Maafkan Aku

Maafkan Aku
Sejenak Break Dulu (Puisi Chairil Anwar)


__ADS_3

- Aku Berkaca -


Ini muka penuh luka


Siapa punya?


Ku dengar seru menderu


Dalam hatiku


Apa hanya angin lalu?


Lagi lain pula


Menggelepar tengah malam buta


Ah..!!!


Segala menebal, segala mengental


Segala tak ku kenal..!!!


Selamat tinggal…!!


- AKU -


Kalau sampai waktuku


Aku mau tak seorang kan merayu


Tidak juga kau


Tak perlu sedan itu


Aku ini binatang jalang


Dari kumpulannya terbuang


Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang menerjang


Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari


Hingga hilang pedih peri


Dan aku akan lebih tidak peduli


Aku mau hidup seribu tahun lagi


- Doa -


Kepada pemeluk teguh


Tuhanku


Dalam termangu


Aku masih menyebut namamu


Biar susah sungguh


Mengingat Kau penuh seluruh


Cahaya Mu panas suci


Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi


Tuhanku


Aku hilang bentuk remuk


Tuhanku


Aku mengembara di negeri asing


Tuhanku


Di pintu Mu aku bisa mengetuk


Aku tidak bisa berpaling


- Yang Terhempas dan Yang Putus


Kelam dan angin lalu mempesiang diriku


Menggigir juga ruang di mana dia yang ku ingin


Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu


Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin


Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang


Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu


Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang


Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku


Sepi


Tambah ini menanti jadi mencekik


Memberat mencekung punda


Sampai binasa segala. Belum apa-apa


Udara bertuba. Setan bertampik


Ini sepi terus ada. Dan menanti


- Maju -


Bagimu negeri


Menyediakan api


Punah di atas menghamba


Binasa di atas ditindas


Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai


Jika hidup harus merasai


Maju


Serbu


Serang


Terjang


- Kepada Kawan -


Sebelum ajal mendekat dan menghianat


Mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat


Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa


Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada


Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam


Layar merah berkibar hilang dalam kelam


Kawan, mari kita putuskan kini di sini


Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri


Jadi


Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan


Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

__ADS_1


Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu


Pilih kuda yang paling liar, pacu laju


Jangan tembatkan pada siang dan malam


Dan


Hancurkan lagi apa yang kau perbuat


Hilang sonder pusaka, sonder kerabat


Tidak minta ampun atas segala dosa


Tidak memberi pamit siapa saja


Jadi


Mari kita putuskan sekali lagi


Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi


Sekali lagi kawan, sebaris lagi


Tikamkan pedangmu hingga ke hulu


Pada siapa yang mengairi kemurnian madu..!!


- Senja di Pelabuhan Kecil -


Ini kali tidak ada yang mencari cinta


Di antara gudang, rumah tua, pada cerita


Tiang serta temali


Kapal, perahu tiada berlaut


Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut


Gerimis mempercepat kelam


Ada juga kelepak elang menyinggung muram


Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan


Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak


Tiada lagi. Aku sendirian.


