Maafkan Aku

Maafkan Aku
036


__ADS_3

...🌹🌹🌹 Welcome to Reading 🌹🌹🌹...


pulang sekolah tiba, rasa kecewa itu masih dirasa oleh winda. dengan lesu ia merapikan peralatan sekolahnya. tanpa ia sadaru dari luar kelas dari kejauhan ada yang mengamatinya. wildan yang berada di samping winda mengetahui sahabatnya ada masalah tak berani bertanya karena ia tahu sahabatnya belum bisa cerita kepadanya. sekilas wildan mengetahui ada yang mengamati winda dan ia tau siapa orangnya. wildan yang tak ingin membuat winda sedih lagi langsung menarik tangan winda setelah ia selesai beberes


"wil, kenapa sih? lepasin ndk"


"udah kamu ikut aja okey"


winda tak bisa menolak tarikan itu. diikutinya kemana wildan membawanya. sambil menarik tangan winda, ia mengetik sebuah pesan ke seseorang.


sesampainya di parkiran ia segera mengajak winda ke suatu tempat. sesampainya di tempat itu sedikit membuat winda terkejut. sebuah taman kota di dekat komplek sekolah yang belum pernah ia datangi selama ini. taman yang sejuk di tengah hiruk pikuk kota. wildan mengajak winda ke tengah taman yang ada air mancur kecil. sesampainya disana wildan mengajaknya duduk seraya berkata


"lepaskan bebanmu jangan kamu pendam sendiri"


mendengar hal itu membuat winda memandang ke arahnya


"aku tahu kamu sedang tidak baik sekarang, tapi apa kamu ingay, dulu kamu bilang padaku katakan apa aja yang membuatmu sulit pada seseorang dan jangan pendam sendiri itu akan menyakiti dirimu sendiri nantinya, apa kamu ingat"


mendengar itu membuat winda menunduk karena tau sekarang dia tak melakukan apa yang ia katakan dulu.


"kalau memang kamu belum mau cerita kesiapapun aku tak akan memaksa, tapi jangan begini"


"maaf"


"aku tak butuh kata maaf itu, tapi kapan kamu bisa terbuka ke orang lain sama kayak aku sekarang mencoba terbuka ma kamu juga tapi kamu malah menutup itu"


"maaf"


"oh jadi kamu ada masalah dan ndk mau cerita gitu" ujar seseorang membuat mereka seketika menengok dari sumber suara


"mala?"


"udaj cukup, sekarang aku tanya, kamu nganggep aku ataupun wildan sahabat ndk sih"


"kalian berdua sahabatku kok"


"terus kenapa kamu seperti ini, kamu ingat kan aku selalu cerita apapun ke kamu dan mungkin semua ceritaku malahan ndk penting tapi aku selalu cerita kan"


"iya maaf"


"jadi mau terbuka ma kami"


karena merasa bersalah dengan keduanya, windapun mencoba terbuka. diceritakannya apa yang ia alami saat ini termassuk ke kecewaannya tadi yang sampai ia melupakan makan siangnya.


"dan untung tadi ada roti dari andri yang sedikit menganjal laparku"


"wah, ndk bisq dibiarkan ini. aku harus cari tau siapa dia"

__ADS_1


"ndk usah mala, kata mas ferdy mungkin dia belum siap untuk jujur ke aku. aku akan menunggu dia jujur"


"iya tapi sampai kapan kalian cuma lewat surat gini deh"


"apa kamu suka dia?" sebuah pertanyaan yang mengejutkan terlontar dari bibir wildan membuat mala dan terlebih winda terkejut


"maksud kamu apa sih nanya gitu ke winda, kamu cemburu"


"aku ndk cemburu, tapi apa kamu udah mulai ada rasa dengan pengirim itu setelah selama ini kalian saling tukar surat"


"aku ndk tahu itu, tapi aku nyaman dan bahagia setiap mendapat balasan surat darinya"


"jadi apa kamu suka dengannya"


mala yang mendengar pertanyaan wildan yang dijawab seperti itupun juga mulai mempertanyakannya. hal itu membuat kebimbangan dalam hati winda


"mungkin aku rasa perasaan itu mulai ada padamu win, tapi apa kamu siap menerima sosok orang itu mungkin tak sesuai perkiraanmu sebelumnya. dan menurutku ia pengecut kalau seperti ini"


"bukan begitu wil, dia cuma....."


