
"Narendra, kamu kemana saja? Lihatlah istrimu itu, dia muntah-muntah sejak tadi. Mama nggak bisa ngurus semua ini sendiri, tadi mama lari-lari cari perawat. Kalau istri lagi nggak sehat, jangan ditinggal gitu aja, dong!" Pekik Hanna yang sewot saat melihat kedatangan Narendra dan Cliantha.
"Habis jemput Cia, Ma. Makasih mama udah repot-repot urus Jihan," kata Narendra.
"Habis kemana memangnya harus dijemput segala, kayak anak kecil aja. Nggak mandiri!" cibir Hanna meski tatapan mata itu tidak pernah menatap Cliantha yang sedang berdiri di sudut ruangan di dekat pintu kamar itu.
Melihat Cliantha yang mencoba tersenyum pada Jihan yang telah sadar dari pingsannya, tetapi respons Jihan malah sebaliknya; dia histeris.
"Ah, jauhkan dia dariku! Jauhkan wanita jahat itu, Ma! Dia mau membunuhku dengan pisau di tangannya, dia mau membunuh anakku juga! Pergi, kamu! Pergi kamu wanita gila!" Teriak Jihan meronta-ronta serta menutup kedua telinganya.
Semua mata bersirobok saling menduga-duga.
"Jihan, siapa yang harus pergi? Jihan, tenang. Jawab mama, siapa yang harus pergi?" tanya Hanna.
"Dia, Ma! Wanita itu, dia jahat padaku. Aku membencinya! Pergi! Nanti anakku bisa mati karena dia!" Teriak Jihan menunjuk ke arah Cliantha dan membuat seisi ruangan menjadi panik seketika.
"Pergi, tolong usir dia dari sini. Bawa pergi dia!" Teriak Jihan meraung-raung dan menendang-nendang semua yang ada di dekatnya.
Hanna, wanita paruh baya itu menarik tangan Cliantha, mamaksa wanita cantik itu untuk keluar dari ruangan. Dengan perlakuan kasar, Hanna membawa keluar Cliantha secara paksa.
"Ma, aku tidak seperti yang Jihan tuduhkan," pembelaan Cliantha.
Dengan tatapan tajam Hanna pun berkata, "Sekarang aku tahu jika kamu adalah serigala berbulu domba," ujara Hanna menutup pintu ruangan itu dan menguncinya dari dalam.
__ADS_1
"Kenapa aku yang difitnah di sini?" ujar Cliantha di depan ruangan.
Hanya pesan singkat yang Cliantha kirimkan pada Narendra sekadar bertanya apakah dia harus pulang atau menunggu di depan, "Pulang saja, jangan menunggu karena Jihan masih kacau. Pulang dan istrirahatlah," balas Narendra pada pesan singkat yang wanita itu kirimkan.
"Tetapi aku tidak seperti yang Jihan ucapkan, Mas. Aku harap kamu percaya padaku," tetapi balasan pesan singkat yang Cliantha kirimkan tidak mendapatkan balasan apapun lagi. Hanya tertera dua centang biru yang berarti pesan telah dibaca oleh si empunya.
Narendra tidak membalas pesannya, tidak juga keluar untuk menyusulnya, dan tidak juga mengantarkan Cliantha pulang jika memang dia meminta wanita itu pulang. Padahal yang Cliantha harapkan, suaminya datang dan keluar untuk menyusulnya dan mengatakan jika ucapan Jihan jangan dimasukkan hati atau dipikirkan secara berlebihan.
Namun, tidak. Dia hanya seorang diri di luar kamar inap JIhan dan lebih parahnya lagi jika Cliantha tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan itu karena pintu dikunci dari dalam.
"Ya, kamu memang sudah berubah sekarang. Apakah kamu benar-benar sudah bisa hidup tanpaku? Katanya kamu tidak bisa hidup tanpaku, Mas. Mana bukti ucapanmu itu?" lirih Cliantha yang sedang duduk termenung di kursi depan ruangan rawat inap Jihan.
"Jika benar begitu, semuda itu kamu melepasku. Maka, mulai sekarang aku akan mencoba jauh darimu supaya aku juga bisa belajar bagaimana saat kita benar-benar berpisah suatu hari nanti. Ya, mungkin saat itu memang akan terjadi," lirih suara hati Cliantha seraya menampakkan selangkah demi langkah meninggalkan tempat.
"Aku merasa kamu menjadi jauh dariku," kata hati Cliantha. Namun, tiba-tiba sesuatu melingkupi tubuhnya. Memelukmya erat dan menarik mundur tubuh Cliantha hingga menempel pada sesuatu di belakangnya.
"Sudah tidur?" suara seseorang berbisik di belakang telinganya.
"Belum," jawab Cliantha. Kini, dia berbalik badan menatap suaminya.
"Mas, aku merasa jika seharusnya aku dan Jihan harus dipisahkan," usul Cliantha.
"Kenapa? Kamu merasa cemburu saat aku berada di dekatnya," terka Narendra.
__ADS_1
Cliantha menggeleng, "Bukan itu alasan utamanya, hanya saja aku takut jika dia akan terus histeris saat melihatku," asalan yang Cliantha utarakan.
"Kenapa takut? Harusnya kalau memang kamu bukan seperti yang dia tuduhkan, kamu mencoba meyakinkan dia jika kamu tidak seperti itu, bukan? Tidak malah meminta berpisah atau malah membuat tuduhan itu semakin berlarut-larut dan selamanya tidak ada pembenaran," saran Narendra.
"Aku tidak butuh pembenaran apapun, aku tidak butuh pengakuan benar atau salahnya aku sekali pun. Cukup aku dan Tuhanku saja yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada hari itu," jawab Cliantha dengan untaian kata yang bijaksana.
"Jadi, aku mohon, tolong pisahkan kami. Aku yang pergi atau Jihan yang pindah dari rumah ini. silakan, itu pilihannya," ucap Cliantha.
Narendra memundurkan tubuhnya, "Jika seperti itu, kamu seakan-akan ingin membuat jarak tercipta di antara kita. Setelah kalian dipisahkan, otomatis aku juga akan sulit membagi waktu untuk bertemu kalian berdua," ucap Narendra.
"Tidak, itu tidak sulit sama sekali. Mas bisa datang kapan saja padaku, aku juga akan langsung datang padamu jika kamu memerlukan aku," kokoh Cliantha menginginkan perpisahan rumah.
"Tapi,–" bantah Narendra yang tidak mengingkan itu.
"Mas, ini demi kewarasan kita semua. Perpisahan ini bukanlah akhir dari perjalanan cinta dan hubungan pernikahan kita, kita tidak berpisah dalam arti yang sebenarnya," jelas Cliantha.
Narendra mendekatkan wajahnya, menatap lekat mata Cliantha memastikan jika apa yang dia katakan itu bukanlah suatu kebohongan, "Tapi, ini seperti hanya menunda perpisahan saja, Cliantha. Aku harap apa yang kamu katakan itu benar, kita tidak benar-benar berpisah dalam arti yang sebenarnya."
"Wallahu alam, Mas. Semua aku pasrahkan pada-Nya, kita hanya menjalankan takdir yang sudah tertulis di sana," ucap Cliantha.
Malam itu, mereka menghabiskan malam yang hangat bersama. Tiada yang tahu, jika malam yang indah itu akan menjadi yang terakhir atau bukan karena setelah malam itu akan ada perubahan besar sejak mereka memutuskan untuk memisahkan tempat tinggal antara kedua istri dari seorang pria yang bernama Narendra.
Bersambung....
__ADS_1