
"Sayang, Jihan minta pulang. Kita berada di perjalanan pulang sekarang," sesingkat pesan yang Narendra kirimkan pada Cliantha di siang hari itu. Dengan segera, Cliantha pun turut pulang untuk menyambut kedatangan mereka.
Baru beberapa menit berlalu sejak Cliantha memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, tetapi wanita itu dikejutkan dengan mobil SUV hitam yang datang dan terparkir di sebelah mobilnya juga.
"Mobil Mama dan Papa?" Tanya Cliantha dalam hatinya.
Jantungnya berdegup kencang, sebenarnya wanita itu tidak pernah siap menemui mertuanya saat sang suami tidak ada bersamanya.
Cliantha membukakan pintu rumahnya dan tersnyum ramah pada mertuanya, "Mama, Papa? Selamat datang," sapa Cliantha yang melihat mama mertua yang langsung masuk dan duduk ruang tamu bersama dengan suaminya.
"Dimana menantuku?" Tanya Hanna, mertua Cliantha.
"Bukankah aku ini juga menantumu, Ma?" kata Cliantha dalam hatinya.
"Jihan sebentar lagi pulang, Ma. Mas Rendra lagi jemput dia," jawab Cliantha seraya mencium kedua tangan mertuanya
"Pulang dari mana?" tanya Hanna ketus pada menantunya.
"Rumah sakit, Ma."
"Ada kendala pada kandungannya?" Tanya Hanna dengan nada khawatir, dia langsung bangkit dari posisinya.
Setelah itu, wanita berambut bob sebahu itu menelepon anaknya, "Ren, dimana kamu dan istrimu? Kenapa dengan dia? Bagaimana dengan calon cucu mama?" Tanya Hanna memberondong banyak pertanyaan pada putranya.
"Oh, baiklah. Iya mama tunggu di rumah, hati-hati."
Cliantha yang berpamit akan masuk ke dalam kamar terlebih dulu, tidak dihiraukan oleh sang mertua. Namun, saat kakinya sudah menapaki anak tangga yang terakhir, Hanna memanggilnya.
"Cliantha, kamu sudah siapkan kamar untuk Jihan? Dia harus beristirahat di tempat yang nyaman, dimana selama ini dia tinggal?"
Bersama dengannya, Cliantha menunjukkan dimana kamar JIhan, kamar yang tidak terlalu buruk dan juga tidak terlalu besar sebenar kamar dirinya dengan sang suami.
__ADS_1
"Di sini, Ma," kata Cliantha saat masuk ke dalam sebuah kamar..
"Apa kamu bilang? Ini tidak layak ditempati menantuku! Ini kamar pembantu, tidak adakah kamar yang lain?" Pekik Hanna menyentak Cliantha dengan omelannya.
"Ada, hanya saja belum disiapkan. Kamar lainnya sudah lama kosong. Hanya kamar ini yang cukup luas dan sudah siap ditempati," jelas Cliantha.
"Tukar!" Kata Hanna.
"Tukar dengan kamar yang kamu tempati," sambung Hanna yang langsung mengosongkan semua isi lemari dari kamar itu dan memanggil para pembantu rumah.
"Tolong pindahkan semua barang-barang milik Jihan ke dalam kamar Narendra," perintah Hanna pada pembantu rumah anaknya.
Cliantha hanya bisa diam saat sang mertua bersikap sewenang-wenang sepert itu. Wanita itu tidak suka mendebat atau memicu pertengkaran, dengan legawa dia akan menyelesaikan semuanya saat mama mertuanya telah pergi.
"Ambil barang-barangmu, pindahkan ke kamar yang itu. Ini menjadi kamar Jihan dan putraku," seru Hanna tanpa belas kasihan.
Tidak bergerak sedikit pun, Cliantha hanya diam dan keluar membawa satu foto pernikahan yang disingkirkan oleh tangan mama mertua dari meja riasnya.
Narendra yang memapah Jihan dan baru sampai di depan pintu masuk. Namun, mereka dikejutkan dengan kehadiran mama dan papanya yang berada di rumahnya.
Wanita tua, tetapi masih cantik dan berkharisma itu bergegas turun dan menyambut anak dan menantunya.
"Sayang! Menantuku, kamu baik-baik saja, Nak?" Ramah tamah wanita itu memeluk dan mencium Jihan dengan gembiranya.
"Mama, Papa, kapan datang?" Narendra mencium tangan kedua orang tuanya.
"Sejak tadi, kami ingin mampir saja," jawab sang papa.
"Bagaimana, Ren? Jihan baik-baik saja? Kandungannya sehat saja?"
"Sehat, Ma." jawab Narendra lirih seraya melirik ke arah Cliantha yang tengah berjalan pelan mendekat kepada mereka.
__ADS_1
"Ayo, istirahat dulu, Nak. Kamu harus banyak istrirahat, jangan kelelahan. Paham?" Kata Hanna merangkul Jihan dan akan naik ke lantai atas.
"Ma, kamar Jihan bukan di atas," ucap Narendra yang mencoba memberitahu.
"Mama tahu kamar mana yang harus Jihan tempati," jawab Hanna tanpa menoleh dan tetap berjalan menaiki anak tangga sampai kedua orang wanita itu masuk ke dalam kamar utama milik Narendra dan Cliantha sebelumnya.
Narendra ingin memberontak, tetapi tangan Cliantha menanhannya untuk tidak banyak bertingkah saat ini.
"Siapa yang menyuruh kalian membawa keluar barang-barang ini?" Tanya Narendra saat para pembantu yang melintas di depannya dengan membawa keluar tas dan boks-boks besar berisi barang-barang Cliantha yang semula berada di dalam kamar.
"Nyonya minta kami mengeluarkan barang-barang Ibu, Pak," jawab salah seorang pria kuli kebun rumah Narendra.
"Apa? Mama?" Geram Narendra mengepalkan tangannya dan naik menghampiri sang mama di dalam kamarnya.
Tidak ada yang berubah, wanita itu sangat kuat memengaruhi putranya untuk membiarkan Jihan yang berada di kamar putranya, "Mama, kita harus bicara. Sekarang, di bawah," ucap Narendra langsung saat sudah sampai di depan pintu kamarnya.
"Tidak seharusnya mama mengaturku, termasuk tengan pemindahan kamar itu untuk Jihan,"
"Kenapa? Memangnya mama salah? Mama hanya ingin yang terbaik untukmu dan calon cucuku," ujar Hanna.
"Bukannya kamu harus adil kepada istrimu? Terlebih dia yang sedang mengandung anakmu. Menjadi ibu hamil tidak mudah, seharusnya kamu lebih peka dan peduli padanya, Ren," ucap Hanna.
"Ma, Rendra tahu apa yang terbaik untukku dan semuanya. Mama tidak berhak..." Narendra yang sudah tersulut emosi mulai menaikan nada bicaranya.
"Sudahlah, Mas. Jangan berdebat dengan mama, tidak baik. Tidak apa-apa, aku nggak papa," kata Cliantha saat anak dan mama itu berdebat di lantai bawah.
Sementara itu, Hanna menganggap ucapan Cliantha sebagai pembenarnan atas sikapnya. "Lihatlah, istrimu saja tidak keberatan karena dia tahu mana yang sudah seharusnya terjadi dan itu berarti dia tahu diri kalau seperti itu," kata Hanna yang tentu saja menusuk hati Cliantha tanpa disadari.
"Mama akan menginap di sini sampai Jihan pulih dan memastikan kandungannya baik," ucap Hanna selanjutnya.
"Tidak boleh!" Tegas Narendra pada sang ibunda.
__ADS_1
Bersambung...