
Jihan tidak langsung pulang ke rumah, beberapa hari ini dia selalu meminta izin dan waktu lebih dengan alasan untuk bertemu dengan teman-temannya di luar. Namun, Cliantha memberi batas waktu untuk berada di luar maksimal sebelum pukul 7 malam.
"Memangnya ada keperluan apa, sih, Han? Setiap hari banget, ya?" Tanya Cliantha saat keduanya berada di tempat parkir depan butik.
"Ada janji mau ketemuan sama teman, Mbak." Begitu jawabnya saat akhir-akhir ini selalu mengatakan ada janji pertemuan sepulang bekerja di butik milik Cliantha.
"Kemana, sih? Ayo, Mbak antarkan saja!" Cecar Cliantha pada Jihan yang tidak kunjung memberitahuan kemana tujuan dia pergi. Jihan menggeleng, dengannya yang menujukkan layar ponsel bahwa dia telah memesan ojek online.
"Ada janji mulu. Tidak baik tahu bagi ibu hamil kalau sore-sore bepergian terus," nasihat Cliantha.
Jihan mendesah, kemudian wanita itu merapatkan bibirnya, "tapi, sudah terlanjur buat janji, Mbak. Mau bagaimana lagi?"
"Ya sudah, pokoknya jangan sampai pulang sampai larut. Nanti dicariin Mas Rendra, kan, Mbak yang pusing mau jawab apa."
Lantas, wanita itu memperagakan sikap hormat ala-ala pleton upacara bendera pada sang pembina.
"Itu, ojekku sudah datang. Duluan, ya, Mbak!" Seru Jihan mendekat ke abang ojek yang berhenti di pinggir jalan sambil celingak-celinguk mencari orang.
"Eh, tunggu!" Cliantha mengejar wanita muda itu seraya merogoh isi tasnya, memberikan beberapa lembar uang kepada Jihan.
"Buat ongkos pulang. Janji pulang sebelum jam 7 malam, ya!" Peringatnya pada istri kedua sang suami.
"Iya, mbak Cia kesayanganku. Terima kasih. Sudah, ya, aku pergi dulu. Assalamualaikum, mbak! Yuk, jalan pak!" Ujarnya menepuk pelan bahu pengemudi ojek berjaket hijau itu.
Di depan sebuah restoran western, Jihan turun dari ojeknya, "Terima kasih, ya, Pak. Ini uangnya," ujar Jihan dan memberikan sejumlah uang kepada driver ojek dengan pecahan uang yang cukup besar, lalu ia berlari begitu saja.
"Mbak, kembaliannya!" teriak sang driver.
Jihan menoleh, "Tidak perlu, Pak. Buat bapak saja," ucapnya. Bukan karena ia punya banyak uang, melainkan jika dia tidak punya waktu lebih untuk sekadar menunggu sang driver memberikan uang kembalian.
Jihan sangat gugup sebab ia sudah sangat terlambat dari waktu perjanjian yang telah ditentukan sebelumnya.
Jihan yang berlari memasuki sebuah restoran modern yang sedang padat pengunjung itu, lalu membelah lautan manusia yang sedang berlalu lalang, sibuk, dan berisik dengan dentingan alat makan mereka. Akhirnya, dia dapat menemukan satu sosok yang tengah dicarinya.
Dia mendekat pada seorang pria yang sedang memasang kabel gitar elektrik dan mengecek bunyi alat musik itu, "Bas, Sorry! Aku terlambat, ya?" Dengan napas yang tersengal-sengal,
Bastian, dia terkejut saat punggungnya ditepuk dengan kasar oleh wanita berkuncir kuda itu.
"Huy, santai gurl. Masih ada waktu 10 menit lagi sebelum tampil," ujar Bastian menenangkan Jihan yang masih berusaha menguasai diri dan napasnya.
"Okey, aku siap-siap dulu!" Putus wanita muda itu, lalu masuk ke dalam ruang ganti.
Di sinilah Jihan berada,bekerja sampingan menjadi seorang penyanyi dari grup band yang mengisi acara musik di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota itu bersama dengan teman lelakinya dan segenap anggota band-nya dari lalki-laki itu.
