
Jihan menoleh, dia langsung menghapus air mata yang tersisa di pipinya.
"Bapak, mau apa kesini?" Tanya Jihan saat melihat Narendra datang membawakan pakaian ganti untuknya titipan sang istri–Cliantha.
"Saya bawakan ini untukmu, dari Cia," jawab Narendra meletakkan tas besar di atas meja.
Jihan mengangguk-angguk, wanita itu beranjak dari posisinya. Disingkapnya selimut yang menutupi setengah tubuhnya, dia menurunkan kakinya dan dibiarkan menjuntai. Perlahan, berpegangan pada tepian ranjang, Jihan menuntun kakinya untuk menempel pada lantai rumah sakit yang dingin.
"Mau kemana? Toilet?" Tanya Narendra yang turut membantu.
Wanita dengan kaki yang bergetar itu tetap memaksa untuk berdiri, dia pun menggeleng, "Saya mau pulang, Pak,"
"Pulang? Kamu belum boleh pulang," jawab Narendra dengan tegas.
"Saya harus pulang," kokoh Jihan .
"Tidak, Jihan."
Tangan yang memegangi lengan Jihan mencengkeram lebih keras, Narendra tidak percaya jika wanita itu bisa berdiri di atas kakinya sendiri dengan keadaan tubuhnya yang masih lemas sehingga ia tidak tega melepaskan cekalannya pada wanita itu begitu saja.
"Lepaskan, Pak," pinta Jihan ingin terbebas dari pegangan Narendra pada lengan kanannya.
"Kamu masih lemah, tidak boleh ke mana-mana," kata Narendra.
__ADS_1
"Aku sudah sehat, ibu hamil tidak boleh diam saja. Harus banyak bergerak, makanya saya mau pulang saja."
"Tidak boleh, Jihan!" bentak Narendra dengan nada tinggi. Tidak hanya mengehentikan pergerakkan Jihan, tetapi juga hampir membuat jantung Jihan berhenti berdetak.
Mata wanita itu berkaca-kaca. Selanjutnya, mata sayu itu mengeluarkan titik-titik air mata yang semakin mengalir deras saat pria itu berucap kata maaf.
Narendra yang merasa bersalah, lantas mengusap pipi Jihan dengan lembut untuk menghapus jejak-jejak air mata sebelum air mata itu menetes jatuh dari pipi wanita itu. Semua orang tahu, jika Narendra paling anti dengan air mata wanita.
"Maafkan saya, Jihan. Seharusnya kamu tidak usah membantah. Ini semua untuk kebaikan kamu dan kandunganmu," kata Narendra yang menyesal setengah mati. Ini menjadi yang pertama kalinya dia berkata keras pada seorang wanita.
Jihan masih saja menangis, "Jangan perlakukan saya seperti ini, Pak. Tolong," kata Jihan seraya menyingkirkan tangan Narendra dari wajahnya.
"Tetaplah di sini dan menurut dengan perkataan saya, Jihan,"
"Kamu masih membantah? Seperti ini kah sifat asli Jihan yang kukenal? Wanita yang keras kepala dan suka membantah?" Ucap Narendra yang hampir kehilangan cara untuk menghentikan niat Jihan untuk pergi dari rumah sakit itu.
"Tapi, saya harus mencari uang," tutur Jihan dengan nada sendu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wanita itu seakan tidak punya pilihan lain selain kata bekerja dan bekerja yang sedari tadi dikatakannya.
Narendra mengernyit, "Untuk apa? Apa hidup di rumah itu belum membuatmu merasa cukup? Saya sudah menanggung semuanya. Apa yang kurang? Katakan."
"Bapak tidak mengerti, ini urusan saya. Setidaknya jangan membatasi kehidupan saya. Jangan pernah melarang saya melakukan apapun yang saya mau, Anda tidak berhak," ucap Jihan yang sudah turun dari ranjangnya dan hendak berjalan entah kemana.
Namun, Narendra tidak tinggal diam. Dia meraih tangan wanita itu dan berhasil menghentikan langkah wanitta itu. "Saya berhak melarangmu asal kamu tahu, Jihan. Sudah lupakah kamu jika saya suamimu?"
__ADS_1
"Suami? Terima kasih sudah menjadi suami, tapi itu tidak asli. Pernikahan kita tidak murni karena alasan membangun rumah tangga, Pak. Semua ini terjadi karena sebuah tujuan penghindar dosa, ini tidak lebih dari sebuah pernikahan kontrak," ucap Jihan lugas tanpa membalikkan badannya.
"Semua akan berakhir saat saya sudah melahirkan anak ini, maka kita bisa bercerai dan saya akan pergi jauh bersama dengan anak ini. Tidak seharusnya Bapak dan mbak Cia menahanku tetap tinggal karena pada akhirnya saya akan tetap pergi membawa anak ini," kata Jihan.
Narendra bangkit, pria itu berdiri tepat di hadapan wanita yang berstatus sebagai istri keduanya. "Apa yang kamu katakan, Jihan? Kamu akan pergi membawa anak itu?" Tanya Narendra.
Jihan yang sejak tadi enggan menatap mata pria yang selama ingin ia hindari kontak, Jihan menurunkan egonya. Dia mengalah pada dirinya sendiri dan mau menatap Narendra lekat-lekat hanya untuk mengatakan suatu hal.
"Bukankah sejak awal Anda dan Mbak Cia yang mengingikan ini? Anda mengatakan akan segera menceraikan saya setelah beberapa hari pernikahan dan sebagai gantinya, saya mengajukan satu permintaan supaya Anda memberikan saya anak, bukan? Mengapa sekarang bapak terlihat khawatir jika kemudian hari saya akan pergi membawa anak saya dan sebelumnya Anda sudah sepakat untuk ini," jelas Jihan.
"Jika seperti itu, bagaimaan dengan Cia? Dia mengharapkan anak itu juga," ucap Narendra.
"Lalu, bagaimana dengan saya? Saya yang akan merugi seumur hidup karena telah mengandung dan melahirkan anak, setelahnya saya harus menyerahkan anak saya ini untuk orang lain? Wanita mana yang mau melakukan hal itu, Pak? Ibu yang mana yang rela memberikan darah dagingnya sendiri kepada orang lain? Tidak bisa kah Anda berpikir waras?" kata Jihan yang sudah senewen.
"Tidak, bukan seperti tiu. Setidaknya, kamu tidak pergi dan kita bisa bersama-sama membesarkan anak itu," kata Narendra.
"Denganmu yang tidak bisa bersikap adil? Mana ada wanita yang mau dimadu? Jelas saya tidak bisa, begitu pun Mbak Cia,"
"Dia tidak seperti itu," bantah Narendra pada asumsi Jihan tentang Cliantha.
"Tidak ada hati wanita yang benar-benar rela melepaskan suaminya untuk orang lain. Mbak Cia bisa bersikap seperti itu karena dia tahu jika saat ini Anda tidak mencintaiku. Dia hanya menginginkan anak dari rahimku, tapi tidak benar-benar rela membiarkanmu mencintai wanita lain. Namun, bagaimana jadinya jika suatu saat nanti keadaannya berbeda? Maka dari itu, kita tidak boleh terlalu dekat supaya kejadian buruk tidak terjadi dan mengacaukan semuanya, Pak Rendra. Kita lebih baik tidak usah saling dekat dan menaruh rasa perhatian, kasih sayang, atau pun cinta yang bisa menimbulkan rasa saling harap. Aku tidak mau merasakan sakit hati," kata Jihan sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar mandi.
Bersambung...
__ADS_1