
Narendra.
Bingung. Itulah yang berkemelut di dalam hati dan pikiran pria itu. Dia sangat sulit mengartikan getaran apa yang dia rasakan di dalam dadanya. Terkadang, ia merasa ingin menangis meraung-raung setelah mendengar istri keduanya tengah mengandung anaknya menyebabkan sisi dirinya yang teramat ingin menjadi seorang Ayah meronta-ronta, tetapi dia tetap menahan diri dan memilih untuk tidak mengambil sikap apapun karena dia tidak mencintai siapa ibu dari anaknya.
Harapan anaknya akan lahir dari sosok wanita yang dia cinta tidak tercapai, malah kini dia harus mendengar calon janinnya berkembang di rahim wanita lain yang sama sekali tidak pernah dia harapkan keberadaannya di dalam hidupnya.
Antara harus mengungkapkan rasa bahagia atau sedih, begitulah yang Narendra rasakan saat ini. Bingung harus bersikap bagaimana pada Jihan yang merupakan ibu dari anaknya. Karena sesungguhnya, dia tidak pernah rela jika kelak anak itu dibawa pergi jauh darinya meskipun dia hidup bersama ibunya sekali pun. Sungguh, Narendra juga menginginkan anak itu berada di tengah-tengah kehidupannya.
"Ya Tuhan, aku pun menginginkan anak itu juga. Bagaimana caranya supaya aku mendapatkan anak itu? Sedangkan, aku tidak mencintai dan tidak menginginkan ibunya? Bantu aku, Ya Tuhanku," doa Narendra di setiap kesempatan.
Jihan.
Tidak pernah dianggap. Itulah yang wanita itu rasakan. Impian menjadi mempelai wanita untuk seorang pangeran berkuda yang datang tiba-tiba dan tidak terduga seperti cerita dongeng yang dia impikan selama ini, ternyata zonk belaka.
Bukan pangeran berkuda yang datang ke kehidupannya, melainkan sang raja yang hidup di bawah kendali sang permaisuri. Sedangkan, dia membayangkan jika dirinya hanyalah pelayan nista yang menjadi korban permainan permaisuri kesayangan raja.
Membayangkan diri setiap kali becermin, berpikir nasibnya akan seperti kisah Cinderella yang diboyong ke istana oleh kekasih sejatinya suatu hari kelak. Namun, bayangkan itu kini telah musnah karena sosok Cinderella itu dia rasa tidak pernah ada di dunia nyata.
Kisahnya sangat jauh berbeda dari dongeng impiannya sejak kecil. Jangankan tinggal nyaman di dalam istana raja, di pernikahannya yang baru berjalan beberapa hari saja, dia harus menerima kenyataan bahwa sang suami menyodorkan selembar surat perjanjian peceraian yang akan terlaksana beberapa bulan mendatang.
__ADS_1
"Lebih nista dari pada nasib selir raja," pikirnya membandingkan diri dengan dongeng-dongeng yang sering dia dengar saat masa kecilnya.
Lantas, terpikirkan olehnya satu permintaan yang dia ajukan sebagai syarat peceraian pada suaminya.
Kemudian, ia mengungkapkan ide itu sebagai salah satu usahanya untuk mencoba mempertahan pernikahan dengan mengajukan syarat yang mungkin tidak akan pernah bisa dilakukan oleh seorang pria yang tidak mencintainya atau pria yang sangat setia pada istri pertamanya.
"Aku mau anak dari Anda sebagai syarat peceraian yang anda minta," ucap Jihan setiap yang kali suaminya mengatakan perjanjian perceraian yang akan dilakukan beberpaa bulan mendatang.
Setidaknya dengan mengajukan syarat itu, maka Narendra tidak bisa melakukannya dan dia akan memaksakan tinggal dan bertahan lebih lama menjadi istri kedua pria itu meskipun kelak nasibnya tidak lebih dari seorang selir raja, tetapi ada peluang untuk menumbuhkan benih-benih cinta yang di hati suaminya. Karena pada dasarnya, wanita mana yang mau diceraikan setelah seminggu pernikahan? Wanita mana yang tidak mau dicintai oleh suaminya?
