
Malam itu, saat Jihan tidak sadarkan diri Cliantha lebih banyak diam. Sebaliknya, suaminya yang sibuk mengurusi semua administrasi rumah sakit untuk keperluan penanganan Jihan. Cliantha tidak membantu banyak, selain turut menjaga Jihan yang masih tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.
Saat proses pemeriksaan dilakukan oleh dokter, orang pertama yang paling cemas adalah Narendra. Pria itu merasa bersalah karena terlalu memaksakan Jihan untuk meminum susunya. Di depan ruang UGD, Narendra mencoba bersikap tenang, tetapi kekhawatirannya tidak bisa dia sembunyikan. Pria itu berjalan mondar-mandir, tidak bisa duduk dengan tenang seperti yang Cliantha lakukan.
Wanita bergamis merah muda itu mendekati suaminya, menyalurkan ketenangan yang dia punya.
"Mas, kamu tenanglah. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Jihan dan bayinya," ucap Cliantha yang menyadari kecemasan yang dirasakan suaminya dengan dia yang meraih tangan Narendra yang terasa dingin itu.
Entah mengapa, Cliantha lihat, suaminya sudah bisa menerima Jihan di dalam hidupnya. Sekarang dia yang merasakan senang sekaligus ketakutan. Senang karena pria itu sudah mulai peduli pada istri keduanya, tapi juga takut jika nanti dirinyalah yang harus tersingkirkan.
Namun, ia selalu bisa menenangkan hatinya karena yang dia tahu suaminya begitu mencintainya sehingga tidak akan mungkin jika pria itu berpaling, paling tidak Narendra pasti akan berlaku adil kepada kedua istrinya. Begitu pikir Cliantha.
Narendra menyentuh pipi istrinya, "Tapi, selama in dia baik-baik saja meminum susu itu," ucap narendra heran.
Cliantha menggeleng, "Dia tidak pernah meminum susunya, aku yang selalu menghabiskannya,"
"Benarkah? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya? Jadi, semua ini kesalahanku, Sayang. Aku yang terlalu memaksakan, kita tidak tahu dia ada trauma atau alergi terhadap susu. Kamu juga tidak tahu, kan?
Cliantha mengangguk, "tapi, aku pikir tidak akan menjadi masalah besar karena Jihan pun telah memuntahkan semua isi perutnya tadi. Semoga hal baik akan selalu mengiringinya," ujar Cliantha mendoakan yang terbaik untuk madunya.
"Benar, kamu benar. Aamiin," ujar Narendra seraya memeluk istrinya. Kemudian, pria itu bisa lebih tenang setelah Cliantha mengatakan steatment tersebut.
"Dia akan baik-baik saja karena telah memuntahkan semua," ujar Narendra memantapkan hatinya.
Dalam pelukan suaminya, Cliantha dapat mendengar degupan jantung Narendra yang terdengar berisik di dalam dadanya dengan irama yang tidak menentu. Dia bisa mengira jika suaminya dalam keadaan khawatir saat ini.
__ADS_1
"Mas, jantungmu berdedup kencang. Kamu masih cemas?" Tanya Cliantha yang mendongakkan kepala.
"Iya, aku takut jika sampai terjadi sesuatu padanya atau membuat wanita itu sakit," jawab Narendra menundukkan kepalanya.
Cliantha mengangguk, dia sangat tahu bagaimana perangai suaminya yang selalu tulus kepada siapa pun. Kemudian, dia teringat dengan cerita ibu mertuanya jika sungguhnya, pria itu pantang untuk menyakiti wanita. Cliantha tahu jika di pikiran suaminya, wanita adalah makhluk yang harus dimuliakan, begitu ajaran yang sang suami dapatkan dari ibundanya.
Sampai sini Cliantha paham, mengapa Narendra begitu cemas dan tidak bisa tenang sebelum mendengar kondisi wanita itu dari dokter secara langsung yang mengatakan jika Jihan baik-baik saja.
"Tolong, kamu jangan salah sangka," ucap Narendra selanjutnya.
"Sama sekali tidak. Mas pasti tahu kalau aku sudah sangat paham denganmu," ujar Cliantha menenangkan hati suaminya.
Saat dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Narendra yang menggandeng Cliantha langsung berlari mendekat pada dokter itu dengan membawa serta istrinya.
