
Pagi hari, suasana rumah menjadi riuh dan semua orang dalam keadaan panik. Penyebabnya, Jihan mengerang kesakitan dan mengejan kuat seraya meremas perutnya yang terasa kaku di pagi hari saat pertama kali dia membuka matanya.
"Apa yang terjadi, Dok?" Tanya Narendra pada dokter Dewi yang biasa menangangi Jihan sejak awal kehamilan.
"Kandungan Bu Jihan dalam bahaya, Pak. Saya melihat ada infeksi pada uterusnya dan ini mungkin perlu pemeriksaan lanjutan,"
"Lakukanlah apa yang terbaik untuk mereka," ucap Narendra cepat tanpa tedeng aling-aling.
Jihan kritis, entah sebab apa, wanita itu menjadi lemah tidak berdaya dalam sekejap mata. Di dalam ruangan ICU, wanita bertubuh kecil dan kurus itu terbaring lurus dengan wajah yang memucat.
"Kamu pasti kuat. Mbak tahu, pasti kamu akan baik-baik saja, Jihan," bisik Cliantha di telinga Jihan.
Wanita itu menangis saat memeluk istri muda suaminya, dia yang sejak awal memaksa wanita muda itu untuk menjadi istri kedua, dia yang meminta wanita itu melahirkan seorang anak untuknya.
"Jihan, bangunlah sayang," kata Cliantha berbisik di telinga kanan Jihan.
"Bangunlah, maka aku akan menuruti apapun kemauanmu. Bangunlah," pinta Cliantha dengan terisak.
Di luar ruangan, Narendra hanya bisa menangisi semua yang terjadi. Melihat istrirnya menangis dan meratap, ia pun tidak kuasa untuk tidak melakukan hal yang sama.
Namun, saat dia dalam keadaan kalut, ponselnya berdering. Memecah kesedihannya dan memaksanya menyudahi semua ratapannya karena ia harus menjawab telepon dari mertuanya.
"Halo, Ayah? Waalaikumsalam," jawab Narendra yang menjauh dari depan ruang ICU.
"Ren, ayah dan bunda akan berkunjung ke rumah kalian, ya?" Suara Andra, ayah mertuanya.
Bagai petir yang menyambar di siang hari, Narednra dibuat terkejut setangah mati, "Apa? Ayah akan berkunjung? Kapan?" Narendra terkejut dan dadanya sekitia membusung saking kagetnya.
"Sore ini. Kenapa kamu terkejut seperti itu? Apa kami mengganggu?" Tanya Andra pada menatunya di seberang telepon.
"Bukan-bukan, Rendra dan Cia sedang berada di luar, kami sedang ada urusan," alibinya, ia mencoba menetralkan nada bicara pada ayah mertunya.
"Iya, baiklah. Kami akan bersiap-siap. Terima kasih ayah sudah memberitahu sebelumnya," kata Narendra.
__ADS_1
Kriet!
"Mas!" Pekik Cliantha secara tiba-tiba yang keluar dari ruangan.
"Ayah dan Bunda mengatakan akan datang ke rumah, barusan Bunda mengirim pesan padaku," kata Cliantha yang sama-sama gusarnya dengan perasaan Narendra saat ini.
Narendra hanya mengangguk menannggapi penuturan istrinya, "Persiapkanlah."
Menjelang sore hari, Cliantha dan Narendra sudah bersiap di rumah walaupun dnegan hati yang gelisah karena meninggalkan Jihan seorang siri di rumah sakit dengan keadaan kritis.
"Bagaimana dengan Jihan?" Tanya Cliantha pada suaminya.
"Tenanglah, sudah ada dokter dan perawat yang siap menjaga dan mengabari jika terjadi sesuatu padanya," ujar Narendra yang mampu membuat hati Cliantha sedikit tenang.
Sedang membenarkan jilbab istrinya, Narendra berpesan pada wanita terkasihnya, "Bersikaplah biasa saja. Jangan sampai Ayah dan Bunda curiga dengan gelagat kita. Pastikan semua berjalan normal dan anggap saja tidak ada Jihan di antara kita," pesan suaminya. Cliantha mengangguk; sepakat.
