
Terlalu dalam Narendra menyakiti hati Cliantha dengan segala tuduhan buruk pada dia wanita yang berhati lembek itu, sehingga kini wanita bergamis biru muda itu hanya bisa menangis dalam diam di sudut rumah sakit.
Di tengah kesedihan itu, ia terkejut saat sesuatu menabrak kakinya.
Cliantha memungut benda berbentuk bulat itu, "Bola?" ucapnya seraya celingak-celinguk mencari siapa pemilik benda itu.
Dia berdiri, tanpa sadar ternyata dirinya sedang berada di kawasan rawat anak-anak. Banyak wahana bermain anak-anak yang sederhana dan taman hijau yang membentang cukup luas. Dapat ditebak, disanalah tempatnya anak-anak yang sedang sakit, tetapi tetap ada keceriaan terpancar dari wajah-wajah mereka.
Cliantha menyandarkan tubuhnya pada salah satu tiang beton penyangga atap, melihat makhluk keci yang sedang berjuang melawan rasa sakitnya dan digantikan dengan senyum dan tawa hanya karenga kehadiran orang-orang terkasih yang berada di sekitarnya. Sungguh, pemandangan yang sangat menyejukkan mata Cliantha.
Saat sedang cermat mengamati satu per satu anak-anak yang sedang bermain di taman itu, sisi jilbab Cliantha terasa ada yang menarik dari bawah.
Wanita itu terkejut, segera ia menahan jilbabnya dan menatap ke sisi sebelah kirinya, ternyata ada seorang anak laki-laki tengah menarik-narik jilbabnya.
"Ada apa, Nak?" Tanya Cliantha membungkuk menyetarakan dengan tinggi tubuh anak itu. Tidak ada jawaban, anak laki-laki bermata sayu dan berwajah pucat itu hanya menunjuk-nunjuk bola yang berada di tangan Cliantha.
"Oh, ini punyamu?" Tanya Cliantha yang diangguki oleh anak laki-laki itu.
"Ini, ambilah. Boleh tahu siapa namamu?" Tanya Cliantha selanjutnya. Namun, anak itu mengerutkan dahinya.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Cliantha sekali lagi lebih lembut dan pelan.
Bukan jawaban dari mulut anak itu yang Cliantha dapatkan, tetapi gerakan tangan yang tidak Cliantha pahami maknanya.
Saat itu wanita berjilbab biru muda itu mengerti jika anak di hadapannya mempunyai keistimewaan.
"Siapa? Coba lebih pelan, ya. Pelan-pelan saja," ucap Cliantha yang diangguki oleh anak laki-laki berlesung pipit di sebelah kanan pipinya dan terlihat jelas saat berulang kali anak itu tersenyum padanya.
Dengan gerakan tangan yang lebih pelan, tetapi tetap saja Cliantha tidak memahami apa yang ingin anak itu beritakukan padanya.
"A, Afif?"
"Alka?"
"Adit?" Beberapa kali Cliantha mencoba menebak apa yang coba anak itu katakan melalui bahasa isyarat, tetapi memang wanita itu buta akan bahasa isyarat.
"Maaf, saya tidak tahu kamu mengatakan apa," ucap Cliantha menyerah karena anak itu pun sepertinya sudah lelah memberitahukan namanya.
__ADS_1
"Alvin!" panggil seseorang dari belakang tubuh anak itu. Seorang bertubuh jauh lebih tinggi dan besar dari anak itu, dia seorang pria dewasa yang menggunakan jas putih dan tanda nama berawalan 'dr.' yang menggantung di sisi dada sebelah kirinya.
Pria itu menundukkan sedikit kepalanya pada Cliantha sebagai ucapan salam, lalu dia berjongkok di depan anak laki-laki itu.
Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa gerak tubuh. Bedanya, selain pria itu berbicara menggunakan tangannya, dia juga bisa bersuara dengan jelas sehingga Cliantha paham apa yang sedang mereka bicarakan.
"Alvin, Om dokter cari kamu kemana-mana. Ternyata kamu di sini? Mainnya jangan jauh-jauh, ya," ucap dokter laki-laki itu disusul dengan mencubit ujung hidung si anak.
"Oh, namanya Alvin?" Cliantha bangga setelah pertanyaan sebelmunya telah terjawab.
Dokter pria itu lantas bangkit dan berbincang dengan Claintha, "Apa Alvin mengganggu Anda, Bu?"
"Tidak, sama sekali tidak. Alvin anak yang baik dan ceria. Tadi bolanya sampai di kaki saya, jadi dia hanya meminta kembali bolanya. Maaf sebelumnya kerena saya tidak tahu kalau Alvin anak yang istimewa. Anda dokternya?" Tanya Cliantha.
Pria itu mengangguk, "Saya Gio, dokter anak di rumah sakit ini sekaligus kakak dari Alvin," ucap dokter pria itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya, tetapi Cliantha tidak bisa membalas uluran tangan pria lain selain daripada suaminya.
"Oh, maaf," ucap Gio yang merasa serba salah.
"Baik, saya ke ruangan anak-anak dulu, Bu. Maaf jika pasien saya mengganggu Anda," kata Gio yang berpamit pergi.
Bagi Cliantha, dia masih ingin melihat Alvin dan anak-anak yang lainnya sehingga kepergian dokter Gio dan Alvin, membuat Cliantha merasa kehilangan kesempatan untuk mengenal lebih banyak anak-anak.
"Bolehkah jika saya ikut? Saya ingin melihat banyak anak-anak," ucap Cliantha meminta izin.
"Silakan, Bu," sila dokter Gio mengizinkan.