"Apa tidak ada alergi atau semacamnya, Dok?"
"Tidak ada, Pak. Hanya perlu dibiasakan saja, maka tubuhnya berangsur akan menerima secara perlahan. Oh ya, beliau sedang mengandung, ya? Kandungannya cukup lemah, mohon diperhatikan kesehatan dan nutrisi ibu dan bayinya," ucap dokter itu.
"Sekarang beliau dalam pengaruh obat bius supaya dapat beristirahat dengan cukup. Besok pagi akan sadar kembali," jelas dokter.
Setelah kepergiaan sang dokter, Narendra tidak tanggung-tanggung memesan kamar rapat inap dengan pelayanan terbaik di rumah sakit itu demi pemulihan seorang wanita yang telah dibuat 'sakit' olehnya.
Melihat seorang wanita yang berbaring lemah di bawah selimut dingin rumah sakit, membuat Narendra merasa menjadi pria pengecut karena telah membuat sakit seorang wanita. Kemudian yang terpikirkan adalah saat ibunya disakiti oleh sang papa dan membuat wanita yang telah melahirkannya itu terus-terusan menangis.
Di depan tubuh Jihan, pria itu mengucapkan permohonan maafnya.
__ADS_1
"Maafkan, aku," sesederhana itu dia mengucapkan maaf untuk wanita yang sebenarnya bukan siapa-siapa di hidupnya. Namun, janjinya pada sang bunda membuatnya harus menjaga perasaan wanita mana pun dan berjanji untuk tidak pernah menyakiti perasaan kaum hawa mana pun.
Di ruang rawat inap bertaraf eksklusif itu, Cliantha terjaga sepanjang malam karena menemani Narendra yang tidak kunjung tenang dan tidur di bed yang tersedia khusus untuk keluarga pasien yang menginap.
"Mas, apa kamu tidak akan tidur sepanjang malam?"
"Sebentar lagi. Kamu duluan saja, Sayang," ucapnya pada Cliantha.
Namun, wanita itu bosan mendengar jawaban yang keluar dari mulut suaminya yang sejak tadi hanya berkata 'sebentar lagi'.
"Sejak tadi mas bilang sebentar lagi. Ini sudah pukul 2 malam, kamu istirahatlah," kata Cliantha yang berdiri di sisi suaminya yang duduk di sebelah ranjang Jihan yang sedang tertidur tenang di bawah pengaruh obat tidur.
"Kenapa hatiku tidak bisa tenang? Padahal aku sudah mendengar dari dokter jika dia baik-baik saja. Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Narendra entah kepada siapa.
"Mas, itu karena kamu sebelumnya tidak pernah membuat orang lain menderita. Mas tidak pernah menyakitiku atay orang lain secara sengaja, tapi percayalah jika kamu pun tidak sedang menyakiti dia. Kamu malah ingin melakukan yang terbaik untuk Jihan dan bayinya," terang Cliantha.
Lalu, pria itu mengangguk-angguk, barulah berangsur-angsur dia bisa duduk tenang dan lama-kelamaan dia tertidur di sisi tempat tidur Jihan dalam posisi terduduk. Cliantha tidak berniat untuk membangunkannya dan memintanya untuk tidur di bed yang tersedia atau pria itu malah akan kehilangan rasa kantuknya lagi.
Pagi hari, setelah salat dhuha, Cliantha tidak langsung masuk ke dalam rawat inap Jihan. Langkahnya terhenti saat dia akan membuka pintu kamar itu, tetapi dikejutkan dengan pemandangan yang dilihat dari celah pintu yang sudah sedikit terbuka, dia dapat melihat Jihan yang sedang memandangi wajah Narendra dan sesekali mengelus rambut kepala suaminya itu.
Jujur saja, ada sedikit denyutan di hatinya saat melihat tangan wanita lain menyentuh suaminya. Cliantha juga tahu jika Jihan kembali berpura-pura tertidur saat Narendra merasa terganggu dalam tidurnya.
Puncaknya saat Cliantha melihat mereka berdua saling menyuapkan makanan dari alat makan yang sama sampai akhirnya Cliantha merasa tidak enak hati terus melihat pemandangan itu dan memutuskan untuk keluar kamar dengan alasan akan meminta petugas kebersihan mengepel lantai yang basah karena jus yang sengaja dia tumpahkan.
Bersambung....
__ADS_1