
Di dalam ruang tertutup yang biasanya berfungsi sebagai tempat pertemuan Narendra dengan klien pentingnya yang datang ke rumah. Hari ini ruangan itu menjadi tempat persidangan untuk dirinya sendiri.
Duduk berhadapan dengan Cliantha yang diapit oleh kedua orang tuanya dan mertuanya–Nabilah, sedangkan dirinya berada di seberang diapit oleh Mama Hanna dan istri keduanya.
Sejenak, Narendra seperti tersangka yang bersitatap dengan hakim dan korban yang tidak lain istri dan mertuanya. Narendra tidak kuasa untuk terus bertatapan dengan para pemilik mata itu. Yang bisa dia lakukan adalah menundukan kepala dalam-dalam dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi saat ini.
“Sekarang apa yang kamu jelaskan pada kami, Ren? Apakah kepercayaan ayah dan bunda kepadamu tidak ada artinya?” Ujar Ayah Andra mengawali pembicaraan.
“Kepada seorang pria yang sudah kami beri kepercayaan atas kebahagiaan putrinya, hidup matinya kepadamu. Tetapi, ayah dan bunda mengira jika kamu seakan tidak lagi amanah, maka ayah boleh mengambil kembali putri ayah daripada dia tersakiti,” ucap ayah Andra melanjutkan.
Pria yang sejak tadi menundukkan kepala, dia termangu seketika saat sang ayah mertua mengatakan akan membawa kembali Cliantha. Itu berarti, istrinya akan pergi.
"Itu tidak boleh terjadi!" pekik suara hati Narendra.
Pada saat itu, Narendra bangkit dan bersimpuh di kaki mertua. Dengan tangis meratap, dia tidak segan untuk menangis dan memohon, “Tidak Ayah, jangan bawa Cia pergi. Rendra mohon jangan bawa pergi Cliantha, Rendra tidak bisa hidup tanpanya. Rendra tidak mau berpisah dengan Cia. Tolong, jangan, Yah,” ucapnya bersimpuh dan memosisikan diri serendah-rendahnya di kaki sang ayah mertua.
“Rendra berjanji pada ayah, bunda, dan semuanya bahwa aku akan berusaha membuat Cliantha bahagia. Jangan pisahkah kami, Yah, Bunda.”
Dengusan napas berat Ayah Andra embuskan, “Namun, itu akan tetap ayah lakukan jika memang itulah yang terbaik untuk kalian terutama untuk Cliantha putri ayah,”
“Tidak Ayah, aku yakin jika itu bukan yang terbaik untuk kami,” kembali Narendra menjawab.
“Ayah tidak bisa memutuskan, yang bisa memutuskan ialah Cliantha. Ayah serahkan sepenuhnya kepada kalian. Mau seperti apa penyelesaiannya, asalkan apa yang membuat Cia merasa nyaman dan bahagia,” ujar Ayah Andra memberikan kesempatan pada keduanya untuk mengambil keputusan.
Dengan segala kerendahaan hati yang dia punya, pria itu berlutut tanpa keraguan sedikit pun. Memang itulah yang harus dia lakukan sabagai satu-satuya cara supaya sesuatu yang berharga miliknya tidak pergi darinya.
Kini, dia depan Cliantha, Narendra merebahkan kepalanya di pangkuan Cliantha. “Jangan pergi, Sayang. Kamu sungguh akan meninggalkanku? Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tidak bisa, Cliantha.”
__ADS_1
Cliantha begitu tahu bagaimana perasaan suaminya saat ini. Jelas, dia tidak bisa membayangkan bagaimana pria itu jika tanpa dirinya. Cliantha dapat memastikan jika permohonan sang suami supaya dirinya tidak pergi bukanlah bualan semata, dia tahu jika suaminya benar-benar ketakutan bilamana dirinya pergi meninggalkan dia dan seluruh kehidupan pria itu.
Cliantha mengangkat wajah itu supaya menatap padanya, Cliantha menggeleng seraya mengusap bekas-bekas air mata yang ada di wajah suaminya.
“Mas, tidak ada yang akan pergi. Aku akan tetap di sini bersamamu,” ucap Cliantha dengan senyuman sempurna yang selalu membuat Narendra tergila-gila pada pemilik senyum itu karena selalu ada ketulusan yang terpancar serta dengan muculnya senyuman itu.
Narendra berbinar, ia memeluk wanita tercintanya erat-erat.
“Bunda, Ayah. Cia akan bertahan di rumah ini bersama Mas Rendra,” ucap Cliantha memutuskan.
Semua orang diam tanpa respons. Dari pihak orang tua, tidak ada yang bisa membantah keputusan yang telah anak-anak putuskan. Hari itu berakhir dengan penyelesaian yang telah diambil bahwa antara hubungan Narendra dan Cliantha tidak ada yangn berubah.
