Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 22. Bersikap Baik


__ADS_3

Di dalam rumah makan masakan padang itu, Jihan dibuat kagum dengan pelayanan yang diberikan yang mana mereka akan disuguhkan dengan beraneka ragam masakan bersantan yang dijajar dan ditumpuk sampai memenuhi meja yang lebar di hadapan.


Mata Jihan mengernyit saat melihat beberapa orang terus saja meletakkan makanan di atas meja yang sudah penuh itu. Sejujurnya, hati wanita itu ingin berkata, "Cukup, ini berlebihan," tetapi tidak ia mengatakannya karena ia pun penasaran dengan apa yang akan dibawa oleh orang-orang pria berseragam dan bersusulan yang terus membawakan piring-piring bertumpuk di atas lengannya. Seperti tengah melakukan atraksi.


Narendra pikir mungkin saja dia mual dengan bau rempah-rempah yang menyengat.


"Baunya memang seperti ini, kamu mual?" tanya Narendra.


Namun, dugaan itu ternyata salah. Jihan menggeleng dan segera mengambil piring yang sudah berisikan nasi.


"Tidak mual, mau itu!" Tunjuk Jihan pada masakan berbumbu kuning yang kental dengan santan.


Narendra melihat kemana jari itu menunjuk, "Ini? Otak sapi?"


"Iya, saya mau itu," ujar Jihan.


"Dan itu," tunjuk wanita itu lagi. Kali ini dia menunjuk ke masakan khas dari daerah Sumatera itu.


"Rendang?" tanya Narendra yang lagi-lagi dibuat heran dengan wanita yang sejak tadi bersikap jutrk padanya.


"He um," jawab Jihan mengangguk penuh senyuman.

__ADS_1


Narendra mendekatkan semua yang Jihan inginkan. Dengan lahap, wanit itu memaksan semua menu yang tadi ia tunjuk sampai wajahnya dipenuhi dengan keringat yang menetes.


Detik berikutnya, saat Jihan sedang asyik mengunyah dan menikmati rendang pedasnya, dia dibuat membeku saat tangan Narendra mengambilkan tisu dan mengelapkannya pada dahi dan pelipis wanita itu. Detik berikutnya, Jihan yang terkejut lantas memundurkan wajahnya dan rahanya berhenti bergerak.


Sama terkejutnya, Narendra menatap Jihan yang memaku.


"Kenapa?"


"Apa yang Bapak lakukan?" Tanya Jihan dan Narendra secara bersamaan.


"Aku tidak suka melihat orang yang kotor apalagi saat makan," jawab Narendra.


Jihan mengusap peluhnya dengan punggung tangannya, "ini bukan kotor, ini hanya keringat, Pak."


"Terima kasih," ucap Jihan di akhir.


"Hem," balas Narendra seusai mengusap keringat Jihan.


"Kapan pemeriksaan kandunganmu?" tanya Narendra setelahnya.


"Saya tidak tahu," balas Jihan takut-takut.

__ADS_1


"Kok sampai bisa tidak tahu jadwalnya?"


"Saya hanya menurut pada Mbak Cia saja, Pak," jawab Jihan seadanya. Selama ini yang mengurus semua jadwal pemeriksaan termasuk temu janji dengan dokter kandungan adalah Cliantha. Jihan hanya menuruti semua yang istri tua suaminya itu lakukan untuknya.


"Lain kali kamu juga harus bertanya padanya kapan harus datang ke dokter, jangan bersikap acuh seperti itu. Ini semua untuk kebaikanmu dan kandunganmu, jika perlu beritahu aku supaya kita sama-sama saling mengingatkan kapan kamu harus check-up," peringat Narendra.


"Iya, Pak," jawab Jihan mengangguk paham.


"Apakah dia benar-benar peduli padaku dan bayi dalam kandunganku?"


Sampai petang tiba, keduanya baru sampai ke rumah dengan Cliantha yang sudah menunggu di depan pintu dengan senyuman yang secerah senja kala itu.


Tangannya merentang pada Jihan supaya datang ke pelukan.


"Sudah kenyang?" tanya Cliantha pada Jihan.


Alis wanita berponi tipis itu mengerut, "Kenapa Mbak bisa tahu kalau aku habis makan?"


Cliantha merapatkan bibirnya, "Tentu saja. Aku yang meminta Mas Rendra supaya makan siang bersamamu dan katanya tanpa sengaja kalian bertemu di tempat makan, kan? Nah, sudah jodoh pastilah itu," ungkap Cliantha.


Sontak, tatapan Jihan berubah ke bawah, " Ternyata dia melakukan itu bukan atas inisiatifnya sendiri, ini semua hanya karena perintah Mbak Cia," ujar Jihan dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2