Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 30. Mengikis Jarak


__ADS_3

Malam itu, dinginnya angin malam bukan menjadi pantangan untuk Narendra menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang sudah sepi hanya untuk mencari tenaga medis yang mau membantunya.


Untunglah, masih ada dokter yang sedang bertugas di rumah sakit itu. Dengan cepat, Jihan bisa mendapatkan pertolongan segera. Diarahkan untuk masuk ke dalam ruang UGD, Jihan medapat penangan utama. Narendra dengan mata kantuknya, ia tetap setia berjaga dan duduk di kursi tunggu dengan kepala yang mengangguk-angguk karena kantuk yang tidak tertahankan.


Saat tubuh pria itu hampir tumbang karena sudah di ambang batas kesadaaran, belum sampai kepala itu menyentuh lantai ada seseorang yang menangkap tubuhnya dan membawa kepala Narendra dalam dekapan. Siapa lagi jika bukan Cliantha.


Wanita itu datang di waktu yang tepat saat suaminya sudah tidak mampu lagi menjaga keseimbangan dirinya dan sebelum ia celaka dengan kepalanya yang hampir terbentur lantai rumah sakit, Cliantha menangkap dan memeluknya.


"Kamu kelelahan, Mas," kata wanita itu mengusap rambut kepala Narendra.


"Kenapa kamu ke sini? Harusnya di rumah saja," ucap Narendra.


"Pulang saja. Yuk, aku antar," ajak Narendra yang bangkit dari posisinya dengan membawa serta Cliantha supaya ikut dengannya..


Cliantha enggan, dia menahan dirinya supaya tidak bisa dibawa dalam gandengan Narendra.


"Aku mau di sini bersamamu," ucapan itu membuat Narendra tidak bisa memaksa.

__ADS_1


"Nanti kamu kurang istirahat."


"Tidak apa. Biar kita sama-sama lelah. Kita akan bersama-sama menanggung ini semua karena Jihan adalah tanggung jawab kita," saut Cliantha. Pria itu tidak dapat melawan apa kata isrinya yang perhatian dan sepengertian itu. Jika di dunia ini ada alat pengukur perhatian, maka Cliantha lah pemenangnya.


Pada akhirnya, mereka pun bersama-sama menunggu dokter keluar dari dalam ruangan. Narendra yang tidak mampu menahan kantuknya akhirnya tumbang jua. Dia akhirnya tidur di pangkuan Cliantha, sedangkan wanita itu pun ikut terlelap dalam posisi duduknya.


Esok hari telah tiba, awan sudah berwarna biru cerah dan banyak orang-orang yang melintas di depan mereka. Namun, kedua orang itu dalam posisi yang masih sama seperti semalam. Bedanya, perlahah mereka mulai terjaga.


"Mas, bangun. Bangunlah," kata Cliantha seraya menepuk pelan pipi suaminya berulang.


Menguap dan meregangkan tubuhnya sejenak, barulah pria itu sadar dan bangkit dari posisinya. Dia sendiri tidak sadar jika hari telah terang.


"Di mana dokternya, Sayang?" Tanya pria itu celingukan mencari dokter yang semalam memeriksa Jihan.


"Aku juga belum lihat, kita sama-sama ketiduran, Mas," jawab Cliantha yang tidak bisa dipungkiri oleh keduanya jika mereka sama-sama terlelap sampai tidak sadar kapan dokter itu keluar dari ruang pemeriksaan.


Selagi mencari musala untuk melaksanakan salat subuh yang tertinggal tidak sengaja, tetapi mereka terpisah saat Narendra dipanggil oleh seorang dokter dan diminta untuk masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Satu jam terpisah, Narendra mengirimkan pesan kepada Cliantha supaya tidak perlu menunggunya di musala dan langsung ke ruangan Jihan karena dirinya sudah berada di sana.


Cliantha menurut, dia langsung menuju ruang UGD di mana Jihan masih berada di sana sebelumnya. Namun, kamar itu kosong. Sudah rapi dan tidak ada orang sama sekali.


Alhasil, dengan bantuan petugas di bagian administrasi. Cliantha dapat menemukan dimana ruangan Jihan, "Kamar rawat VIP lantai 3, Paviliun Melati 3C, Bu," ucap resepsionis wanita.


Sedangkan, telepon yang sejak tadi dia dial pada nomor Narendra tidak juga mendapat jawaban. Pikirannyay berkelana, mungkin saja sedang terjadi sesuatu pada Jihan yang membuat pria itu kerepotan mengurus Jihan seorang diri sehingga tidak sempat menjawab telepon darinya. Itulah yang menjadi alasan Cliantha untuk bergegas supaya cepat sampai tujuan.


Langkahnya mantap dan ingin segera sampai di tempat, dan sampai juga di kamar yang dituju. Pemandangan pertama yang Cliantha lihat saat dia membuka pintu adalah saat suaminya sedang berpelukan dengan wanita lain dengan begitu dekat dan erat nyaris tanpa jarak dengan posisi sama-sama terduduk di atas ranjang rawat pasien.


Jihan yang sedang menangis histeris dalam pelukan Narendra, terlihat pilu. Tanpa berniat mengganggu, Cliantha hanya diam dan berdiri di dekat pintu memandangi kedua insan manusia yang sedang berpelukan erat dan yang satunya mengelus punggung si wanita dengan teratur dan membisikkan kata-kata atau deretan doa yang Cliantha tidak bisa dengar dengan jelas dari jarak yang lumayan jauh itu.


"Semuanya akan baik-baik saja, Jihan. Jangan merasa sedih, ada saya di sini. Okey?" Kata Narendra saat dia melepaskan pelukannya pada tubuh wanita itu dan menangkup wajah Jihan dengan tatapan lembut. Selanjutnya, tanpa diduga dan tidak disangka-sangka Narendra mengecup dahi Jihan dengan khidmat yang membuat sudut hati Cliantha berdenyut seketika saat melihat kejadian itu tepat di depan mata.


"Saya mohon, Bapak jangan bilang ini ke siapa-siapa. Saya mohon, biarlah ini menjadi rahasia kita berdua," ucap Jihan menggenggam tangan Narendra, dia menginginkan sebuah sesuatu tetap menjadi rahasia di antara mereka berdua.


Cliantha yang merasa tidak diikutcampurkan, merasa dikesampingkan, "Rahasia apa, Jihan, Mas Rendra?" tanya wanita itu pada dua orang yang masih duduk berhadapan di atas ranjang pasien.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2