
...🌹🌹🌹 WELCOME TO READ 🌹🌹🌹...
......................
Hari itu jam kosong untuk semua murid dikarenakan adanya rapat dewan sekolah dengan para guru. murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. ada yang ke kantin, perpus, taman sekolah dan ada juga yang bermain basket di lapangan serta ada beberapa yang bersenda gurau dikelas mereka. tapi ini semua ndk berlaku untuk sebagian kelas terutama kelas unggulan. Yups, sebagian besar muridnya masih asyik berkutat dengan buku dan beberapa ngobrol masalah universitaa. obrolan yang mungkin membosankan bagi sebagian murid dan Winda salah satunya. ditengah kebosanannya mendengarkan obrolan kawan sekelasnya tiba-tiba seseorang masuk dan menghampirinya. seseorang itu adalah santi kawan kelas Mala dan Helen.
"hay win, halo semua" sapa santi dengan cerianya.
kedatangan santi ke kelas winda membuat beberapa siswa laki-laki disan terpukai dengannya. bagaimana tidak, perawakan gadis imut dengan rambut bergelombang warna hitam legam terurai lembut dengan kulit putih langsat serta bibir merah tanpa perona membuat siapa aja terpukau melihatnya. walaupun demikian santi selalu santai dan ramah sehingga ia banyak memiliki teman.
"hay juga san, kenapa? tumben kamu kesini sendiri, mana Mala ma Helen?" tanya winda memecah kekaguman kawan-kawannya.
"oh mereka lagi di lapangan, ngeliatin anak-anak main basket ma kakak kelas"
"oh, terus kenapa kamu kesini?"
"mau ngajakin kamu ma wildan keluar juga ikut gabung, gimana wil mau ndk ikut gabung, mungkin kamu mau main juga" tanya Santi dengan santai dan ramah ke wildan membuat seisi kelas tertegun dan heran. mana ada dari mereka semua yang berani negur wildan kecuali winda, mereka tau betapa jitek dan ketusnya wildan setiap menjawab pertanyaan maupun sapaan mereka.
"boleh" jawab wildan dingin. dan membuat seketika seluruh kelas tertegun bahwa orang sejutek dan sedingin dia mau menanggapi ajakan itu, biasanya dia langsung pergi saja dalam menolak ajakannya
"baiklah ayo," ujar santi sambil menggandengan tangan wildan keluar kelas. melihat hal itu membuat semuanya tambah tertegun tak terkecuali winda. winda aja kemarin ngajak wildan perlu alibi sedangkan ini santi dengan santainya mengandeng wildan didepan kawan kelasnya.
"ayok win, kok malah bengong sih" tegur santi di ambang pintu membuyarkan lamunannya
"eh iya san" jawab winda dan berjalan beriringan dengan santi dan wildan.
semua siswa dikelas memandang kepergian mereka dengan berbagai macam pertanyaan dan pendapat apakah wildan bisa menerima ajakan seperti itu. berbagai macam pemikiran berseliweran di kepala mereka sekaligus membuat beberpa siswa laki-laki disana terkagum dengan sosok santi yang bisa mencairkan si manusia kutub kelas selama ini.
sesampainya di lapangan, kedatangan mereka bertiga membuat kawan kelas X5 terkaget-kaget terutama Mala dan Helen dimana santi menggandeng lembut wildan. Mala dan Helen hanya saling pandang dengan berbagai pertanyaan dikepalanya
"eh santi winda, wildan ayok sini" tegur Bagas
__ADS_1
"wil, mai ikut gabung main basket" ajak Andri.
wildan hnya diam dan berjalan ke lapangan basket.