Namun, persyaratan yang dikira sulit untuk dilakukan oleh suaminya, ternyata dapat diwujudkan olehnya. Setelah itu, maka konsekuensinya dia harus pergi karena syarat telah terpenuhi. Dan dia akan hidup menyendiri setidaknya sudah bersama dengan anak yang akan dia besarkan dengan sepenuh hati sebagai teman hidupnya lebih baik daripada seorang suami.
Bahkan, perjanjian yang semula telah disepakati bersama dapat dengan mudahnya sang raja melupakan itu semua, tidak lain hanya karena permintaan sang istri tercintanya.
Terkadang, muncul pertanyaan di dalam dada wanita itu,
"Kapan aku bisa melakukan itu? Kapan aku bisa menaklukan hati pria seperti yang dia lakukan pada suaminya sampai-sampai pria itu dapat menuruti apapun ucapan wanita terkasihnya. Sungguh, aku menanti hari itu tiba dan gilirannya padaku," ujar wanita itu di sisi hatinya yang licik.
Cliantha.
__ADS_1
Sang permaisuri. Dalam kehidupan Cliantha sejak kecil, dia tidak pernah dikecewakan oleh apapun. Orang tua yang sangat sayang padanya, kehidupan yang tidak sengsara, bahkakn sekarang Tuhan hadirkan sosok suami yang sangat sayang padanya.
Namun, dia bukan manusia super yang tidak mempunyai kekurangan apapun. Cobaan datang dan dia rasakan setelah pernikahan. Dokter yang tiba-tiba mendiagnosis bahwa dirinya tidak mungkin memiliki seorang anak karena terjadi kelainan di organ reproduksinya. Ovariumnya tidak bisa menghasilkan ovum yang matang dan dapat terbuahi membuatnya mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa mungkin selamanya tidak bisa mempunyai anak.
Harapan untuk membahagiakan suaminya hampir pupus, tetapi ia seperti menemukan seorang bidadari yang mau membantunya mewujudkan mimpi kecilnya dengan menghadirkan anak melalui rahimnya. Dialah Jihan, karyawan tempatnya berbisnis butik.
"Tolong bantu aku untuk mewujudkan mimpi kecilku itu, Han."
"Caranya sangat mudah, cukup menikah dengan suamiku dan menjadi istri kedua untuknya. Lalu, berikan dia kebahagiaan denganmu yang melahirkan satu orang anak untuk kami. Hanya satu, kemudian kamu boleh pergi dan aku akan memberikan banyak hadiah untukmu. Uang 1 miliar jika kamu kamu, atau kamu boleh meminta lebih dari jumlah itu," ujar Cliantha saat kali pertama dia meminta wanita bernama Jihan untuk menjadi sosok penolongnya.
Bagi wanita itu, tidak peduli jika dirinya dipoligami yang terpenting adalah bagaimana suaminya bisa mendapatkan keturunan dengan cara dan dari wanita yang baik juga. Yang Cliantha inginkan adalah satu bayi saja yang terlahir dari rahim wanita pilihannya yang dirasa baik, hanya satu anak saja sudah cukup baginya.
Namun, ternyata sang suami tidak menginginkan hal itu terjadi. Di saat telah sepakat untuk menggagalkan rencana itu dan berpikir bahwa sang suami dapat menceraikan Jihan dengan mudah, ternyata menjadi boomerang untuknya sendiri kala wanita muda itu tidak langsung bersedia menyetujui peceraian secara baik-baik dan malah meminta hal lebih dari suaminya yakni,
"Aku menginginkan seorang anak, maka barulah aku akan pergi setelahnya," ujar istri muda suaminya itu yang dia sangka wanita muda yang masih polos dan baik hati. Namun, tidak ada yang tahu jika tidak semua orang baik akan selalu bersikap baik di setiap keadaan.
Namun, bukan menjadi masalah jika yang diminta sang madu adalah hal itu karena memang sejak awal itulah yang diharapkan oleh Claintha; kehadiran seorang anak.
Bersambung....
__ADS_1