
Pagi itu sesuai yang dibicarakan tadi malam, Mala dan Helen datang ke kelas Winda. sebenarnya ada keraguan di dalam benak mereka berdua seraya berjalan menuju kelas X1 itu. Tapi semua keraguan itu perlahan mulai mereka singkirkan. Di ambang pintu kelas X1, Mala dan Helen dibuat takjub dan minder, bagaimana tidak dikelas itu suasananya sungguh berbeda. Dikelas mereka (X5) diisi dengan candaan dan cerita-cerita khas remaja sedangkan dikelas (X1) yang ada dihadapan mereka, semua siswa sibuk dengan bukunya sendiri, dingin dan mencekam penuh aura persaingan. Melihat hal itu, nyali mereka ciut kembali tapi mereka ingin membantu Winda untuk menciptakan kelas tanpa perbedaan level seperti sekarang ini. Permintaan tulus dari sahabatnya itu menguatkan Mala kembali. Digenggamnya tangan Helen dan melangkah dengan ceria mereka masuk kedalam kelas Winda.
"Hey say.....sibuk ndk nih?" sapa Mala dengan hebohnya di ambang pintu kelas mengagetkan seisi ruangan
"ndk kok, sini masuk" ajak Winda
"hay semuanya" sapa Mala ke seisi kelas. siswa-siswa memandangnya aneh.
Helen melihat tingkah Mala menjadi santai dan mulai mengimbangi apa yang dilakukan Mala walau dalam hati rasa ragu itu masih ada. Disetiap langkah menuju meja Winda, mereka mendengar siswa-siswa disana mengoceh seperti terganggu dengan kehadiran merema tapi mereka berdua tetap melangkah mantap menuju meja Winda.
"kenapa kalian sampai kesini, tumben bnget" tanya winda basa-basi
"aduh sayangku satu ini lupa ya, aku kan tadi malam nanya soal tapi belum selesai kamu jelasi nah jadi aku ke kelasmu donk"
"apaan nih bocah, sayang-sayang segala. gini ya kalau ada maunya"
"ya elah, kamu juga gitu kan klau minta ajarin dance ma lukis ke aku, pasti deh nyiapin kata-kata bualan, yakan"
"ya deh Mala. Mana soalnya. Nih ya kalian dengerin dan catat okey. aku ndk akan jelasin dua kali"
"iya tapi pelan-pelan ya tau kan kami ndk secerdas kamu"
"apaan sih, iya deh"
Winda mulai menjelaskan. Siswa lain mendengarkan setiap penjelasan yang Winda jelaskan. Mereka heran winda menjelaskan begitu mudah untuk dimengerti menurut mereka tapi mereka kesal karena Mala dan Helen nampak kesulitan. Winda mengamati setiap raut muka kawannya disela-sela menjelaskan ke Helen dan Mala.
"paham ndk"
"hehehehe" Helen dan Mala hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan itu dan membuat Winda paham akan maksud mereka. akhirnya winda menjelaskan lagi dengan perumpamaan untuk lebih dimengerti. sebenarnya bisa saja winda langsung menjelaskan ke mereka dengan cara yg lebih mudah dan mudah dipahami karena winda tau cara membuat sahabatnya mala mengerti akan soal-soal itu tapi ia ingin menunjukan ke kawannya setiap orang ada caranya untuk mengerti akan sesuatu.
__ADS_1
"ya ampun winda, anak kurang cerdas gitu masih kamu ajari kayak sd baru paham" ejek nabila
"maksud kamu ngomong gitu apa hah?" Helen terpancing akan omongan Nabila
"emang benar, soal kayk gitu aja ndk bisa, gimana soal yang lain ,itu tuh dasar banget. kayak anak sd aja" ejek Nabila lagi
"oh gitu, kamu ngeremehin kami, okey anak sd ini akan membuktikan bahwa kami bisa setara dengan kalian yang hanya fokus dengan belajar. liat aja ntar" kata Helen
"okey aku tunggu" ejek Nabila
"okey, liat aja kami kelas biasa akan menyamakan nilai kami dengan kalian. tunggu aja"
"udah napa, kamu juga ndk bisa nilai orang seperti itu bil, setiap orang punya bakat tersendiri." bela Winda
"terserah kalian, udah nganggu aja pagi ini. sna kekelas kalian. ganggu aja"
Helen masih kesal dengan perkataan itu akhirnya meninggalkan kelas Winda. Mala dan Winda bingung ndk menyangka Helen akan sekesal itu tapi itu kabar bagus buat winda, mungkin dengan tekat kesal helen tadi akan mrmbuat kawannya akan sadar. Mala dan winda mengejar helen untuk menenangkannya.
