
...🌹🌹🌹 Welcome to Reading 🌹🌹🌹...
......................
di atap gedung sekolah
winda memandang langit biru yang begitu cerahnya seperti perasaannya saat ini melihat rencananya untuk mempersatuan angkatannya dan menghancurkan tembok pembatas itu akhirnya terwujud. dalam lamunannya ia mengingat kenangan selama mereka semua berjuangan untuk ini. tanpa disadari oleh winda seseorang menghampirinya dan duduk disampingnya.
"akhirnya impianmu terwujud juga" ujar seseorang itu menyadarkan winda dari lamunannya
"eh iya,...." jawab winda sedikit kaget saat mengetahui siapa yang ada di sampingnya
"tak sia sia perjuangan kita selama ini ya win, akhirnya tembok pembeda itu runtuh juga"
"iya ndri, terima kasih juga berkat bantuanmu akhir kesalah pahaman ini pun dapat terselesaikan. coba aja kamu tak berbicara tadi mungkin kebencian teman sekelasku bakalan memuncak" puji winda setelah mencoba menenangkan hatinya. dimana saat itu yang duduk di sampingnya adalah wildan namun ternyata andri, seseorang yang menatapnya lembut di aula tadi.
"tapi semua berawal dari kamu, kamu memang cewek yang sulit untuk ditebak. diawal pertemuanpun kamu dengan semngat yang luar biasa menyakinkan kami"
"itu sih mala bukan aku tahu"
mereka berdua mengobrol begitu santainya walau diawal kecanggungan itu muncul diantara mereka. dan tanpa diketahui mereka berdua, wildan sedang berada di belakang mereka, mendengar setiap candaan itu. rasa kesal itu muncul tiba tiba begitu saja tap wildan coba menahan nya dan mendengarkan apa yang dibicarakan. mala pun menghampiri wildan setelah ia berkeliling sekolah akhirnya mala menemukan mereka.
"kan aku udah pernah bilang, bersikaplah layaknya sahabat, jangan sampai kamu kekang dia dengan perasaan dan egomu" ujar mala di samping wildan mengagetkannya
"wajar donk, dan aku ndk pernah kekang dia ya"
"aku tahu itu, tapi winda baru pertama kali membuka perasaannya pada cowok jadi bersikaplah seperti sahabat jangan overprotektif okey. sebagai sahabat aku tak ingin ada yang terluka diantara kalian okey"
"tapi...."
"udah, biarkan mereka berdua. kasih ruang bro. winda tahu ke siapa perasaan itu okey. lapar nih, mending temenin sahabatmu ini ke kantin" paksa mala
merekapun pergi ke kantin meninggalkan mereka berdua. dalam hati mala, berharap winda dapat menyelesaikan ini karena hanya hatinya lah yang dapat memutuskannya. mala menarik wildan pergi dari situ
......................
di taman belakang sekolah
"kenapa kamu membawaku ke sini" tanya wildan
"aku pengen ngomong ma kamu, bisa kan ndk usah sejutek dan dingin kayak gitu" tegur mala karena melihat sikap dingin itu masih melekat pada wildan
"ya udah apa"
__ADS_1
"apa sih yang membuatmu suka ma winda"
"apa perlu alasan aku menyukainya"
"okey, aku akan kasih tau kamu satu hal. jadi dengarkan dan pikirkan itu baik baik"
"hmmm"
"kamu dan winda saat ini mungkin akan dihadapi sebuah permasalahan ikatan hubungan antara laki laki dan perempuan"
"maksudnya"
"makanya dengerin dulu, dari pandanganku saat ini kalian terjebak dalam hubungan segi empat. dimana mungkin kamu dan winda lah yang bisa mutusin"
"maksud kamu apa ya, mutusin apa"
"tanpa kalian sadari kalian berdua sudah masuk ke dalam perasaan seseorang. dan kalian pada satu sisi menganggap perasaan nyaman dan kagum satu sama lain menjadi perasaan tersendiri yang sulit diartikan yang bisa dikatakan kalian artikan itu cinta. tapi kalian tak pernah sadar sekitar kalian"
"aku ndk ngerti maksudmu"
"dari awal aku meminta kalian untuk pastiin itu dan membalutnya dalam persahabatan kita. tapi kalian malah menutup mata kaliam dan fokus satu sama lain."
