Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 29. Tersisihkan


__ADS_3

Hanna sangat perhatian pada menantunya yang kedua, seharian itu dia yang mengurus semua tentang Jihan dan calon bayinya. Tidak akan membiarkan siapapun mengganggu atau membantah ucapannya tentang Jihan dan kandungannya. Memanjakan Jihan dengan kasih sayang yang membuat wanita itu tersenyum puas pada beberapa sikap mertuanya yang over perhatian. Dan tentu, itu yang tidak Jihan dapatkan dari orang tuanya sendiri.


"Minumlah ini, susu jahe," ujar Hanna memberikan segelas susu hangat pada Jihan.


"Jihan tidak minum susu, Ma," kata Narendra memberitahu sang mama fakta tentang Jihan.


"Hush, kenapa memangnya? Ada alergi?" Tanya Hanna lembut pada Jihan secara langsung.


Jihan menggeleg, "Saya tidak pernah minum susu sebelumnya, jadi..."


"Oh, kalau itu masalah yang berbeda. Kalau susu ini pasti kamu suka, mama janji ini tidak akan membuatmu mual. Susu jahe, hangat dan segar buat kamu," bujuk Hanna seraya mengelus kepala JIhan dengan lembut. Memaksa secara tidak langsung supaya Jihan mau meminum susu buatannya itu.


"Nah, habiskan? Enak kan? Tidak enek?" Tanya Hanna yang melihat susu itu tandas oleh Jihan dalam beberapa kali tegukan tanpa respons mual atau muntah.


"Nanti mama berikan resep pada Cliantha, biar dia bisa membuatkan susu ini setiap hari untukmu," kata Hanna selanjutnya yang membuat Cliantha dan Narendra yang berdiri di dekat mereka saling berpandangan. Lantas, melihat istrinya yang menunduk, tangan Narendra merangkul tubuh Cliantha dan mengelusnya.


Karena selalu menyalahkan Cliantha atas semua hal yang Narendra lakukan dan berujung pertentangan pada keinginan sang mama. Akhirnya, Narendra mengikuti saran dari Cliantha untuk menuruti keinginan sang mama dan mengizinkan mama mertua berada di rumahnya untuk menginap.


Malam ini, untuk pertama kalinya Cliantha tidak tidur bersama suaminya meski keduanya berada di satu rumah yang sama. Hari ini, dia tidur sendiri di kamar terpisah dari kekasihnya.


Menghadap ke dinding yang dingin, mencoba mengosongkan pikirannya dan memejamkan mata. Berharap hari esok akan lebih baik daripada hari ini, tetapi tiba-tiba satu tangan melingkupi perutnya.


Cliantha terhenyak dan seketika membuka matanya yang sempat terpejam kala terdengar suara bisikan yang sangat dekat bahkan bibir itu menyentuh telinganya, "Kamu sudah tidur?" Tanya seseorang yang entah sejak kapan berada di belakangnya tanpa wanita itu tahu.


Sontak, Cliatha membalikkan tubuhnya. Menatap lekat wajah pria yang selalu memenuhi isi kepalanya. Memeluk pemilik tubuh ternyaman yang setiap malam menjadi bantal hidupnya.

__ADS_1


"Jangan pergi. Aku takut Mas berubah," bisik Cliantha di dada suaminya. Membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya itu.


"Mana mungkin. Aku yang takut jika kamu berubah dan menjauh dariku, Yang," kata Narendra mengusap kepala istrinya yang masih terbalut jilbabnya.


"Mas mau tidur di sini?" Tanya Cliantha mendongak menatap wajah Narendra yang saat itu sedang memandanginya juga.


"Iya, tentu. Mau di mana lagi? Di mana pun kamu berada, di situah aku ada," kata Narendra dengan tawa kekehan.


"Auh! Sakit, sayang." keluhnya saat Cliantha mencubit perutnya.


"Gombal, itu menggelikan jika kamu yang mengucapkan," kata Claintha yang masih saja salah tingkah saat suaminya bersikap sok romantis.