"sudahlah, kalau gini malah kalian berdua yang bertengkar tanpa ada penyelesaian nantinya. benar kata winda wil, kasih ia waktu untuk jujur tapi kita juga harus mulai mencarip tahu siapa dia, iya ndk"


"terserah kalian dah" wildan pun pergi dari situ


"apa wildan kecewa denganku?"


"ndk kok, kan beda pendapat itu selalu ada. sama kayak kita dopnk, mungkin kita berdua sependapat dan wildan di sisi lain, ntar coba aku yang ngomong deh"


setelah itu mala mengantar winda kembali ke rumahnya. setelah itu ia menghubungi wildan untuk mengajaknya ketemuan sore itu.


di sebuah kafe


wildan sudah duduk di sana menunggu mala. setelah beberapa menit menunggu mala pun tiba dan menghampirinya.


"udah jam berapa ini? kenapa baru datang"


"kenapa sih marah marah, orang baru telat 5 menit juga"


"lima menit tetap waktu kan, bisa ndk tepat waktu dikit"


"ya elah kulkas, santai dikit kenapa sih"


"kamu ya...."


"udah darip pada ribut mulu, maaf deh aku telat okey. jadi langsung ke intinya aja, kenapa kamu tadi kayak gitu"


"kayak gitu kenapa"

__ADS_1


"ngotot buat dia jujur ke winda, emang kamu tau siapa dia, perkataanmu tadi seolah kamu tau siapa dia"


"sok tau, tapi benerkan dia pengecut, jujur kan bisa"


"ndk semua orang itu berani ngungkapin kayak kamu tau, mereka pasti ada alasan kenapa menyimpannya"


"masak" sambil menatap tajam mata mala


"iya, dasar kulkas" sambil dibalas tatapan tajam


merekapun saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat. tak tahu apa yang terjadi detak jantung yang mala rasakan seperti berdetak 2 kali lebih cepat membuatnya sedikit memerah di wajahnya


"kenapa muka kamu merah begitu, takut kamu sama kulkas" ucapqn itu membuat mala sedikit kesal


"siapa juga yang takut hah, bisa kan ndk usah keras kepala gitu. kasih ruang buat winda dan bantu ia cari tau siapa orang itu. bisa kan"


"ya dah terserah, malas debat ma kamu dasar burung pipit yang cerewet"


"apa kamu bilang burung pipit cerewet, dasar kulkas"


mereka berdua pun saling ejek dan mala memukul lengan wildan tanpa henti


"udah udah cukup, sakit tau ndk burung pipit"


"bodoh biarin, dasar kulkas"


"udah ah laper, pesen makan aja deh"


"aku juga ya, traktir ya"


"dasar"


merekapun memesan makanan dan sambil memikirkan cara membantu winda. sebenarnya wildan ingin memberi tahu mala siapa orang itu tapi mungkin ini bukan waktunya, lebih baik ia ikuti aja rencana mala yang berusaha menemukan siapa dia.


makananpun tiba, mala memakan dengan lahapnya. mwlihat mala yang lahap dengan makanannya membuat wildan tersenyum tanpa ia sadari. ketika ia menyadarinya ia lalu mengalihkan pikirannya dan fokus ke makanannya. setelah makan wildan mengantar mala ke rumah dan ia pun pergi kembali ke rumahnya.


sesampainya di rumah, wulan adek wildan sedang membaca novel di ruang tv. menyadari kakaknya telah pulang wulan segera menghampirinya


"kak, tadi kak andri ke sini nyari kakak tapi kakak lagi keluar tadi"


"terus ia kemana"


"barusan aja pulang kak, sekitar 10 menit yang lalu. ia nitip surat ini ke kakak nih" ujarnya sambil memberikan surat itu lalu ia pergi ke kamarnya


wildan menerima surat itu segera membuka surat tersebut. dengan seksama wildan membacanya. setelah membaca surat itu sedikit raut muka kesal tersirat di mimik mukannya


"kenapa sih dia, jujur aja kenapa sih, takut apa coba? nih anak ya. tunggu aja besok" dengan kesalnya ia memasukkan kembali surat itu dan berjalan menuju kamarnya. direbahkannya tubuh di kasur. dipandangnya langit langit kamarnya dan tiba tiba muncul muka mala yang sedang menikmati makanan dengan lahapnya. hal itu membuatnya sedikit terkejut dan segera ia bangkit dari tempat tidur

__ADS_1


"kenapa muncul muka dia sih, ada apa denganmu wildan. mending mandi deh, abis itu tidur, mungkin lelah" ucapnya pada diri sendiri.


...🌹🌹🌹 Happy Reading Everyone 🌹🌹🌹...


__ADS_2