Maafkan Aku

Maafkan Aku
028


__ADS_3

...🌹🌹🌹 Welcome to Reading 🌹🌹🌹...


......................


pagi harinya seperti biasa, winda berangkat diantar mas ferdy dimana kebetulan ia mau keluar ke rumah temannya saat bela diri dulu. yups mas bima anak dari pak ramlan. seperti biasa mas ferdy mengantarnya di depan gerbang. setelah berpamitan, mas ferdy pergi ke rumah mas bima.


winda berjalan di lorong kelas sendiri. setibanya di tangga, seseorang memanggilnya. tak lain itu andri dan helen. merekapun berjalan beriringan menuju kelas. andri dan helen masuk ke kelasnya dan winda berjalan ke kelasnya yang berada di ujung koridor.


setibanya di pintu kelas, seseorang memegang pergelangan tangan winda sehingga membuatnya reflek membalikkan badan. ternyata itu bagas, anak kelas X5.


"eh bagas kenapa?"


"ini ada titipan di mejaku dan tertulis namamu, jadi bingung deh aku, kenapa ndk dikasih sendiri" ujar bagas sambil menyerahkan sebuah kotak biru


"ini apa gas?"


"kan tadi dah kubilang aku ndk tau. itu udah ada dimejaku terus tulisannya untuk winda. sapa lagi angkatan kita yg namanya winda, ada sih kakak kelas XII tapi itu ndk mungkin deh. ya udah ya aku balik ke kelas dulu bye"


bagas meninggalkan winda yang masih terpaku dan bertanya tanya siapa yang mengirimkannya kotak ini. dengan berbagai pertanyaan masih menggantung, winda masuk ke kelas.


di dalam kelas, winda ingin membuka kotak itu tapi tiba tiba nabila dan alexa menghampirinya. mereka pun berbincang bincang ringan. ya suasana kelas sekarang tak semencengkam dulu. anak anak lebih bebaa bergaul tanpa persaingan dingin. persaingan nilai tetap ada tapi kebersamaan yang dulu terkubur sekarang telah mekar dan mengharum. ditengah bincang bincang itu terhenti setelah kedatangan wildan. wildan tetaplah wildan, dengan muka dingin kulkasnya ia masih disegani anak anak dikelas. tak sedikit dari mereka takut untuk membual atau sekedar bercanda garing dengannya. hanya perbincangan yang mulanya diawali wildan baru mereka akan menampilinya. wildan pun duduk dan memandang ke arah winda


"ada yang membebanimu?" tanyanya tiba tiba


"ah...ndk kok, masih ngantuk aja" jawab winda glagapan


"jujur bisa kan, bukannya kita bertiga sudah janji untuk cerita"


"ndk sekarang juga, bentar lagi bel juga. nanti deh aku cerita"


winda segera mengeluarkan buku dan berusaha mengalihkan hal itu dari wildan. wildan hanya memandanginya dengan sorot mata tajam dan penuh tanda tanya. lalu ia mengeluarkan ponsel. dichatnya mala dan diceritakannya apa yang ia curigai. setelah itu wildan menuliskan sesuatu di note dan menyerahkannya di halaman buku yang winda buka


"istirahat aku dan mala tunggu kamu di atap sekolah, jadi jujurlah jngan kmu simpan sendiri"


setelah dibacanya note itu, diliriknya wildan yang masih sibuk dengan ponselnya tak tahu apa yang sedang ia lakukan tapi yang jelas winda tahu wildan ingin ia jujur tapi winda juga ndk tau apa yang harus ia katakan soal hal aneh yang ia dapatkan beberapa hari ini. dialihkannya dan difokuskannya konsentrasi winda dengan pelajaran karena sebentar lagi kelas akan dimulai. tak beberapa lama guru pun masuk. pelajaran waktu itu berjalan dengan lancar seperti biasa walaupun winda sedikit terganggu dengan desakan wildan untuk mengatakan apa yang saat ini ia pikirkan dan hadapi. jadi disepanjang mata pelajaran pikiran winda terbagi menjadi beberapa pertanyaan yang menggantung dalm pikiranya.


bel istirahat pun berbunyi. wildan segera keluar kelas setelah guru keluar. tak lupa sebelum keluar wildan meninggalkan catatan kecil ke winda yang menegaskan agar tidak menghindar dan segera menemuinya. kebimbangan itu muncul. sebenarnya winda ingin mencari tahu siapa kah orang yang beberapa kali ini memberinya kotak pesan ini dan tak ingin mala atau pum wildan tau dulu. tapi winda juga takut jika tak jujur akan bertambah dingin dan sadis yang seperti apa wildan nantinya dan akan betapa cerewetnya mala dengan omelannya itu yang ia dengarkan. walau sedikit ragu, winda mencoba untuk meyakinnya dirinya untuk ngomong ini semua. berjalanlah winda ke atap sekolah.


sesampainya di sana, mala dan wildan telah menunggunya. di hampirinya mereka berdua. mereka bertiga duduk berjejer menatap langit di depan mereka. diam tanpa kata, itulah mereka saat ink. ketiganya bingung mengawalinya. mala yang cerewet, wildan yang cerdas memilih kata dan winda yang pandai mengungkapkan pendapat pun seketika sunyi diam tanpa sepatah kata pun.


keheningn itu muncul. mala memecah keheningn itu dengan suara ponsel yang sengaja ia nyalakan untuk mencairkan suasana.


