Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 13. Berterima Kasih


__ADS_3

Saat membuka mata, Jihan merasakan begitu pening pada kepalanya. Matanya mengerjap-kejap karena pandangannya masih kabur, tetapi seperti ada sesuatu yang berat pada lengannya sebelah sampai kebas dia rasakan menjalar ke sebagian tubuhnya sebelah kiri.


Semula, tatapannya yang lurus memandang langit-langit kamar itu berpindah ke sisi kirinya, dimana dia merasakan berat pada sebagian tubuhnya.


Ternyata ada kepala seseorang yang sedang tertidur pulas berbantalkan lengan atasnya tanpa sengaja.


Dengan gerakan pelan, ia ingin menyingkirkan beban itu dari tubuhnya. Namun, gerakannya berubah menjadi sapuan lembut pada kepala seseorang yang tertidur pulas dengan posisi setengah terduduknya.


Jihan membuka sedikit rambut yang menutupi wajah orang itu, terlihat wajah seorang pria yang semua orang kira dia adalah suaminya secara sah di mata masyarakat, hukum, dan agama.


Sorot kedamaian dan tenang terpancar dari wajah Narendra yang masih terpejam membuat Jihan secara tidak sadar ingin terus memandanginya dan terlupa jika sebenarnya dia ingin menyingkirkan kepala pria itu dari lengannya.


Namun, yang dipandang bergerak pelan dan mengerjapkan matanya membuat Jihan terkejut dan mau tidak mau menutup kembali matanya–berpura-pura tidur.


Narendra bangun, dia mengangkat kepalanya yang terasa berat dan tubuh yang terasa pegal karena tertidur dengan posisi yang tidak nyaman.


Dengan mata yang tertutup Jihan bisa merasakan gerakan Narendra yang berangsur menjauh darinya. Beban berat yang semula dia rasakan pada lengannya, kini menghilang dan rasa kebas itu telah tiada.


"Mas sudah bangun?" Suara Cliantha terdengar. Alis Jihan berkerut samar, bertanya-tanya, "Entah sejak kapan wanita itu datang?"

__ADS_1


"Sudah. Aku ketiduran, Yang," jawab Narenda pada istrinya.


"Cuci muka dulu, sebentar lagi sarapan akan datang," ujar Cliantha memonitorin suaminya.


"Apa dia juga belum bangun?" Tanya Narendra dengan tujuan menanyakan Jihan pada Cliantha.


Di telinga Jihan, dia tidak mendengar jawaban apapun dari Cliantha. Namun, barulah ia mendengar Narendra kembali berbicara, "Baiklah, aku ke toilet sebentar. Tolong, kamu jaga dia. Kabarkan kalau sudah siuman," ujar Narendra pada Cliantha.


"Iya, Mas," suara Cliantha kembali terdengar di telinga Jihan.


Tidak sampai di situ, jantung Jihan berpompa cepat saat dia merasakan usapan halus pada dahinya. Yang sebenarnya ialah, Narendra sedang mengusap dahi wanita yang disangka sedang terpejam itu untuk mengecek suhu tubuh Jihan, apakah ada demam atau tidak.


Kemudian, pria itu berjalan ke dalam kamar mandi setelah memberikan beberapa kecupan singkat pada wajah Cliantha sebagai ritual kebiasaan mereka di waktu pagi sebelum ke kamar mandi. Tentu, Jihan tidak tahu dan tidak melihat jika kedua orang itu melakukan morning kiss.


Jihan sudah dalam posisi setengah terduduk saat Narendra selesai dengan ritual mandinya. Pria itu tidak memedulikan dirinya sendiri, tetapi langsung tertuju pada piring berisi makanan milik pasien yang belum disentuh oleh Jihan.


"Makan!" Ucap Narendra tegas saat membuka plastik pelindung pada mangkuk berisi bubur milik Jihan.


Sengaja Narendra memesan kamar inap VVIP dengan pelayanan eksklusif untuk proses perawatan dan pemulihan Jihan yang sakit.

__ADS_1


"Bukan mulutmu," perintah Narenda yang sudah duduk di tepian ranjang Jihan. Pria itu menyendokkan bubur di depan mulut Jihan.


"Tidak mau, Pak. Saya tidak suka ikan, ini baunya sangat anyir," kata Jihan menutup mulutnya. Wanita itu merasakan gejolak pada perutnya yang menyebabkan dia seperti akan memuntahkan sesuatu.


Trauma dengan Jihan yang mual dan muntah seperti hari lalu, Narendra segera menjauhkan mangkuk itu darinya. Berganti dengannya yang mengambil sepiring pasta aglio miliknya.


"Kalau ini mual, tidak?" Tanya Narendra mendekatkan piring itu ke dekat Jihan. Wanita itu menggaleng, lalu sesuap demi suap dapat masuk ke dalam tubuh Jihan dengan bantuan tangan Narendra.


Di saat seperti itu, Cliantha hanya bisa memandangi dua orang yang sejak tadi berinteraksi memilih menu makan yang cocok untuk Jihan.


"Mas, kamu juga harus makan. Makan pasta punyaku, ya?" Tawar Cliantha pada suaminya.


Namun, di saat itu, Jihan mengambil alih garpu yang digunakan Narendra untuk menyuapi dirinya. Maksud Jihan adalah gantian dia yang menyuapi suaminya, tetapi Narendra enggan dan memundurkan sedikit wajahnya saat Jihan menyodorkan di depan wajah Narendra segulung pasta pada garpunya.


"Kenapa? Apakah Bapak tidak sudi makan bekas istri sendiri?" Tanya Jihan yang membuat Narendra mau tidak mau membuka mulutnya dan memakan pasta yang Jihan suguhkan di depan wajahnya.


Kegiatan itu berulang-ulang sampai sepiring pasta di tangan Narendra bersih tidak bersisa, suapan terakhir berada di mulut Jihan.


Narendra bangkit saat sudah selesai makan. Sebelum menjauh, Jihan meraih tangan kanan Narendra dan menempelkannya di hidungnya, "Terima kasih sudah memperlakukanku dengan baik, Pak ," ucap Jihan setelah beberapa lama khidmat mencium punggung tangan Narendra.

__ADS_1


"Aku hanya melakukan kewajibanku," jawab pria itu seraya menarik tangan yang digenggam oleh istri keduanya itu.


Bersambung....


__ADS_2