"kamu tuh kalau ngomong langsung ke intinya bisa kan"
"siapa"
"aku ndk bisa kasih tau, hanya kalian yang bisa tau itu. dan aku yakin kamu cukup dewasa dibandingkan aku maupun winda, jadi coba bukalah matamu liat sekitarmu, aku sebagai sahabatmu akan mendukung apa pilihanmu. dan perasaanmu ke winda bagiku hanya perasaan nyaman sama seperti perasaanku ke winda. jadi pastikan perasaanmu itu, keputusanmu bisa mempengaruhi perasaan lainnya baik winda atau lainnya" jelas mala panjang lebar membuat wildan berpikir. mala meninggalkan wildan yang terdiam dalam lamunannya.
masih terdiam wildan di tempat itu. dicobanya ia mengingat kapan ia mulai merasakan itu. memikirkannya sambil masih teriang iang kata kata mala bahwa keputusanku bisa menyelesaikannya tinggal mana yang akan dipilih.
mala yang pergi meninggalkan wildan, kembali menuju atap gedung. ia ingin melihat apa mereka masih disana. sesampainya di atap, hanya ada winda sahabatnya. dihampirinya sahabatnya itu. dengan sentuhan lembut, winda menengok dengan seuntas senyuman hangat itu.
"ngapain kamu disini, sendirian pula"
"ndk kok, tadi aku ditemanin andri"
"ngapain disini coba, mau bunuh diri kau"
"apaan sih, negatif aja pikiranmu. aku cuma mau menikmati langin disini. akhirnya apa yang kita rencanakan tercapai ya, terima kasih, berkat kalian semua ini bisa tercapai"
"hmmm, baru kali ini aku semngat belajar, biasanya game dan main aja deh aku"
"dasar pengila game"
__ADS_1
"biarin donk"
"ya dah terserah, tapi sekali lagi makasih ya"
"hmmm, oh ya katamu andri disini. mana dia?"
"oh dia tadi mau ke perpus sih katanya"
"hmmm, ada hubungan apa kamu ma andri, dekat banget ya kalian"
"apaan sih, ndk ada hubungan apa apa kok, kan emang andri dekat ke semuanya"
"iya tapi ndk se....." mala menutup mulutnya, hampir aja ia kelepasan
"ndk kenapa toh mal"
"ndk apa kok, gimana kamu dengan wildan"
"dasar ya ngalihin pembicaraan. aku ma wildan baik baik aja kok, ya seperti biasa"
"kami beneran cinta ma wildan win"
"hmmm...."
"kenapa kok ndk jawab"
"aku ndk tau ini cinta apa bukan tapi aku nyaman sama dia mal"
"perasaan nyaman itu tidak hanya cinta win, jangan sampai kamu salah artikan itu dan kamu kasih harapan lebih ke dia. dan jngan sampai kedua sahabatku ini malah saling menyakiti loh"
"hmmmm"
"jangan gitu doang donk jawabnya, pokoknya kalian kalau ada apa apa cerita okey, jangan pernah rahasiakan itu ke aku okey"
mereka pun menikmati langit biru itu, memandang luas angkasa di hadapan mata. dalam lamunannya winda senejak berpikir apakah ia harus ceritakan ini pada mala. keraguan itu ada karena sebenarnya winda masih ingin mencerna apa yang terjadi saat ini. pikiran itu semakin membebani winda terlebih pertanyaan mala terkait perasaan nyaman itu. seakan mala udah tahu ini bakal terjadi, tapi winda masih ragu untuk mengatakannya ia ingin memastikan itu sebelum ia cerita ke mala soal hal ini.
hari yang berat itu berlalu, bel pulang sekolah tiba. suasana pun sedikit berubah dimana sekarang kita sudah berbaur tanpa ada kelas kelas tersendiri. kecanggungan winda wildan dan andri masih terlihat dikala mereka berpapasan di lorong kelas. mala menyadari itu segera mencairkan suasana canggung itu dengan tingkah usilnya yang menyeret helen masuk ke dalamnya sehingga suasana hangat itu muncul kembali.
mereka berlima berjalan beriringan melewati lorong sekolah. dari kejauhan nampak sepasang mata melihat ke arah mereka. mata yang menatap penuh dengan amarah dan kekesalan melihat hal itu, dimana kelimanya tak menyadari tatapan menusuk itu.
awal kisah itu mulai terbuka, ketakutan mala ini apakah akan terjadi? sejenak mala dalam sikap cerianya selama ini memperhatikan dalam diamnya dan acuhnya. mengawasi dari kejauhan sahabatnya itu. perasaan was was seorang sahabat itu ada. bagaimana apakah yang mala khawatirkan akan terjadi?
......................
__ADS_1
...🌹🌹🌹 Thanks for Reading 🌹🌹🌹...