"ngapain diam aja, katanya mau main basket" ujar wildan dingin
"okey, ayok bagi team" ujar Andri
"dasar kulkas tetap aja kulkas kirain dah berubah" ujar Helen setelah melihat tingkah wildan itu
"iya, emang kulkas, susah hangatnya" lanjut mala
"apaan sih,udah kita nikmati aja" kata santi sambil tersenyum memandang ke arah wildan
" eist bentar deh, san ada apa nih? hayo loh, jngan-jngan kamu suka ya sama wildan" tebak Helen
"apaan sih" jawab santi malu-malu
"udah-udah mending nonton aja selagi free kelas nih" jawab santi dengan muka merahnya.
hal itu semakin membuat mala dan helen menggodanya. winda hanya mendengarkan percakapan mereka sambil sesekali melihat pertandingan.
selama pertandingan, winda memikirkan perkataan mereka tadi, dan bertanya apa benar santi menyukai wildan. ada sedikit rasa kesal muncul tapi winda ndk tau apa itu. winda sadar itu hak santi menyukai siapapun tapi ia hanya heran kenapa ia kesal mendengarnya. dalam pikiran winda, mungkin ini membuatnya cemburu, ia yang sudah mengenal wildan selama ini perlu alibi untuk mengajaknya tapi santi dengan jujurnya dapat dengan mudah mengajak wildan. ya mungkin hanya sebatas itu aja, dlam pikiram winda.
mereka semua mengagumi gaya permainan basket wildan yang luar biasa, santai tapi serangan - serangannya sungguh mematikan. winda kaget melihat nya juga. seseorang yang dingin yang terbiasa ia lihat menciptakan tembok pembatas kesendiriannya kini dengan mudahnya berbaur dalm tim dan menciptakan kombinasi penyerangan dalam tim yang luar biasa.
selesai permainan, mereka duduk bersama - sama di tepi lapangan melihat kawan yang lain bergantian bermain basket
"wah luar biasa kamu wildan, ndk nyangka kulkas kayak kamu gini bisa main dalam tim juga" ujar helen tanpa bersalah
"apa kulkas?" kata wildan yang membuat helen terdiam dan menyadari perkataannya tadi
__ADS_1
"bukan gitu maksudnya...."jawab helen terbata-bata
"emang kulkas kok, ngapain marah" ujar winda dengan santainya. wildan memandang tajam winda
"ndk terima, makanya jangan ketus dan dingin lagi. coba kayak dilapangan tadi, kan ndk mungkin helen dan mungkin lainnya ngatain kamu kulkas" lanjut winda
"apa?" tanya wildan menahan marah
"udah-udah, kok malah berantem gini sih, mereka kan cuma becanda mungkin wil, udah biasa gitu becandanya, sabar ya jngan emosi" ujar santi menenangkan wildan sambil mengelus tangan wildan.
melihat hal itu membuat winda semakin kesal dan tidak tahan disitu, akhirnya tanpa ngomong apapun ia meninggalkan lapangan.
"eh win, mau kemana tuh anak" ujar Bagas
"biarin aja, dia lagi kesel kayaknya biasalah cewek" ujar mala. mala tahu sahabatnya itu kesel akan tingkah santi ke wildan tapi ia berusaha membuat suasananya tidak tambah panas dan mungkin dengan winda pergi itu dapat menenangkan sahabatnya
"beneran ndk apa mal" ujar andri sedikit khawatir
"ndk apa, dia mungkin kekantin nyari cemilan biar ndk tambah kesel aja" jawab mala menenangkan semuanya.
sebenarnya dalam pikiran wildan heran melihat tingkah winda sekarang. winda yang blak-blakan dan menunjukan kekesalannya itu sedikit membuatnya khawatir terlebih lagi ia pergi dari situ. apa sikap dingin dan ketusnya ini sudah keterlaluan ya. berbagai kecambuk pemikiran itu muncul dalm benak wildan.
kekhawatiran akan sikap winda juga dirasakan kawan lainnya disana tapi mereka juga bingung mau bagaimana. perkataan mala yang meminta mereka membiarkannya itu membuat mereka tambah bingung dan mungkin membiarkannya sendiri itu yang terbaik.
dilain sisi, winda pergi ke kantin untuk membeli cemilan. seperti kebiasaan, dikala kesal winda melampiaskannya ke makanan ataupun cemilan. winda bingung kenapa ia bisa sekesal ini, seperti ia ndk mengenali dirinya saat ini. tak tahu apa alasannya. tapi winda tak mau terlalu memikirkannya. setelah membeli cemilan ia menuju ke kelasnya untuk meredakan kesalnya. ia takut jika kembali ke lapangan kekesalan dengan wildan semakin memuncak.
......................
...**Happy Reading Everyone...
...Semoga Suka dengan Ceritanya...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹LOVE EVERYONE🌹🌹🌹🌹**...