Berjalan menyisir semenanjung


Masih pengap harap


Sekali tiba di ujung


Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat


Sedu penghabisan bisa terdekap


- Sebuah Kamar -


Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia


Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu


Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu


Ibuku tertidur dalam tersedu


Keramaian penjara sepi selalu


Bapak ku sendiri terbaring jemu


Matanya menatap orang tersalib di batu


Sekeliling dunia bunuh diri


Aku minta adik lagi pada Ibu dan Bapak ku


Karena mereka berada di luar hitungan


- Rumahku -


Rumah ku dari unggun timbun sajak


Kaca jernih dari luar segala nampak


Ku lari dari gedong lebar halaman


Aku tersesat tak dapat jalan


Kemah ku dirikan ketika senja kala


Di pagi terbang entah ke mana


Rumah ku dari unggun timbun sajak


Di sini aku berbini dan beranak


Rasanya lama lagi


Tapi datangnya datang


Aku tidak lagi meraih petang


Biar berleleran kata manis madu


Jika menagih yang satu


- Sajak Putih -


Bersandar pada tari warna pelangi


Kau depanku bertudung sutra senja


Di hitam matamu kembang mawar dan melati


Harum rambutmu mengalun bergelut senda


Sepi menyanyi


Malam dalam mendoa tiba


Meriak muka air kolam jiwa


Dan dalam dadaku memerdu jiwa


Dan dalam dadaku memerdu lagu


Menarik menari seluruh aku


Hidup dari hidupku, pintu terbuka


Selama matamu bagiku menengadah


Selama kau darah mengalir dari luka


Antara kita mati datang tidak membelah


- Tak Sepadan -


Aku kira


Beginilah nanti jadinya


Kau kwin, beranak dan berbahagia


Sedang aku mengembara seupa Ahasveros


Dikutuk-sumpahi Eros


Aku merangkai dinding buta


Tak satu juga pintu terbuka


Jadi baik juga kita padami


Unggunan api ini

__ADS_1


Karena kau tidak kan apa-apa


Aku terperangkap tinggal rangka


- Cintaku Jauh di Pulau -


Cintaku jauh dipulau,


Gadis manis, sekarang iseng sendiri


Perahu melancar, bulan melancar


Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar


Angin membantu, laut terang tapi terasa


Aku tidak kan sampai padanya


Di air yang tenang, di angin mendayu


Di perasaan penghabisan segala melaju


Ajak bertakhta, sambil berkata:


“tunjukkan perahu ke pangkuanku saja,”


Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!


Perahu yang bersama kan merapuh!


Mengapa ajal memanggil dulu


Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku!


Manisku jauh dipulau,


Kalau kumati, dia mati iseng sendiri


- Cinta dan Benci -


Aku tidak pernah mengerti


Banyak orang menghembuskan cinta dan benci


Dalam satu napas


Tapi sekarang aku tahu


Bahwa cinta dan benci adalah saudara


Yang membodohi kita, memisahkan kita


Sekarang aku tahu bahwa


Cinta harus siap merasakan sakit


Cinta harus siap kehilangan


Cinta harus siap untuk terluka


Cinta harus siap untuk membenci


Karena itu hanya cinta yang sungguh-sungguh mengizinkan kita


Untuk mengatur semua emosi dalam perasaan


Setiap emosi jatuh….. keluarlah cinta


Sekarang aku mengetahui


Implikasi dari cinta


Cinta tidak berasal dari hati


Tapi cinta berasal dari jiwa


Dan zat dasar manusia


Ya, aku senang telah mencintai


Karena dengan melakukan itu aku merasa hidup


Dan tidak ada orang yang dapat merebutnya dariku


- Selamat Tinggal -


Ini muka penuh luka


Siapa punya?


Kudengar seru menderu


Dalam hatiku


Apa hanya angin lalu?


Lagi lain pula


Menggelepar tengah malam buta


Ah..!!!


Segala menebal, segala mengenta;


Segala tak kukenal..!!


Selamat tinggal..!!


- Derai -  Derai Cemara -


Cemara menderai sampai jauh


Terasa hari akan jadi malam


Ada beberapa dahan ditingkap merapuh


Dipukul angin yang terpendam


Aku sekarang orangnya bisa tahan


Sudah berapa waktu bukan kanak lagi


Tapi dulu memang ada suatu bahan


Yang bukan dasar perhitungan kini


Hidup hanya menunda kekalahan


Tambah terasing dari cinta sekolah rendah


Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan


Sebelum pada akhirnya kita menyerah


- Kawanku dan Aku -


Kami sama pejalan larut


Menembus kabut


Hujan mengucur badan


Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan


Darahku mengental pekat.


Aku tumpat pedat


Siapa berkata-kata…?


Kawanku hanya rangka saja


Karena dera mengelucak tenaga


Dia bertanya jam berapa?


Sudah larut sekali


Hilang tenggelam segala makna

__ADS_1


Dan gerak tak punya arti


__ADS_2