
...🌹🌹🌹 Welcome to Reading 🌹🌹🌹...
saat pulang sekolah
Winda dan Wildan berjalan berdampingan menyusuri lorong kelas. karena udah janjian untuk pulang bareng
mala, mereka menuju kelas mala. dari kejauhan nampak Andri keluar kelas dan disana sudah ada Nabila yang menunggunya. Andri segera menghampirinya dan mereka jalan beriringan terlihat begitu mesra. melihat itu, ada rasa sakit yang dirasakan oleh Winda tapi tak tahu apa, ingin rasanya ia menangis tapi mencoba menahannya. Wildan menyadari hal itu lalu menepuk pelan pundak winda mencoba menenangkan. Winda menengok kearah wildan sambil tersenyum, namun air matanya tak tertahankan dan akhirnya jatuh tanpa ia sadari. melihat hal itu wildan hanya terdiam bingung tak tahu apa yang harus ia perbuat. ingin sekali ia memeluk winda untuk menenangkan winda tapi itu tak mungkin ia lakukan karena pasti akan heboh di sekolah besok. wildan pun hanya menepuk lembut kini yang wildan perbuat sambil menunggu mala keluar dari kelasnya dan menghampiri mereka. tak lama, mala keluar kelas. dan betapa terkejutnya ia melihat sahabatnya menunduk sambil menangis di samping wildan yang mencoba menenangkan. dihampirinya mereka berdua. dan melihat sahabatnya membuat winda langsung memeluk mala dan tenggelam dalam pelukan mala dengan tangis lirih. mala yang bingung memberi kode ke wildan menanyakan apa yang terjadi. wildan hanya diam dan mengisyaratkan untuk membawa winda pergi dari situ terlebih dahulu untuk mengindari pandangan yang teman lainnya.
mereka bertiga pun tak jadi pulang dan langsung menuju atap gedung sekolah. disana tangis winda semakin menjadi. dan membuat mala serta wildan kebingungan dan hanya diam. mala dan wildan hanya saling pandang melihat winda yang terduduk dilantai dengan tangisnya. mereka hanya mendiamkan karena mereka tahu winda sedang mencoba menenangkan hatinya. walaupun terkenal cerewet, mala terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada sahabatnya sekarang ini. setahunya sahabatnya ini tidak pernah menangis, terakhir kali winda menangis saat mereka berdua harus pisah sekolah. sahabatnya ini jarang sekali menangis depan nya. setelah tenang mala menghampiri winda yang terduduk. dirangkulnya sahabatnya itu. winda memandang ke arah sahabatnya. wildan menghampiri dan duduk di samping mala.
"kamu kenapa win?"
"ndk tau mal, sakit aja dada ini?"
"lah iya tapi kenapa?"
"dia gitu saat liat andri sama nabila tadi" ujar wildan datar dan membuat mala langsung menengok ke arah wildan dan langsung menatap kembali winda sesaat kemudian
"apa benar yang diomongin wildan?" winda hanya mengangguk
"kamu suka sama andri?"
" aku ndk tau mal. tiba-tiba aja air mata ini menetes"
"terus kamu dengan pengagummu itu bagaimana?"
"aku......"
__ADS_1
"kamu harus tegas sekarang, kalau memang kamu suka ma andri, jangan kasih harapan pada pengagummu itu"
"terus aku harus bagaimana?"
"kamu tulis surat ke dia, bilang ada seseorang yang udah kamu sukai"
"kamu yakin?"
"tentu donk, kita akan bantu kamu supaya bisa jujur dengan andri. ya kan wil?"
wildan sebenarnya ingin bilang pada winda bahwa seseorang yang selama ini mengirimkan surat padanya adalah orang yang sama dengan yang dia suka sekarang. tapi wildan dah janji dengan andri kalau ia akan menunggu andri jujur pada winda. melihat wildan yang bengong dengan pikirannya sendiri membuat mala sedikit kesal dan memukul keras lengan wildan yang membuat wildan sedikit merintih kesakitan memegang lengannya.
"apaan sih, main pukul aja"
"salah siapa diajak ngomong malah bengong, kenapa nih? ndk terima winda ma andri"
"apaan sih, bukan gitu. aku masih aja bingung, kenapa kamu bisa suka dengan andri karena setahuku kamu jarang ngobrol dengannya, ya ndk mal?"