Membiarkan malam ini hanyut dalam mimpi indah dan tidur tennag bersama-sama, kedunya sudah siap masuk ke dalam alam bawah sadar mereka masing-masing dalam keadaan saling memeluk dan hati yang bahagia seperti biasanya.


"Ren! Rendra, kamu di dalam?"


"Ren, buka pintunya, Ren! Ini mama," Hanna mengetuk pintu seperti rentenir yang menagih utang.


"Ck, biar aku saja yang buka. Kamu tidurlah," ucapnya menarik tangan yang semula menjadi bantal tidur Cliantha.


Pintu yang tidak terkunci, lalu dibuka oleh Narendra dengan mudahnya. Tanpa bertanya 'ada apa', raut wajah Narendra yang masam sudah dapat menunjukkan jika kedatangan mama mengganggu waktu tidurnya.


"Maaf, mama mengganggumu, ya?" sadar jika telah mengetuk pintu secara brutal dan membuat waktu tidur putranya terganggu, wanita paruh baya itu mau meminta maaf.


Namun, setelahnya, dia kembali mengutarakan maksud utamanya mengapa mengedor pintu di waktu lewat tengah malam itu.

__ADS_1


"Ren, Jihan mual dan muntah-muntah di kamarnya. Mama tidak tahu dia kenapa, tiba-tiba saja begitu."


Setidak peduli-pedulinya pria itu pada sang istri kedua, dia tetap mau menolong apabila terjadi sesuatu padanya. Tanpa meminta pendapat Claintha yang menunggunya di atas ranjang, pria itu segera bergegas setelah hawa kepanikan menguasai dirinya.


Di dalam kamar yang sebenarnya menjadi tempatnya, didapati seorang wanita dalam keadaan kejang-kejang di atas ranjangnya.


"Ya allah, Han? Jihan? Kamu kenapa?" Narendra berlari ke arah wanita itu. Memeriksa tubuh mungil sanga wanita yang tengah kejang, gigi menggertak kuat, dan mulut yang berbusa.


"Tubuhnya sangat panas. Kenapa dia, Ma?" Tanya Narendra, tetapi sekarang dia tahu apa penyebabnya. Yakni, di tangan kiri wanita itu sedang menggenggam, sedangkan di bawah ranjang terdapat wadah obat yang sudah berceceran isinya.


"Mungkinkah dia meminum obat-obatan itu?" Tanya Narendra di dalam hati.


Tanpa menunggu lama, pria itu langsung membopong tubuh itu dan membawanya ke rumah sakit.


Saat berada di bawah, Cliantha yang turut khawatir dengan keadaan Jihan yang kaku dan kejang-kejang itu berulang kali bertanya pada suaminya, "Ada apa, Mas? Jihan kenapa?"


"Ada apa dengan dia? Jihan kenapa, Mas?" Tanya Cliantha berulang kali, tetapi tidak mendapatkan satu jawaban pun dari mulut sang suami.


Narendra bungkam, entah karena pria itu sedang tidak fokus saat ditanya atau sengaja tidak mau menjawab, tetapi tidak seharusnya dia menghentikan pertanyaan wanita itu dengan cara menyentak sehingga menyakiti perasaan Cliantha dengan berkata, "Diam, Cia! Jangan banyak bertanya, cepat bukakan pintu mobilnya!" Kata Narendra yang sedang kesusahan membopong Jihan saat mereka sudah sampai di garasi.


Untuk pertama kalinya, Cliantha meradang sekaligus merasa bersalah karena tidak peka dengan keadaan dan menjadi kali pertama dirinya mendapat gertakan dari suaminya sendiri.


Dengan tergesa, seorang diri Narendra langsung membawa tubuh istri keduanya yang sudah kaku dan kejang-kejang itu ke poli ibu dan anak, mencari pertolongan pertama yang entah tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa di rumah sakit itu kala tengah malam seperti ini. Malam itu, dia kembali menjadi manusia yang paling panik di dunia karena melihat keadaan Jihan yang meregang nyawa kesekian kalinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2