"iya aku udh maafin, aku kesel aja. aku akan buktikan kita bisa setara dengan mu. akan kuyakinkn kelas untuk mengikuti kemauanmu. tapi kami butuh bntuanmu untuk mengajarkan kami" ujar helen
"tentu, karena ini memang keinginanku untuk tak ada lagi kelas unggulan dan kelas biasa. kita bisa beriringan tuk gapai cita-cita tanpa perlu membuat tembok persaingan itu" ujar winda
"okey deh, yaudah kita kelas Mala, buat nyampain ini ke anak anak. akan aku sampaikan penghinaan itu kemereka"
"iya len, tapi kami tahan ya emosinya" ujar mala
"tenang aja"
"ya udah kami kekelas ya, kamh balik gih ke kelas, kan jam mapelmu lebih awal" kata Mala
__ADS_1
"ya udah aku balik dulu"
sesampainya dikelas, Winda langsung duduk di bangkunya. ditatapnya serius seluruh kawannya dan merucap dalam hati "akan aku ciptakan keluarga disini bukan pesaing nilai seperti ini". wildan hanya memandang heran ke arah Winda smbil nebak apa yang sedang direncanakan teman sebangkunya itu.
dilain kelas, Mala dan Helen masuk ke kelasnya. Helen yang masih dengan muka kesalnya itu langsung berdiri di depan kelas.
"rekan-rekan, mohon perhatiannya sebentar" ujar Helen dengan suara lantangnya membuat seisi kelas fokus kearahnya. Helen lalu menceritakan kejadian tadi dan betapa kesalnya dia dengan ucapan nabila. mendengar hal itu membuat kawan sekelasnya sedikit kesal
"bisa-bisanya dia ngomong seperti itu, dah ngerasa pintar sendiri apa" ujar Andri selaku ketua kelas dengan sedikit kesal
"maka dari itu, aku butuh bantuan kalian semua, kita buktikan bahwa siswa kurang pandai ini bisa mendpatkan nilai yang sama dengan mereka" ujar Helen mengebu-gebu
"iya tapi gimana caranya, nilai kita aja pas-pasan. apalagi kita agak lambat paham akan materi yang dijelaskan" ujar Santi
"masalah itu gampang, asalkan kalian semua yakin kita bisa. seseorang akan membantu kita." ujar Mala
"mari kita buktikan ke mereka. bahwa kita bisa" lanjut helen
"baiklah, kami setuju. iya kan semuanya." kata Andri
"setuju" jawab kompak seisi kelas
"bapak juga akan bantu kalian" sahut pak Ramlan tiba-tiba masuk. yang membuat seisi kelas kaget
"jika semangat kalian tinggi, bapak yakin kalian bisa. bapak akan bantu kalian, sebagai wali kelas bapak akan membantu kalian. maka dari itu mari kita mulai pelajarannya sekarang" ujar pak Ramlan dengan semangat
"siap pak, laksanakan" jawab seisi kelas dengan serempak
sebenarnya pak Ramlan mendengar perdebatan kecil yang terjadi di kelas X1 saat beliau menuju ke kelas X5 untuk mengajar. dilihatnya Winda dan Mala dan yang sedang menenangkan Helen. dan beliau tahu maksud ketiganya. pak Ramlan merupakan salah satu guru yang tidk setuju dengan pembedaan kelas seperti sekarang ini tapi karena sudah seperti tradisi jadi sulit dirubah, banyak guru-guru lain lebih memilih mengajar di kelas unggulan dibanding kelas lainnya sehingga sering ada jam kosong dikelas biasa dan itu tak berlaku bagi pak Ramlan dan beberapa guru disana. sebenarnya tembok dan tradisi itu bisa hilang jika itu dari siswanya pribadi dan itu baru disadari pak Ramlan setelah mendengar rencana mereka bertiga. keinginan untuk menciptakan keluarga dalam angkatan yang mereka idamkan membuat pak Ramlan ingin membantu. dan jadilah beliau mendukung rencana mereka bertiga
__ADS_1
......................