Di waktu menjelang pulang, Daisya memeluk Cliantha dengan eratnya.
“Rumah ayah dan bunda selalu terbuka untukmu. Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Sayang,” ujar Bunda Daisya mengecup kening Cliantha dalam-dalam.
“Rendra pastikan itu tidak terjadi, Bun,” ujar Narendra mantap.
Kini ayah Andra berada di hadapan mereka, “Bun, sudah siap? Ayo,”
Cliantha merasa jika ayahnya masih kecewa dengan dirinya, “Ayah,” panggil putri sulungnya.
“Pengin peluk,” kata Cliantha setelah sang ayah menatapnya.
Detik berikutnya, Ayah Andra membuka kedua tangannya. Mempersilakan anak perempuannya itu memeluk tubuhnya sepuasnya sebelum mereka berpisah.
“Ayah jangan marah sama Cia,”
__ADS_1
“Tidak, tapi tolong beri tahu ayah tentang semuanya. Jangan buat ayah cemas, buktikan jika pilihanmu tepat dan Cia nya ayah bahagia dengan pilihan hidupnya. Bisa buktikan?” tanya sang Ayah.
“InsyaAllah, Cia bisa buktikan itu pada ayah. Jangan khawatirkan Cia, Yah.”
Hanya usapan lembut dan beberapa kali kecupan di puncak kepala anak perempuannya yang di mata Andra selamanya Cliantha adalah anak kecil yang manja dan menyukai princess Aurora.
“Princess Auroranya ayah jangan pernah bersedih, ya?” Kata Ayah Andra meski sekarang dirinya lah yang menangis mengatakan hal itu. Pada dasarnya, Andralah yang merasa sedih melihat nasib sang putri yang berakhir dimadu oleh suaminya.
“Ayah jangan bersedih, nanti Cia juga ikutan nangis. Tuh, kan, jadinya kita sama-sama nangis.”
Mereka akhirnya tertawa sumbang, “Ayah sangat mencintai putri ayah ini. Mana bisa ayah membayangkan jika kamu bersedih, Sayangku.” Andra memeluk erat-erat Cliantha dalam dekapan dadanya.
Narendra mendekat melihat sang ayah mertua dan istrinya yang menangis, “Ayah tidak perlu khawatir. Jika suatu saat Cia bersedih karena Rendra, ayah boleh membunuhku saat itu juga. Atau aku yang akan menghilangkan diriku sendiri karena Cliantha lebih berharga daripada diriku sendiri. Jadi, tolong ayah percaya padaku.”
Sembari mengusap air matanya, Andra berkata pada menantunya. “Tolong, ya, Ren. Jangan buat dia sedih, jangan sampai dia datang kepada ayah dalam keadaan menangis. Selama ini, ayah berusaha memberikan kebahagiaan untuk putri ayah ini. Tidak akan ayah biarkan dia menangis. Kamu tahu kenapa?”
“Karena ayah tidak pernah membuat Cliantha bersedih dan menangis,” jawab Narendra mencoba menebak.
“Bukan. Ayah tidak ingin melihat dia menangis karena Cia akan terlihat sangat jelek kalau sedang menangis seperti ini,” ujar ayah mertua bergurau seraya menghapus air mata putrinya.
Di saat semua orang sedang menangis mengkhawatirkan keadaan Cliantha dan berakhir dengan gurau tawa di halaman rumah, tetapi ada satu orang berdiri seorang diri di depan pintu rumah itu. Seperti seseorang asing di tengah hangatnya keluarga itu, Jihan merasa tidak dianggap dan tidak berguna berada di tengah-tengah mereka. Bahkan, sejak kemarin tidak ada satu orang pun yang berbicara dengannya. Jangan diajak berbicara, ditanya siapa dirinya ‘mengapa ada di rumah itu’ pun tidak. Orang-orang itu tidak ada yang memedulikan keberadaaanya.
Saat itu, Nabilah seakan menghampiri Jihan yang berdiri di depan pintu rumah. Jihan menampilkan satu senyuman hangat pada dia mama mertua, tetapi bukan senyuman hangat yang Jihan dapatkan sebagai balasan, tetapi sebuah kalimat yang menyayat hatinya.
“Hanya karena kamu sedang mengandung anak putraku, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Cliantha di hatiku, keluarganya, bahkan Narendra. Dapat dipastikan, wanita kedua tidak akan pernah sebahagia istri pertama. Tidak usah berharap banyak dari statusmu, wanita muda.”
Jihan hanya menunduk, dia hanya mendengarkan ucapan sang mama mertua seraya mengelus perutnya yang masih rata, “Sekarang hanya kamu yang aku punya, mari kita buat mereka menyesal telah memerlakukanku seperti ini. Padahal kamulah yang mereka harapkan, tetapi mereka tidak tahu terima kasih pada aku ibumu, Nak.”
__ADS_1
Bersambung…