Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 25. Pesan Mertua


__ADS_3

Setelah Narendra mengatakan bahwa Jihan adalah istri dari teman dekatnya, satu kebohongan baru harus mereka buat untuk menutupi kebohongan lainnya.


Sampai saat ini, semua masih berjalan lnacar dan teekendali. Ayah dan bunda dari Cliantha tidak menaruh curiga sama sekali. Hanya sapuan tangan lembut yang Narendra lakukan oda istrinya supaya hati wanita itu tenang di tengah semua kebohongan.


Malam hari tiba, Daisya dan Andra memutuskan untuk pulang segera.


"Tidak menginap saja, Bunda? Ayah?"


"Tidak, besok harus mengantar Nameera ke kampusnya. Akan ada kunjungan wisata katanya," argumen Andra. Cliantha memaklumi kepergian ayah dan bundanya di hari yang menjelang tengah malam itu.


Namun, sebelum pergi. Daisya dan Rendra yang sudah berada di Dekat Mobil terlebih dulu, mereka berbincang-bincang.


"Mas, bunda percayakan kehidupan dan masa depan Cliantha padamu. Tolong jangan nodai kepercayaan bunda padamu. Cia anak kesayangan bunda, sedari kecil dia sudah pernah dikecewakan oleh keadaan yang berkaitan dengan ayah kandungnya. Jangan buat dia bersedih dengan penyebab yang sama yakni tentang laki-laki. Kamulah orangnya, Mas, suaminya. Buat dia percaya bahwa tidak semua laki-laki yang dia sayang akan pergi meninggalkanya, jangan sampai."


"Baik, Bunda," jawab Narendra manggut-manggut.


"Bun, sudah? Yuk, jalan," Andra dan putirnya yang mendekat ke arah mobil memecahkan obrolan ibu mertua dengan menantunya itu.


"Mas Ren, bunda minta tolong padamu supaya jaga Cia baik-baik, ya? Kalau dia rewel, dia bandel sama kamu bilang saja sama Bunda biar Bunda jewer anak manja ini," pesan Daisya pada menantunya dengan slengekan canda.


"Tapi, bunda mohon sama Mas, jangan sampai membuat dia menangis. Cia kalau nangis sukanya ngumpet, gak akan ngaku dia kalau sedih. Kelakuan anak manja, gimana itu deh. Kamu tahu sendiri," lanjut Daisya pada menantunya.

__ADS_1


"Tidak akan, Bunda. Rendra pun telah berjanji tidak akan menyakiti Cia sebisa yang Rendra bisa," kata anak menantunya itu.


"Bun, Cia bukan anak kecil lagi. Cia sudah dewasa bahkan sudah tua kalau bunda lupa," ucap Cliantha yang merasa dititipkan selayaknya ank kecil yang tidak mampu apa-apa.


"Mana ada? Tua mana sama bunda? Kamu masih seperti anak SMA sepert itu. Sudah jangan banyak membantah, nurut sama suami. Bunda dan Ayah pulang dulu, ya. Besok kesini lagi," ucap ibunda Cliantha.


"Hah? Apa? Besok?" Anak perempuannya itu memekik tidak terima.


"Kamu keberatan kalau bunda dan ayah sering mampir?"


"Wow, hohoho! Bukan seperti itu, Bun. Hanya saja, besok Cia dan Mas Rendra kan akan ada pekerjaan di luar. Bagaimana bisa Bunda sendirian di rumah ini?" Alasan singkat dan padat yang bisa Cliantha lontarkan untuk menutupi kegugupannya.


"Bunda bercanda. Ya sudah, sehat-sehat ya, kalian. Jagain calon cucu bunda!" Peringatan Daisya terakhir kalinya.


"Siap, Ayah. Sudah menjadi tanggung jawab Rendra," kata menantunya seraya mencium punggung tangan ayah Andra.


"Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya akan hadir seorang bayi juga di tengah-tengah kalian. Selamat, sayangku," kata Daisya sebelum kahirnya dia masuk ke dalam mobil dan melambai pergi.


Berjalannya mobil itu meningglkana pekarangan urmah Rendra dan Cia, hanya embusan angin lirih yang menjadi saksi jika kedua prang itu baru saja membuat kebohongan besar dan enatah apa sesuatu yang sedang menanti di depan sana.


"Sekarang bagaimana, Mas?" Tanya Cliantha pada suaminya.

__ADS_1


"Tidak akan terjadi apa-apa. Tenang dan jangan dipikirkan apapun," kata Narendra mengecup pelan dahi Cliantah dengan khidmat.


"Mas, tolong kamu ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Jihan. AAku khawatir dnegannya,"


"Biarkan saja, dia sudah sadar itu berarti dia baik-baik saja." anggapan Narendra.


"Mas, yang terpenting sekarang itu keadaan Jihan. Dokter mengatakan jika kandungannya berisiko atau berbahaya. Tolong, kamu pantau perkembangan dia, Mas."


"Tenang saja, sudah ada pihak rumah sakit yang akan memantau perkembangannya. Kalau ada apa-apa pasti mereka menghubungi kita," Narendra berucap mudah dan sepele.


"Cepatlah, Mas ke sana dan lihat perkembangannya. Dia seorang diri, kasihan." Perintah Cliantha mendorong tubuh Narendra supaya masuk ke dalam mobilnya dan datang ke rumah sakit menemui Jihan.


"Tidak, aku ada pekerjaan penting. Biarkan saja, dia tidak boleh manja karena akan menjadi seorang ibu juga," kata Narendra mencoba menyangkal.


Di atas ranjang rumah sakit, Jihan masih terkapar lemah. Di penglihatan Narendra, wanita yang sedang memalingkan wajahnya menghadap jendela itu tengah menangis terlihat dadanya yang naik turun dan bergetar dengan ponsel yang berada di genggamnya.


"Jihan?" Panggil Narendra pada wanita yang sedang sesegukan karena tangisnya.


Jihan terentak dengan kehadiran seseorang yang tidak ia sadari sejak kapan.


Jihan menoleh tanpa berkata apapun.

__ADS_1


"Sudah merasa baikan?" Tanya Narendra mencoba mendekat dan menempelkan telapak tangannya pada dahinya.


Bersambung...


__ADS_2