
Di dalam ruangan rawat inap itu, Cliantha tidak bisa banyak berkomentar saat melihat Jihan yang sekilas terlihat baik-baik saja dan senyum ceria tergambar di wajahnya. Cliantha tidak pernah menyangka jika wanita yang dia pilih sebagai madunya ternyata mempunyai masalah mental yang tidak sepele.
Lantas, Cliantha diingatkan dengan serangkaian kejadian saat-saat bersama Jihan sejak dua tahun terakhir, sejak awal dia mengenal wanita itu yang melamar pekerjaan di butik miliknya.
Jihan adalah sosok yang semangat dan ceria, tidak mudah putus asa, dan enerjik. Namun, dia baru menyadari jika sejak Jihan menjadi madunya dan tinggal serumah dengannya, Jihan menjadi pribadi yang berbeda. Wanita itu muram sepanjang hari, tidak seceria dulu, dan seringnya marah-marah tanpa sebab yang jelas.
"Aku pikir, Jihan yang seperti itu hanyalah sementara ternyata memang dia punya masalah pada mentalnya. Maafkan aku, Jihan," ucap Cliantha pada dirinya sendiri dengan suara selirih embusan angin.
Kini, yang dilihatnya adalah Jihan yang mempunyai semangat membara, "Mbak, kapan aku bisa pulang? Bosan di sini terus, aku ingin pulang dan bekerja. Yuk, pulang sekarang!" Ujar Jihan semangat seperti orang yang sudah pulih setelah kemarin malam dia kejang-kejang dengan kondisi mulutnya yang berbusa.
"Belum, kamu masih harus di sini."
"Aku ingin pulang dan bekerja, jangan di sini. Aku tidak betah," ujarnya seketika merajuk. Secepat itu dia mengubah wajahnya yang ceria menjadi muram nan masam.
"Jihan, Dengar!" Peringat Cliantha menunjukkan satu jari telunjuknya, tidak lain supaya dia tidak membantah.
Namun, apa yang terjadi berikutnya? Malah, Jihan menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis tersedu-sedu saat itu juga.
Cliantha panik, dia mendekat dan mencoba menenagkan Jihan yang tiba-tiba menangis meraung-raung, "Jihan, tenanglah. Bukan maksudku membuatmu sedih,"
__ADS_1
"Akh! Pergi kamu! Pergi sekarang juga! Aku membencimu! Kamu yang membuatku seperti ini, aku tidak mau menjadi istri kedua!" Jihan menjadi histeris dan melempar apa yang ada di dekatnya. Selayaknya anak kecil yang tantrum, Jihan menjadi seseorang yang tidak dapat dikendalikan dan berteriak karena marah besar.
"Akhh!" Kini dia menjambak rambutnya sendiri sampai membentur batas ranjang yang terbuat dari besi itu.
"Jihan! Ada apa?" Sontak, Narendra yang semula berada di luar ruangan berlari masuk ke dalam ruangan setelah mendengar keributan yang terdengar dari kamar rawat Jihan.
"Apa apa? Apa yang terjadi?" Tanya Narendra mengguncang lengan Cliantha. Lantas, pria itu menarik mundur tubuh Cliantha supaya menjauh dari Jihan beberapa meter ke belakang.
"Jihan... Jihan, tenanglah," Narendra, pria itu seperti pahlawan yang datang di saat yang tepat.
Tanpa memperhatikan hal yang lainnya, Narendra segera memeluk tubuh wanita itu dengan erat dan menepuk perlahan punggung wanita yang sejak tadi membanting-banting barang sekitar secara tidak jelas. Berangsur, tangisan Jihan mereda dan dia kembali tenang dalam sekelebatan waktu.
"Cia, jangan ganggu pikirannya dengan masalah yang berat-berat. Kamu tahu kan bagaimana kondisinya? Jangan buat dia merasa tertekan dan membuat mentalnya terguncang," ucap Narendra pada Cliantha dengan tatapan mata yang tidak seperti biasanya.
Mengulik ingatan masa lalu, saat dirinya berhasil memulihkan kondisi mental Narendra dengan cara bersikap sabar, pengertian, dan menebarkan cinta pada pria itu. Sekarang, dengan cara yang sama, seperti memutar ulang apa yang dulu sempat dia lakukan pada pria itu. Kini, Narendra melakukan hal yang sama kepada Jihan.
Cliantha menutup mulutnya dengan tangan kanannya, dia tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi padanya. Wanita itu menangis tanpa sepengetahuan suami dan madunya. Dia keluar dari ruangan itu dan berlari tanpa arah menuju tempat yang sunyi untukknya bisa menumpahkan segala air matanya.
Di belakang kamar jenazah, satu-satunya tempat tersunyi yang jarang disambangi oleh orang-orang menjadi tempat teraman bagi Cliantha untuk menumpahkan air mata. Namun, saat sedang berada di puncak tangisnya, terasa ada yang menyapu bahunya, "Mbak Cia? Kamu menangis?"
__ADS_1
Spontan Clianta menoleh, didapati adiknya yang tidak tahu sejak kapan berada di belakangnya.
"Nameera? Sedang apa kamu ke sini?" Tanya Cliantha menghapus air matanya meski sudah bisa lagi dia tutup-tutupi bekas air mata itu.
Nameera terlihat gusar dengan pertanyaan itu, tetapi dengan segera dia bisa menjawab,"jenguk temanku yang sakit, Mbak."
"Mbak sendiri sedang apa? Kenapa menangis di sini? Ada kerabat yang meninggal?" Tanya Nameera.
"Tidak, tidak papa. Jangan bilang ke ayah bunda kalau kamu habis melihat Mbak menangis, ya. Sudah, sana pulang," perintah Cliantha pada adiknya. Namun, Nameera tidak diam begitu saja. Dia menahan tangan Cliantha yang akan pergi.
"Mbak, katakan padaku. Mbak, kenapa? Kenapa menangis seperti itu?"
"Bukan urusan anak kecil. Pulanglah dan jangan katakan pada siapapun tentang ini, kamu harus janji sama mbak, Meer," pinta Cliantha serius pada adiknya.
Nameera bukanlah orang yang tidak peduli, ia harus memastikan dan mengetahui jika semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Gadis berjeans denim dengan blus biru muda itu tidak banyak bertanya, melainkan mengikuti langkah sang kakak secara diam-diam.
Sampai Cliantha berhenti di depan kamar rawat inap, Nameera menguntit pergerakan kakaknya dan menyusul masuk ke dalam ruangan yang sama setelah beberapa saat.
Sebelumnya, Nameera mengintip di celah pintu yang transparan di bagian atasnya. Pemandangan yang tidak mengenakan mata saat melihat kakak iparnya memeluk wanita lain, sedangkan Nameera tahu jika sang kakak ipar tidak mempunyai saudara perempuan. Jadi, satu-satunya yangterpikirkan oleh gadis itu ialah jika wanita tiu tidak lain adalah....
__ADS_1
"Mas Rendra? Apa yang kamu lakukan? Siapa wanita itu, Mbak?" Tanya Nameera memekik setelah membuka pintu secara kasar dan setengah membantingnya sampai menimbulkana sura ayang mengejutkan ketiganya.
Bersambung...