"sebenarnya......"
"ada yang kamu sembunyikan dariku ya win?"
"maaf"
"udah, coba kamu ceritakan."
--flashback--
__ADS_1
winda pun mulai bercerita tatkala ia sedang pergi ke supermarket karena diminta tolong oleh abangnya untuk belanja. di tengah jalan ada segerombolan laki-laki dengan pakaian sangarnya. winda pun mempercepat langkahnya. tak abis kira, mereka mendekat kearah winda yang berjalan. tiba-tiba salah satunya mencengkeram lengan winda. winda berusaha melepaskannya tapi tenaganya kalah kuat dengan mereka. winda mencoba berteriak tapi semua sia-sia karena saat itu suasana jalan disana sedang sepi. winda mulai meneteskan air mata dan berusaha melepaskannya. winda pasrah apa yang akan terjadi nantinya. tiba-tiba seseorang datang menolongnya dan segerombolan itu pun pergi meninggalkan winda yang menangis sambil memeluk kedua lututnya terduduk di trotoar. seseorang itu lalu jongkok dihadap winda.
"kamu ndk apa?"
mendengar suara itu membuat winda mengangkat kepalanya dan menatap orang yang menolongnya.
"winda, kamu...." ucapnya kaget melihat siapa yang dibantunya dan sebelum ia selesai mengatakannya winda sudah memeluknya dan karena belum siap dengan apa yang akan terjadi akhirnya ia pun terduduk sambil dibalasnya pelukan winda dan mencoba menenangkannya.
"sudah ndk apa, kamu ndk perlu nangis lagi, ada aku disini" ucapnya sambil mengusap lembut punggung winda menenangkan
setelah mulai tenang winda melepas pelukan itu.
"makasih kamu udah menolongku dan maaf udah memelukmu tanpa izin, andri"
"ndk apa santai aja, itu udah kewajibanku menolong orang yang dalam bahaya, dan kebetulan aku lewat sini. emangnya kamu mau kemana?"
"aku disuruh abang buat beli di supermarket dan kebetulan supermarket dekat rumah tutup jadi aku mau ke supermarket depan tapi dijalan malah ketemu dengan mereka."
"ya udah, mau aku temani sekalian aku juga mau kesana"
"boleh kalau tidak merepotkanmu"
mereka pun berjalan diiringi dengan canda gurau. nyaman rasanya winda didekat andri begitu sebaliknya. winda merasa aman sekarang. setelah dari supermarket mereka ngobrol di depan supermarket sambil menikmati roti dan es krim. setelah itu, andri mengantar winda kerumah.
--flashback off--
mala dan wildan mendengarkan dengan seksama. dan mereka sadar berkat rasa nyaman dan aman itu tanpa diketahui winda, perasaan itu muncul dari keduanya. wildan akhirnya paham tapi tanpa sepengetahuan winda, wildan tahu bahwa andri sudah lebih dulu menyukai winda dimana wildan sadar akan hal itu tatkala ia membantu winda mengajar anak-anak kelas X5, dimana wildan tahu bahwa andri diam diam memperhatikan winda dan tatkala itu wildan belum memahami perasaannya pada winda seolah hanya menutupnya dan berusahan mendapatkan perhatian winda dan kini setelah mengetahuinya tak ada rasa yang dulu karena ia tahu rasa sayang nya pada winda hanya sebatas teman dan kini ia adalah sahabatnya. wildan bertekat untuk membantu sahabatnya itu.
__ADS_1
setelah teman, mereka pun pulang bersama. wildan mengantar winda dan mala ke rumah winda. dan segera pamit karena sudah dicari oleh adeknya. setelah itu, winda dan mala segera ke kamar untuk bebersih dan berganti pakaian. setelah itu, mereka menuju meja makan untuk makan. disana sudah ada Mas Ferdy dengan laptopnya di meja makan sedang asyik mengerjakan sesuatu. merekapun menyapa dan mengambil makanan dengan perlahan dan memutuskan makan di ruang tamu supaya tidak mengganggu mas ferdy yang sedang serius itu.
...🌹🌹🌹 Happy Reading Everyone 🌹🌹🌹...