
Di dalam sebuah mobil, tiga orang berada di dalamnya. Dua orang lainnya hanya diam menyimak setiap kata yang terucap dari satu orang yang terus saja mengomel panjang lebar tidak berhenti sejak keluar dari parkiran rumah sakit tadi.
"Mengapa sampai bisa pingsan seperti itu?" Tanya Narendra dengan nada datar saat keluar dari parkiran rumah sakit.
Cliantha menyenggol lengan Jihan supaya dia menjawab pertanyaan suaminya, "auh, hm. Saya tidak tahu, Pak, tiba-tiba perut saya sakit seperti diremas-remas," jawab Jihan dengan terbata-bata.
“Kalian tahu tidak jika ini berbahaya? Harusnya segera meneleponku, beri aku kabar. Jangan malah pembantu rumah yang memberitahuku terlebih dahulu, mengerti?’ Kata Narendra tersulut emosi.
Dua orang di belakang mengangguk-angguk dan menatap spion depan, “Oke, bagus. Dan kamu, Jihan. Kalau sudah merasa tidak enak badan atau ada tanda-tanda lainnya, tolonglah, segera beritahu orang rumah. Apa susahnya hanya mengatakan keluhan? Yang sakit juga kamu sendiri, kan? Jangan menunggu sampai pingsan dulu dan membuatku khawatir setengah mati, “ omelnya lagi.
Cliantha, wanita itu mengerutkan dahinya, “Mas khawatir setengah mati?” Tanya Cliantha menatap suaminya penuh tanda tanya.
"Hah? Ehm. Ya, maksudku. Ya, khawatir saja jika terjadi apa-apa pada orang rumah, sedangkan posisiku sedang di luar untuk bekerja," alasannya.
Sungguh, jawaban itu membuat senyum di bibir tipis Cliantha tersungging ke atas. Dia bisa melihat jika suaminya sedang menyiratkan rasa khawatir berlebih pada calon anaknya, tetapi apa mugkin dia juga sedang menghawatirkan ibu dari calon anaknya?
"Jangan diulangi lagi, kalau ada apa-apa siapa yang akan tanggung jawab?" Tanya dia pada kedua istrinya.
"Aku, juga. Siapa lagi?" pertanyaannya dijawab olehnya sendiri.
"Kalau ada apa-apa segera, ya, hubungi aku. Jangan sungkan, jangan sampai hal buruk terjadi pada siapapun," ucapnya rasional dan manusiawi. Dia tidak menyebutkan secara spesifik apa yang menjadi kekhwatirannya yang berlebihan itu.
"Dengan kalian yang bersikap kekanakan seperti ini, waktu kerjaku terbuang sia-sia. Harusnya ada rapat siang ini, karena mendapat kabar dari Bibik sehingga aku berlari dan meninggalkan klien penting," tuturnya membuat dua orang wanita itu merasa bersalah.
__ADS_1
"Maaf, Mas."
"Tidak perlu minta maaf, bukan salah kamu, Sayang." Ujarnya pada Cliantha.
"Maafkan saya, Pak. Ini semua salah saya," ujar Jihan dengan suara tipis.
"Ya, baguslah kalau kamu sadar ini salahmu. Apa kamu akan mengulanginya lagi?" Tanya pria itu.
"Tidak,"
"Bagus! Jangan diulangi hal seperti ini lagi. Merepotkan, membuang-buang waktu dan biaya saja," ucap Narendra.
Perkataannya yang terakhir itu, berhasil membuat air mata Jihan mengalir jatuh menetes ke pangkuannya. Sebenarnya, pria itu dapat melihat jelas apa yang terjadi di kursi belakang mobilnya dengan tangan Cliantha yang mengusap pipi basah madunya, pria itu tahu jika wanita itu tengah menangis. Namun, siapa peduli?
Pelipisnya ia pijat perlahan melihat seorang wanita menangis adalah trauma bagi dirinya. Sudah cukup banyak tangisan dia lihat keluar dari mata ibunya, jangan sampai ada wanita lain yang ikut mengeluarkan air mata di depannya juga. Bosan.
"Jangan menangis, lemah. Usap air matamu, gak suka melihat orang nangis. Dikit-dikit nangis," cibir pria itu yang frustrasi mendengar suara tangisan perempuan yang lirih di telingannya.
"Sudah jangan menangis. Mas Rendra tidak suka melihat orang menangis. Sudah, hapus, ya?" Saran Cliantha lembut dan menggunakan ujung hijabnya untuk mengelap air mata Jihan.
Kini, mobil yang mereka tumpangi berbelok di persimpangan. Seharusnya, arah menuju rumah adalah lurus. Namun, entah mengapa pria itu membelokkan setir kemudinya ke kiri.
"Mau kemana, Mas?" Tanya Cliantha pada suaminya.
__ADS_1
"Mall,"
"Mau apa?"
Tidak ada jawaban, pria itu hanya mengemudikan mobilnya santai tanpa banyak bicara lagi. Itu lebih bagus karena saat ini Jihan yang lemah bisa memejamkan matanya dan tertidur pulas karena tidak lagi mendengar omelan dari mulut suaminya.
"Mbak, bangunkan aku kalau sudah sampai, ya," pintanya pada Cliantha yang duduk di sampingnya.
Wanita itu malah mempersilakan madunya untuk menyandarkan kepalanya pada bahu kanannya.
Beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil terparkir di halaman parkir super mall.
"Mau apa ke sini, Mas? Makan?" Tanya wanita itu lagi.
Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir pria itu, "Ikut saja denganku,"
Cliantha dan Jihan mengekor di belakang pria itu yang sejak tadi sudah berputar-putar di dalam mall dari lantai satu sampi lantai empat, tetapi tidak ada satu barang pun yang diambil olehnya.
"Mas cari apa?" Tanya Cliantha yang sudah mulai lelah berjalan-jalan mengekor suaminya.
Narendra menggeleng, "Beli susu untuk dia. Kamu tahu yang di mana tempatnya?" jawab pria itu pada akhirnya.
Bersambung...
__ADS_1