Ruangan Cempaka-Khusus Anak Pengidap Kanker.
Sesampianya di pintu utama sebuah ruangan, Alvin berlari lepas menyusul teman-temannya yang berada di dalam ruangan besar itu. Di sinilah dokter itu membawa Cliantha, di koridor khusus tempat perawatan bagi anak-anak pengidap cancer. Seluruh penjuru koridor yang berisi banyak ruangan lainnya, di tempat itu menampilkan suasana ramai dan berdesain khusus seperti tempat bermain anak-anak.
"Apa semua pasien di sini pengindap kanker, maaf," lirih Cliantha bertanya.
"Benar," jawab Gio.
"Namun, sekilas mereka terlihat sehat dan baik-baik saja, Dok?"
Dokter Gio menatap Cliantha yang berdiri di sebelahnya, "Itulah keistimewaan dari anak-anak, Bu. Terkadang mereka tidak tahu caranya mengeluh saat sudah bertemu dengan teman-teman dan orang-orang yang mengasihinya. Mereka tidak tahu jika di dalam dirinya sedang tidak baik-baik saja. Namun, itulah yang membuat mereka berpeluang besar untuk mencapai kesembuhan saat merasa diri mereka baik-baik saja dan energi positif selalu berada di sekitarnya," jelas dokter spesialis anak bernama Gio itu.
__ADS_1
Cliantha dibawa berkeliling ke setiap ruangan di tempat itu. Benar, rumah sakit adalah tempat untuk orang-orang sakit, tidak terkecuali anak-anak. Meskipun yang terlihat adalah keceriaan dari wajah anak-anak, tetapi tidak sedikit pula jerit tangisan sebagian dari mereka yang sedang dibujuk untuk meminum obat atau pada saat mereka harus berhadapan dengan jarum suntik. Cliantha menyaksikan semua itu terjadi di balik bilik yang bergambar animasi lucu nan ceria.
"Are you, okey, Bu?" Tanya Gio saat melihat wanita di sampingnya meneteskan banyak air mata melihat anak-anak yang menangis kesakitan.
"Saya tidak apa-apa. I just wanna have children, but it's impossible for me," ucap Cliantha membeberkan alasan dari tangisnya.
"Saya ingin menjadi seorang ibu dan merawat anak-anak seperti yang wanita dan pria itu lakukan," ucapnya saat melihat sepasang pria wanita yang sabar memeluk anaknya yang menangis ketika dilakukan pemasangan jarum infus oleh sang perawat.
"Allah pasti sudah merencanakan apa yang terbaik untuk ibu dan keluarga. Bisa saja, suatu hari ada janin yang tumbuh dan berkembang di dalam perut ibu atas seizin-Nya. Someday, Insya Allah," ucap Dokter Gio memberikan semangat optimistis.
"Aamin... Terima kasih," hanya itu yang bisa diucapkan Cliantha terlepas dari segala kemungkinan itu karena hanya sepersekian persen yang mendasari kemungkinan itu bisa terjadi. Selebihnya, hanya bisa pasrah atau menunggu sebuah keajaiban yang Allah datangkan.
"Mau mencoba gendong bayi?" dokter itu menawarkan.
"Newborn?" tanya Cliantha antusias.
"Iya, tapi bukan di sini. Di sebelah ruang persalinan. Mari," ajak Gio memandu langkah Cliantha.
Di ruang perawatan bayi baru lahir, Cliantha dibuat menangis karena haru melihat banyaknya bayi-bayi yang masih berwarna merah berada di dalam boksnya. Dokter Gio mengambilkan satu di antara mereka dan menuntun Cliantha untuk mencoba merasakan menggendong bayi yang baru lahir.
Semula bayi itu merengek, tetapi ayunan lembut yang Cliantha lakukan membuat bayi itu tenang seketika. Bahkan, lengan tangan wanita itu sudah luwes saat menggendong bayi. Pada hakikatnya, wanita itu sudah benar-benar siap untuk menjadi seorang ibu, hanya saja masih belum saatnya.
"Bayinya langsung tenang di gendongan ibu," komentar Gio.
"Boleh saya datang ke sini waktu, Dok?"
"Hem, saya tidak bisa memastian jika saya bisa terus mendampingi. Tetapi, jika Ibu mau melihat banyak anak-anak, datanglah ke tempat saya. Ada banyak anak-anak di sana," kata dokter Gio.
"Ini kartu nama saya jika Anda berkenan datang," ucap Dokter Gio memberikan selembar kertas kecil dari dompetnya. Cliantha menerima dengan tangan yang masih pada posisi menggendong bayi kecil, "Terima kasih."
"Cliantha? Sayang?" Suara itu memecahkan fokus Cliantha yang sedang mengelus pipi si bayi.
"Lelah Mas mencarimu," kata Narendra yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan bayi.
"Kenapa pergi tanpa seizinku, hem? Ponselmu kamu tinggalkan begitu saja di ruangan Jihan, pusing Mas cari kamu di seluruh penjuru rumah sakit ini. Bayi siapa ini?" Tanya Narendra saat panndangannya teralihkan pada bayi yang berada di gendongan Cliantha.
"Bayi-bayi ini sangat lucu. Kapan kita bisa menggendong bayi seperti ini, ya, Mas?" ucap Cliantha dengan tatapan lembut pada suaminya.
__ADS_1
Narendra diam, dia hanya mengelus lembut pipi bayi berusia beberapa hari itu, "Suatu hari, Sayang. Kelak, semoga saja. Berdoalah," ucap Narendra mengecup pelipis istrinya.
Bersambung...