Tot tot! Suara klakson terdengar, pertanda bahwa seseorang yang dinantikan telah sampai.
"Ingat, biasa saja," nasihat Narendra sekali lagi.
"Assalamualaikum," ujar salam dari ayah dan bunda sang istri.
"Waalaikumsalam, Bun, Ayah. Bagaimana perjalanannya? Melelahkan pastinya, ya?" Tanya Narendra berbassa-basi menyambut mertuanya.
"Waduh, nggak masalah kok, Mas. Apa sih yang nggak demi ketemu sama anak menantu? Bagaimana kabarmu?" Tanya Bunda Daisya pada menantunya pertama itu.
"Sehat, Bun. Ayah dan Bunda sehat juga, kan?"
"Iya, Alhamdulillah. Dimana Cia?" Tanya Daisya yang celingukan ke seisi rumah mencari sosok putrinya yang tidak kunjung kelihatan batang hidungnya.
"Masih di kamar tadi, Bun. Ayo duduk dulu, biar Ren panggilkan Cia dulu,"
Namun, belum jauh kaki Narendra melangkah. Cliantha dari atas sudah heboh, "Ayah! Bunda!"
__ADS_1
"Nah, itu dia si anak manja. Akhirnya, muncul juga," kata Daisya pada putrinya.
Dengan langkah perlahan, tetapi penuh semangat, Cliantha menjinjing sedikit gamisnya dan berjallan menuruni anak tangga dengan teratur. Berangsur memeluk tubuh sang ayah yang selalu menjadi pusat kerinduannya.
"Ayah apa kabar?" Tanya wanita itu seperti anak kecil di usianya yang sudah di kepala tiga.
"Hahaha, ayah sehat, Sayang. Cantik sekali putri ayah,"
"Hah? Bukankah seperti biasanya, Yah? Apa selama ini Cia tidak cantik, Ayah?" tanya wanita itu dengan cemberut.
"Bukan seperti itu, Cia akan selalu cantik dan manja di mata ayah," ucap Sang ayah mendekap erat-erat tubuh anak sulungnya.
"Bunda, Cia rindu, lho!" Berganti ia yang memeluk tubuh ibundanya.
"Alah, seringnya telepon dari bunda saja kamu reject. Sekarang bilangnya rindu, bohong kamu," ledek Daisya.
"Ih, itu kan karena Cia sibuk dengan pelanggan, Bun. Bukan sengaja menolak,"
"Haha, baiklah. Sini peluk dulu," pinta wanita berusia awal 50an itu.
"Ayah dan Bunda mau minum apa? Biar Ren buatkan," tawar Narendra berinisiatif.
"Hush, Ren... Ren, tidak perlu seperti itu. Bunda bisa buat sendiri, kayak melayani tamu saja. Bunda sama ayah juga bisa kali nuang air sendiri dari dapur. Sudah kalian duduk saja, santai." Kata Daisya tidak berkenan jika dilayani bak raja dan ratu di rumah anak dan menantu sendiri.
"Ayah biasanya suka buat kopi, biar Bunda buat sendiri saja." Wanita paruh baya itu berjalan menuju dapur rumah itu. Tidak ada yang melarang atau mengresokinya, "Cia, gulanya dimana, Nak?" Tanya Daisya mencari gula.
Cliantha bergegas mendekat ke dapur menyusul sang ibunda yang tengah membuat menimaun untuk ayahnya.
"Ada di laci bawah, Bun," ucap Cliantha yang sudah dekat dari dapur Namun, sayang, Ibundanya sudah membuka set lemari bagian atas yang menunjukkan deretan stok susu ibu hamil yang sudah lama tidak lagi diperhatikan oleh orang-orang rumah.
Daisya mengambil satu boks susu itu dan membaca detailnya, "Susu siapa ini? Susu untuk ibu hamil," tanya Daisya heran saat melihat banyak sekali stok susu ibu hamil yang tersusun di dalam satu ruang set lemari penyimpanan yang besar. Mata wanita itu langsung tertuju pada putrinya yang berdiri di dekatnya.
"Cia, kamu sedang hamil?"
__ADS_1
Bersambung...