Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 45. Jauh Berbeda


__ADS_3

Berulang kali Cliantha mencoba untuk menghubungi suaminya sejak waktu subuh, dia khawatir jika sang suami terlewat waktu. Dipikir-pikir, jika saat ini mereka sedang berdua di sana, bukan salah Cliantha yang hanya ingin membangunkan suaminya karena itu masih menjadi kewajiban bersama untuk saling mengingatkan.


Tidak ada tanda-tanda telepon akan diangkat, Cliantha beralih menelepon nomor Jihan. Beberapa panggilan terdial, akhirnya terjawab juga.


"Halo, Han, Assalamualaikum. Apa Mas Rendra sudah bangun? Dia harus bersiap pagi hari untuk bekerja," ujar Cliantha dengan sederet kata yang ingin terucap sejak beberapa waktu lalu.


"Sudah, Mbak. Tenang saja," jawab Jihan dengan suara parau.


"Jangan lupa siapkan sarapan, meski nanti tidak dimakan," kata Cliantha lagi, meski di seberang sana tidak ada sautan apapun setelah beberapa saat.


"Han? Kamu masih dengar?" Tanya Cliantha memastikan.


"Heum, huargg!" Namun, yang terdengar hanya suara orang yang menguap, sejak tadi Jihan tidak benar-benar mendengarkan apa yang Cliantha katakan karena dia menjawab telepon dengan mata yang setengah terpejam dan ponselnya berada jauh dari telinganya.


"Jihan?"


"Iya, ya, sudah ya mbak, aku mau menyiapkan keperluan Mas Rendra dulu. Tolong jangan hubungi aku lagi di waktu pagi, itu sangat mengganggu kami. Semalam aku tidak bisa tidur, Mas Rendra juga menemani sampai pagi. Jadi, dia baru saja tidur dan aku baru mengantuk," jawab Jihan di seberang sana dengan suara malasnya.


"Maaf, Jih–" ucap Cliantha yang terpotong karena Jihan sudah menutup telepon lebih dulu.


Jihan hanya mengiyakan, dia tidak bangun ataupun membangunkan suaminya yang masih pulas di sampingnya meski sinar matahari sudah bersinar terang di ufuk timur.


"Astaghfirullah, Jihan!" Narendra tersentak, dia seketika bangun dan langsung berdiri dari tempat tidurnya dan turun ke sisi ranjangnya.


"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Narendra terkejut.

__ADS_1


"Mas yang tidur di kamarku," balas Jihan yang sama-sama terkejut dengan pergerakkan Narendra yang tiba-tiba bangkit dari posisinya.


Jihan yang masih setengah sadar hanya menggerakkan badannya sekilas, mengulat, dan menyikap selimutnya. Terlihat sisi bagian bawah wanita itu yang menggunakan stelan pakaian tidur pendek dan perban yang masih melingkar di paha kanannnya.


"Auhh," rintih wanita itu memegangi pahanya yang terasa nyeri.


"Han? Kamu, okey?" Rintihan Jihan membuat Narendra khawatir.


"Nyeri, sakit banget," jawab Jihan mencoba meregangkan kakinya yang masih berbalut perban.


"Luruskan dulu, relaks biar tidak tegang coba," saran Narendra tidak jadi marah saat melihat Jihan merintih kesakitan. Padahal, semalam mereka sudah sepakat untuk tidur di kamar yang berbeda, tapi entah kenapa tiba-tiba Narendra ketiduran di kamar Jihan saat terakhir yang dia ingat wanita itu butuh ditemani karena tidak bisa tidur.


Mereka sama-sama memeriksa luka jahitan di paha Jihan,"Ini belum kering, harus rutin ganti perban. Kapan terakhir kali ganti?


"Kemarin siang," jawab Jihan saat Narendra mengecek luka jahitan itu.


Dengan telaten, Narendra membuka dan menutup luka itu tanpa keraguan dan penuh kehati-hatian, "Sakit?" Tanya Narendra saat dia membungkus luka itu dengan kain kasa yang memutar dan membuatnya melingkari paha Jihan dengan agak kencang.


"Terlalu kencang, Mas," kata Jihan dengan meringis. Langsung, Narendra mengendurkan tarikan kasa yang membungkus kuat itu.


