note itu dan membuka kotak biru itu terlebih dahulu. di dalam kotak terdapat pembatas buku dari bunga kering yang begitu indah. pembatas buku itu terlihat seperti buatan tangan sendiri. lalu beralihlah dengan note itu. isi note membuat mas ferdy berpikir dan akhirnya ia memandang tajam adeknya meminta penjelasan apa maksudnya. winda pun menjelaskan semuanya. mas ferdy hanya tersenyum dan mengelus pucuk kepala adeknya ini seraya berkata.

__ADS_1


"sekarang kamu sudah dewasa, kamu pasti bisa memahami ini dek"


winda menjadi tambah bingung dengan ucapan dan tingkah abangnya ini. dengan mata menatap mas ferdy sampai alisnya menyatu. menandakan ketidakpahaman akan maksud itu menanyakan ke abangnya.


"dia ada di dekatmu, tapi ia takut jika ia muncul akan membuatmu terganggu dan mencoba memberi jarak antara kamu dan dia dek"


"tapi kan winda cuma ingin tau siapa dia"


"dia ingin kamu tahu sapa dia, tapi dia belum siap, jika kami tahu akan perasaannya ini kamu nantinya akan twrganggu. jadi dia minta maaf, dia belum bisa jujur ma kamu"


"terus adek harus gimana mas?"


"kamu hargai dia, tapi kamu bisa berkomunikasi dgnya lewat note atau surat seperti ini. jadi perlahan kamu ingin mengenalnya. biarkan dia jujur sendiri dan kamu juga bisa mencari tahu dia dengan mengamati seseorang yang ada di sekitarmu dek"


"jadi untuk sekarang winda belum bisa tau mas"


"mas tahu kamu lebih dewasa dari siapapun. mas tau kamu akan bisa menghadapinya dengan caramu. jadi langkahmu ini mana yang kamu ambil itu tergantung dirimu. menunggu dia mau jujur atau memaksanya jujur dan menjauhinya. iti semua terserahmu"


"makasih ya mas, mas selalu ada buat adek" winda pun memeluk hangat mas ferdy. mas ferdy pun membalas pelukan itu dan setelah itu menturuh winda untuk menganti pakaian.


winda pun menuju kamarnya. diletakkannya kotak, pembatas buku dan note ke dalam kotak penyimpanan. dan di tulislah sebuah surat untuk seseorang itu. kemudian winda berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya ke kasur. tanpa winda sadari ia sudah terlelap saat senja menjelang.

__ADS_1


menjelang makan malam, mas ferdy mengetuk pintu kamar winda karena adeknya dari tadi tidak turun turun untuk makan dan juga waktu sudah malam. saat ia masuk, dilihatnya adeknya masih terlelap. dibangunkannya adeknya untuk makan. winda pun bangun dan berbersih dan ibadah dulu sebelum turun ke ruang makan.


di ruang makan sudah siap berbagai jenis makanan. malam itu mas ferdy memasak sendiri untuknya dan terkhusus untuk adeknya. dengan lahapnya winda memakan masakan abangnya ini yang sangat jarang ia rasakan karena walaupun rasanya enak abangnya jarang sekali masak dan sekalinya masak maka biasanya winda dan bagas adeknya akan berebut makanan dan itu membuat ayah dn bundanya hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah anak anaknya itu. sedangkan abangnya akan mulai kesal jika adeknya berebut makanan dan alhasil makann itu diambilnya lagi dan membuat winda dan bagas akan memasng muka seimut mungkin untuk merayu abangnya untuk memberikan makann itu. sekarang karena ndk ada bagas, winda dengan rakusnya melahap makanan itu membuat mas ferdy hanya berdecak heran dan bingung bagaimana menegur adeknya untuk makan perlahan.


__ADS_2