
Setidaknya, masa awal kehamilan Jihan ini, dia tidak merasa sendirian. Ada bantuan dari Cliantha dan termasuk suaminya yang selalu datang membawakan segelas susu untuknya,
"Jangan lupa diminum susunya," ujar Narendra di waktu pagi dan malam. Setiap kemunculan pria itu di depan wajah Jihan hanya untuk memberikan segelas susu untuk istri keduanya.
Tidak, tetaplah tidak bagi Jihan yang pantang meminum susu itu, "Mbak?" Ujarnya pada Cliantha yang datang di waktu yang tepat.
"Sini, biar kubuang saja," ujar Cliantha yang sudah muak meminum susu ibu hamil rasa vanila itu. Dia sudah bosan karena sudah hafal rasa dan aromanya yang menusuk indera penciuman.
Siapa yang hamil, siapa juga yang harus menghabiskan susunya. Setidaknya seboks susu sudah Cliantha habiskan yang seharunsya jatah susu hamil untuk Jihan.
Mulai kali ini, tidak lagi. Sampai kapan dia akan terus meminum susu itu jika ternyata Narendra telah membelikan satu lemari penuh susu untuk ibu hamil dengan merk dan rasa yang sama.
Namun, saat keluar dari pintu kamar JIhan, ternyata Narendra berada di luar dan akan masuk ke dalam kamar itu.
"Mau di bawa kemana susunya?" Tanya pria itu.
"Ue, hem. Ini mau ditambah lagi, katanya kurang manis, kata Jihan," jawab Cliantha sekenanya.
"Aduh, bodohnya aku. Kenapa harus itu alasannya?" Kata Cliantha yang merutuk di dalam hatinya,
"Oh, sini biar Mas yang tambahkan. Tadi memang sepertinya takarannya kurang satu sendok," ujar Narendra mengambil gelas itu dari tangan Cliantha.
Kedua mata wanita itu bersitatap, sedangkan Cliantha sudah dapat membayangkan bagaimaan jadinya jika takaran susu itu ditambahkannya lagi. Namun, apa boleh buat sudah kadung terucap dan pria itu telah membawa pergi minuman itu.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, Narendra kembali ke kamar yang sama untuk memberikan lagi segelas susu kepada JIhan untuk diminumnya.
"Bangunlah, ayo diminum susunya. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Narendra menatap perut JIhan yang masih kempis.
Jihan mencoba bangkit dari posisi berbaringnya, "Baik, Pak," jawab Jihan menatap ke arah yang sama.
"Ayo, cepat diminum. Jangan hanya dilihat saja gelasnya," kata Narendra.
Sekali lagi, tangan Jihan bergetar melihat cairan berwarna putih itu bergoyang-goyang di dalam gelasnya.
"Saya tidak minum susu," kata Jihan lagi, tetapi dia menerima gelas yang disodorkan padanya.
"Kalau tidak minum susu, selama ini apa? Sudah, jangan banyak alasan. Ini sudah kutambahkan susunta, tidak mungkin hambar," kata Narendra.
"Tidak suka dengan baunya, Mbak," kali ini jIhan meminta bantuan Clianta yang berdiri di dekat mereka. Bahkan wanita itu tidak bisa berkutik atau pun memmbantu Jihan karena ada Narendra yang mengawasi mereka.
Namun, Cliantha masih terus mencari ide lain untuk membantu Jihan sebisa dia, "Mas, katanya kamu ada pertemuan malam ini? Aku bantu siapkan, ya?"
"Tidak jadi," jawab pria itu datar. Tidak henti memperhatikan Jihan yang tidak kunjung meneguk susu dari gelas yang dipegangnya.
"Ya sudah, aku sudah siapkan makan malam. Pasti Mas lapar, kan?" Bujuk Cliantha supaya pria itu mau mengalihkan fokusnya dari Jihan.
"Nanti, tunggu dia menghabiskan susunya," jawabnya tak mengalihkana pandangan sedikit pun.
__ADS_1
"Cepat, habiskan," perintah Narendra yang mulai kesal menunggu wanita itu memimun susunya.
Dengan tangan yang bergetar, Jihan pun mau tidak mau harus meneguk cairan berwarna putih yang terasa legit itu. Perlahan dengan menahan napas supaya tidak aroma susu itu tidka sampia masuk kedalam rongga hidungnya, ia mulai menyesap susu yang terasa getir di lidahnya.
Seteguk, dua teguk susu itu berhasil masuk ke dalam kerongkongannya. Kemudian,
Burrb!
"Huek, huek!"
Susu itu menyembur keluar dari mulut wanita itu dan ia memuntahkan semua yang telah diteguknya.
"Huek!"
"Jihan! Ya Allah," pekik Cliantha yang melihat Jihan muntah-muntah di atas ranjangnya.
Berbeda dengan Cliantha yang histeris dan memundurkan langkahnya, pria itu sudah berada di bawah ranjang dan bersiap menahan tubuh Jihan yang nyaris terjatuh ke lantai karena mencoba mengeluarkan apa yang ada di dalam isi perutnya.
"Jihan?" Panggil pria itu lirih untuk memastikan jika wanita itu baik -baik saja dan tidak pingsan.
"Pak, perutku," isaknya seraya meremas perutnya, entah apa yang sedang wanita itu rasakan dengan perutnya.
"Tenang, sabar, ayo kita ke rumah sakit," ujar pria itu dnegan sigap membopong Jihan dan melewati Cliantha begitu saja.
__ADS_1
Bersambung...