"ngpain sih kita disini, panas panas kayak gini. ngapa dah wil, kamu nyuruh ketemuan disini"

__ADS_1


"dasar cewek ya, ini tuh damai tau"


"damai apa coba, item jadinya kulit aku"


wildan dan mala pun saling lempar ejekan dan winda hanya memandangi tingkah mereka berdua. saling ejek itu tak akan pernah terhenti jika winda tak tertawa. tanpa terduga ditengah lempar ejekan itu winda tertawa tatkala mala mengatakan bahwa wildan itu manusia kulkas di kutub yang yang pernah mencair ataupun hangat. gelak tawa kecil itu langsung mengarahkan keduanya ke teman mereka yng satu ini. mereka pun memandang tajam winda. seketika winda berhenti tertawa.


"kenapa kamu ketawa hah?" ujar wildan tajam


"eh ndk kok, ndk apa. lucu aja kalian kayak anjing ma kucing"


"apa" ujar mala dan wildan barengan


"udah napa berantem aja"


"eh bentar, kita kan kesini mau bicaraain ini bocah malah jadinya kita yang berantem sih wil"


"lah km yang mulai deh"


winda hanya terkekeh melihatnya


"woi jangan ketawa mulu. sekarang jujur deh ada apa sebenarnya" tanya mala ke winda


"lah ada apa sih, orang ndk ada apa apa?"


"udah deh ndk usah boong, kotak apa yang tadi pagi bagas berikan padamu yang membuatmu menunjukan muka aneh mu itu"


"mana kotaknya, jadi penasaran aku" ujar mala


"ya dikelas donk, ngpain aku bawa"


"ih nih anak, okey ntar ya pulang sekolah dirumah km harus kasih tau aku"


"loh kok gitu sih mal, aku juga pengen tahu juga kali."


"tenanh wil, nanti vc okey"


"apaan sih kalian berdua, kepo amat"


"winda?" ujar mereka bebarengan


"itu kan privasiku, nanti kalau aku udah siap buat cerita aku cerita kok."


"hem gitu ya sama aku" ujar mala pura pura ngambek

__ADS_1


"bukan begitu, aku masih mau memastikannya dulu okey"


"memastikan apa coba?" ujar wildan ndk sabar


"tenang aja, kalian ndk perlu khawatir seperti ini okey"


"ya udah deh, pokoknya kalau ada apa apa cerita okey ke kita ya kali aja bisa membantu"


"iya tentu, kalian kan sahabatku" ujar winda lalu merangkul keduanya.


"eh bentar lagi bel nih, aku lupa mau balikin buku ke perpus, aku duluan ya. moga nyampe. bye" mala pergi dengan cepatnya meninggalkan mereka berdua


"ya udah kalau memang itu keinginanmu. tapi ingat kapan pun kamu ingin cerita katakan ke kita ya jangan dipendam sendiri okey. ya udah yuks balik ke kelas"


"iya wil,thanks ya"


mereka pun berjalan bersama kembali ke kelas. di lorong kelas tak sengaja ada seorang siswi dengan buku ditangannya menyenggol wildan dan terjatuh sehingga buku berantakan di lantai.


"kalau jalan liat liat donk, jangn asal nubruk aja" ujar wildan ketus


"iya maaf" ujar siswi itu sambil membereskan bukunya


"apaan sih kamu wil, sopan dikit napa. bantu gih" bisik wildan


"malas, salah dia sendiri" lanjut wildan


"dasar" windapun membantu siswi itu.


"makasih ya, maaf juga. permisi" ujar siswi itu lalu bergegas pergi ke kelasnya


"kamu tuh ya, jadi orang tuh jangan songgong gitu. mana coba sifat ramah perhatianmu itu. jngan buat tembok lagi deh"


"iya iya maaf"


"bukan ke aku tau, tapi ke siswi tadi"


"iya nanti aku minta maaf"


"emang kamu tau dia anak kelas berapa?"


"tau. dia anak kelas X4. jadi udah ya, nanti pas makan siang aku minta maaf ke dia okey" ujar wildan lalu berlalu pergi


"dasar kulkas songong. pede amat dia. awas aja ya. hey tunggu" gerutu winda dan langsung mengejar wildan yang udah jalan jauh di depannya.

__ADS_1


......................


...🌹🌹🌹 Thanks for Reading 🌹🌹🌹...


__ADS_2