Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 19. Tertangkap Basah


__ADS_3

Di hari Minggu, Jihan dan grup band Bastian mengadakan kegiatan amal di tengah taman kota. Sebenarnya tidak murni kegiatan amal karena sebagian kegiatan mereka adalah menjual lukisan karya Bastian yang keuntungannya murni untuk diri mereka sendiri.


Di tengah kerumuann banyak orang yang sedang berekreasi, Jihan bernyanyi dan bergoyang santai berputar-putar bersama dengan anak-anak kecil yang mengelilinginya.


"Selamat pagi semuanya," Sapa Jihan di tengah taman kota pada para pengunjung di sana.


"Memandangmu, walau selalu...." Ia mulai bernyanyi, lagu mendayu-dayu yang Jihan nyanyikan dengan indah mampu menarik perhatian pengunjung di sana.


"Terima kasih, Bu, Pak," ujar Jihan saat beberapa orang memberikan lembaran uang yang mereka masukkan ke dalam dus yang tersedia.


"Tak akan pernah beri jemu di hatiku, terima kasih, Bu," katanya di sela-sela lagunya hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang bersimpati dan mau menyumbangkan sedikit uangnya.


"Menyapamu, walau selalu masih terasa merdu bagai di awal jumpa. Mari berdendang semuanya!" Seru Jihan pada kerumuan orang yang memadati lokasi dimana Jihan dan grupnya bernyanyi.

__ADS_1


"Mencari, apa yang aku cari. Merangkai rindunya hatiku."


"Asyik! Hobah!" Seru si drumer alias Vando.


Jihan memutarkan badannya sebelum menuju Chorrus lagunya,


"Bulan bawa bintang menari, iringi langkahku. Malam hadir bawa diriku berjumpa denganmu. Dua hati satu tujuan melangkah bersama. Huhu....." Lemah lembut Jihan membawakan lagu itu dengan penuh kesyahduan dan nikmat saat didengar telinga.


Semakin lama Jihan bernyanyi, semakin banyak orang yang menggerubungi. Seperti sekumpulan semut yang melihat gula, itulah yang terlihat di tengah taman kota karena penampilan Jihan dan band-nya.


Untuk memastikan bahwa wanita itu adalah orang yang dia kenal, Narendra turun dari mobilnya dan menatap ke arah yang sama sampai wanita yang sedang bernyanyi itu melihat ke arah Narendra.


Suaranya yang sedang bernyanyi dengan merdu, lalu diam seketika saat matanya menatap mata milik seorang pria yang sangat ia segani. Dalam sekejapan mata, wanita itu tiba-tiba kabur dan menghindar dari lokasi tanpa tahu akan kemana.

__ADS_1


Narendra mengejarnya, wanita itu berlari entah kemana.


"Benar, dialah orangnya. Apa dia wanita panggung yang biasa berjoget di depan orang banyak seperti itu? Tidak kusangka," ujar Narendra pada dirinya sendiri dengan menggeleng-gelengkan kepala.


Bug bug bug. Derap langkah kaki seseorang berlari menyusul di belakang Narendra.


"Pak, ada apa? Anda mengejar apa? Apa ada pencopet?" Tanya Bahri, asistennya.


Narendra bingung dengan dirinya sendiri, dia baru menyadari jika dia telah berlari sejauh itu hanya karena melihat wanita itu berlari saat melihatnya.


"Apa ada pencopet, Pak? Saya laporkan polisi," kata Bahri cemas.


"Tidak, Bahri. Itu tadi saya hanya.... Sudah, lupakan! Ayo kembali," ucap Narendra yang kehabisan kata-kata. Kemudian, dia merangkul Bahri untuk berputar balik kembali ke tempat sebelumnya.

__ADS_1


Setelah itu, Narendra merogoh saku dari balik jasnya untuk mengambil ponselnya. Berniat mengrimkan pesan pada Jihan, "Saya melihatmu berlari saat sedang bernyanyi," tulis Narendra pada Jihan melalui aplikasi pesan singkat.


Bersambung...


__ADS_2