"Mas Rendra, apa melahirkan nanti rasanya akan sesakit ini?" Tanya Jihan tiba-tiba.


Narendra tidak menjawab, yang sebenarnya ialah dia tidak tahu dengan pasti seberapa sakitnya seorang wanita melahirkan anak dari rahimnya. Ada yang bilang sakitnya setara dengan patahnya 20 tulang secara bersamaan, sesakit itu sampai disebut-sebut mempertaruhkan nyawa.


Andai saja bukan pada orang yang tengah mengandung, Narendra pasti akan menjawab pertanyaan itu sejauh yang dia tahu. Namun, pria itu memilih untuk bungkam.

__ADS_1


"Kalau sesakit ini pun tidak masalah asalkan saat itu kamu ada bersamaku. Jikalau mati sekalipun, aku tidak peduli asalkan anak kita berhasil selamat dan aku bisa membuatmu bahagia sama seperti yang Mbak Cia impikan untuk suaminya," ucap Jihan seraya mengangkat wajah Narendra supaya mau menatapnya dan mengetahui jika apa yang sedang dikatakannya murni tulus dari dalam hati.


"Aku tidak takut mati, jangan tanya kenapa. Karena jawabannya hanya satu, karena aku memperjuangkan anak ini hanya untukmu," kata Jihan dengan tatapan mata yang lurus ke depan menghujam pemilik netra berwarna cokelat gelap milik Narendra.


Detik berikutnya, Jihan tidak kuasa bertahan lebih lama bertatapan dengan mata pria itu. Tanpa banyak berpikir, dia yang mengawali sebuah sejarah baru tercipta di antara dia dan suaminya. Membawa Narendra dalam angan ilusi yang mampu menerbangkan siapa saja insani yang hanyut di bawah kendali belai kasih sayang seorang wanita muda bernama Jihan.


Di tempat lain, Cliantha menunggu kedatangan Narendra di kantornya. Sudah hampir tengah hari, tetapi belum ada tanda-tanda jika Narendra datang dan membuka pintu ruangan itu.


Lewat dari tengah hari, barulah muncul sosok yang sejak tadi Clilantha harapkan wujudnya. Dengan senyum semringah, wanita itu langsung memburu punggung tangan sang suami untuk kemudian diciumnya.


"Mas baru datang? Apa tadi kesiangan?" tanya wanita itu dengan wajah ceria walaupun menunggu adalah hal yang melelahkan baginya apalagi sudah berjam-jam dia berdiam menanti kedatangan dia, sang suami.


"Iya," jawab singkat Narendra yang merasa kikuk.


"Sejak subuh aku meneleponmu, tapi tidak kamu jawab. Sudah kutelepon Jihan juga supaya membangunkanmu, tapi ternyata tetap saja," lapor Cliantha. Namun, Narendra barulah sadar dengan keberadaan ponselnya yang sejak tadi tidak diceknya sama sekali.


"Coba deh cek hp Mas, sudah berapa ribu kali aku mencoba menghubungi?" ujar Cliantha.


Saat itu juga dia merogoh ponsel dari balik jasnya, tidak ada notifikasi sama sekali. Namun, saat membuka aplikasi chatting online, ternyata nomor Cliantha dalam status 'blocked'.


Mereka sama-sama memandang satu sama lain, bagi Narendra dia takut jika Cliantha marah karena salah paham. Namun, ternyata tidak, "Oh, pantas saja. Rupanya kalian sedang tidak mau diganggu, ya? Ya, ya, ya aku paham," ucapnya diselingi gurauan.


"Maaf, bukan maksudku. Tapi, mungkin ini...."


"Lupakan, ini tadi aku buatkan sarapan untukmu. Pasti Mas belum sempat makan, kan?" ujar Cliantha membuka rantang kesayangannya yang berisikan makanan kesukaan suaminya yang sudah dingin karena terlalu lama menunggu dan didiamkan dalam wadah yang tertutup.

__ADS_1


"Iya, aku sangat lapar. Lupa makan karena sibuk mengurus Jihan yang belum sembuh benar," kata Narendra yang sudah bersiap dengan sendok dan garpu yang berada di tangannya.


Bersambung....


__ADS_2