Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 7. Tetaplah Tinggal


__ADS_3

Dua minggu berlalu setelah penanaman embrio di dinding rahim milik Jihan, kini saatnya mengunjungi rumah sakit dan memeriksakan keadaan embrio tersebut apakah berkembang sekaligus yang menentukan apakah wanita itu dinyatakan positif hamil atau tidak.


"Bagaimana, Dok? Apakah ini berhasil?" Tanya Cliantha pada dokter wanita yang bertanggung jawab atas prosedur bayi tabung itu.


Dokter itu menunjukkan ekspresi yang tidak jelas, sulit dipahami oleh kedua orang di depannya yang saling menunggu kepastian dari mulut sang dokter.


Lantas, detik berikutnya, dokter itu tersenyum tipis seraya berujar, "Selamat, Pak, Bu. Bu Jihan dinyatakan positif mengandung, prosedur bayi tabung itu telah telaksana dengan baik. Embrionya berkembang di rahim Bu Jihan," ujar sang dokter.


Entah apa yang membuat suasana di dalam ruangan itu yang semula tegang berubah menghangat bagi Cliantha, dengannya yang menatap Jihan dan menampilkan senyuman lebar sampai menunjukkan deretan giginya yang putih dan beraturan.


Cliantha dengan tangis harunya menghampiri Jihan dan memeluk wanita itu yang masih duduk di tepian brankar.


"Jihan, selamat, ya!" Ucap Cliantha memeluk tubuh Jihan dengan derai air mata penuh keharuan, sedangkan wanita yang dipeluknya hanya diam mematung tanpa membalas pelukan istri tua suaminya.


Sangat berbeda dengan respons Cliantha, wanita itu malah diam tanpa ekspresi dan tidak berkutik sama sekali di dalam pelukan istri tua suaminya. Dia hanya diam, tetapi air matanya bergerak turun secara perlahan keluar dari kedua pelupuk matanya.


Jihan memegangi perutnya tanpa gerakan apapun, hanya sekadar menempelkan tangan kanannya pada perut bagian bawahnya, "Apa benar aku hamil? Apa benar di dalam perutku akan tumbuh individu yang lain? Benarkah, Tuhan jika aku tengah hamil?"

__ADS_1


Memperhatian pria yang masih diam bergeming di depan kursi dokternya, Narendra hanya memandang ke bawah dan menautkan jari-jari tangannya seperti menyimpan kegelisahan.


Di rumah.


Di dalam kamar tamu yang menjadi tempat tinggal Jihan selama berada di rumah itu, kini wanita itu tengah mengemasi barang-barangnya karena permintaannya sebagai syarat perceraian sudah terpenuhi. Kini, tiba saatnya untuk dia pergi.


"Jihan, kamu mau kemana?" Tanya Cliantha yang membawakan makanan bubur halus sesuai dengan saran dari dokter. Cliantha kebingungan dan panik dalam waktu yang bersamaan.


"Jihan, katakan padaku, kamu mau kemana?" Tanya Cliantha sekali lagi sembari meletakkan nampan berisi bubur dan minuman untuk istri muda suaminya.


"Mbak, syarat yang aku ajukan telah terpenuhi. Saatnya aku pergi karena itu telah menjadi kesepatakan kita bersama," kata Jihan.


"Tidak, Mas Rendra tidak membuat kesepakatan seperti itu. Tidak secepat itu, Han," bantah Cliantha. Ia tahu benar apa yang menjadi kesepatakan keduanya. Suaminya tidak akan membiarkan Jihan pergi segampang dan secepat itu.


"Memang itulah perjanjian kita. Jika Pak Rendra mampu memenuhi syarat, aku akan pergi tanpa perlu kalian bersusah payah mengusirku lagi," ucap Jihan. Bahkan wanita itu telah siap dengan kopernya.


Cliantha menahan tangan wanita itu untuk tetap tinggal, "Gak! Mas Rendra tidak akan membiarkanmu pergi selama perceraian kalian belum resmi. Kamu tidak akan pergi dari rumah ini barang selangkah pun!" Tegas Cliantha.

__ADS_1


"Mbak, tolong biarkan kau pergi. Aku sudah berjanji akan pergi dan tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi, aku tidak akan mengadu pada siapapun lagi. Biarkan aku hidup tenang bersama dengan anak yang berada di perutku," ucap Jihan dengan nada bicara yang lemah.


"Tidak, kamu masih punya suami. Mas Rendra bertanggung jawab atas dirimu. Apa kamu lupa dengan apa yang dikatakan dokter? Kandunganmu masih rawan, tidak boleh mengerjakan hal-hal berat apalagi melakukan hal gila seperti ini. Jangan membantah, ayo kita tanyakan ini pada Mas Rendra!" Tegas Cliantha menarik tangan Jihan untuk masuk kebertemu dengan suami mereka.


Di dalam ruang kerja Narendra,


"Mas, lihat apa yang akan dia lakukan! Jihan akan pergi dari rumah ini sekarang juga. Kamu tidak mengizinkannya kan, Mas?" Tanya Cliantha membawa Jihan di depan suaminya.


"Kamu tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja kan, Mas? Kamu tidak akan menceraikan dia saat ini juga, kan?" Beruntun wanita itu bertanya pada suaminya.


"Bagaimanapun, saat ini kalian tidak boleh bercerai karena kamu Jihan, kamu tengah mengandung. Haram hukumnya meminta atau menceraikan saat istri dalam keadaan mengandung, tidak sah!" Ujar Cliantha dengan penuh keseriusan.


"Katakan sekarang juga pada dia, Mas, bahwa dia tidak boleh pergi kemana pun saat ini. Katakan pada Jihan sekarang juga jika kamu tidak mengizinkannya pergi," cecar Cliantha pada suaminya.


Narendra memijat kedua pelipisnya yang terasa pening, "Kembalilah ke kamar kalian masing-masing. Tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini. Dan kamu, Jihan, tetaplah di sini sampai bayi itu lahir dan sampai perceraian kita resmi setelah melalui proses persidangan di pengadilan," ujar Narendra pada akhirnya yang menjadi keputusan mutlak untuk para istri-istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2