"Mulai, Bas." Kode yang Jihan berikan kepada Bastian untuk memulai lagu pertama.
Alunan musik mulai mengalun sendu, Jihan menyukai lagu-lagu pop lawas yang jarang dikenal oleh anak-anak remaja masa sekarang. Biarlah, apapun lagunya asalkan liriknya masih dia hafal dalam ingatannya.
"Selamat sore pengunjung restoran LA RASSA, kali ini saya ditemani dengan teman-teman saya akan membawakan lagu yang cukup sedih dan lagu ini cocok untuk Anda sekalian yang sedang menahan rindu pada masa lalu atau yang ingin bernostalgia ria. Silakan mendengarkan suara saya memalui lagu berjudul 'Seberkas Sinar' dari Nike Ardilla. Selamat mendengrakan, semuanya," ucap Jihan sebagai intermezo di awal lagu.
Huuuuu....
Kala kuseorang diri
Hanya berteman sepi dan angin malam
__ADS_1
Kucoba merenungi
Tentang jalan hidupku, oh-oh
Kulangkahkan kakiku
Dan menyimak sebuah arti kehidupan
Hati s'lalu bertanya
Adakah kasih suci?
Dalam cinta, ha-ha
Adakah cintamu? Ha-ha-ha-ha-ha
Seberkas cahaya terang
Menyinari hidupku
Sesejuk embun-embun di pagi hari
Dambaan insan di dunia ini
Ha-ha-ha
Ha-ha-ha
Ha-ha-ha-ha-ha
"Terima kasih. Selamat menikmati makanannya," ucap Jihan di akhir lagunya.
Mereka turun dari stage dan beristirahat di backstage, "Bas, bagaimana suaraku?"Jihan meminta penilaian utnuk penampilannya hari ini.
"Heum, seperti biasa. Sangat menawan, lembut, indah, dan mendayu-dayu. Perfect!" komentar Bastian mengangkat tangan dan jarinya membentuk huruf 'o'.
"Lagu selanjutnya apa?" Tanya Jihan pada teman-teman band-nya.
"Kamu bisanya apa? Biar kami yang menyesuaikan saja," jawab Bastian.
Setidaknya harus dua lagu yang Jihan nyanyikan pada malam ini untuk memenuhi target fee yang akan dia dapatkan untuk untuk memenuhi uang tabungannya.
"Kalau 'Tentang Rasa' by Astrid, bagaimana?" usul Jihan pada grup band-nya.
"Bagus. Bisa-bisa," jawab Bastian.
"Iya, bisa tuh!" tanggapan dari teman-teman band Bastian.
"Halo, selamat malam pengunjung setia LA RASSA. Bertemu lagi dengan saya, Jihan. Dengan lagu kedua yang akan saya bawakan pada petang menuju malam hari ini, apalagi kalau bukan lagu-lagu melow nan galau dan bernostalgia. Kali ini saya akan menyanyikan sebuah lagu populer sekitar tahun 2010 yang berjudul 'Tentang Rasa' oleh Astrid. Selamat mendengarkan suara saya yang sederhana ini," ucap Jihan sebelum menyanyikan lagunya.
Aku tersesat menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Izinkan kulepas penatku
__ADS_1
'Tuk sejenak lelap di bahumu
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku?
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti, selamanya
Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Kutitipkan cahaya terang
Tak padam didera goda dan masa
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku?
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti, selamanya
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku?
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti, selamanya
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku?
Dapatkah selamanya kekal abadi?
Sesampainya akhir nanti
Selamanya
Setalah selesai dengan lagu terakhirnya\, dan riuh tepuk tangan masih terdengar\, Jihan terganggu dengan getaran di saku celana *jeans-*nya.
Drrtt.. drtt.. drrtt.. drttt. Ponsel Jihan terus bergetar di dalam sakunya karena seseorang telah meneleponnya.
"Nomor siapa ini?" kernyit Jihan pada dahinya saat melihat satu nomor tanpa nama yang terus saja meneleponnya.
"Halo?" Sapa JIhan.
"Sedang dimana kamu? Katakan! Akan saya jemput!" Ujar seseorang memekak di telinganya. Jihan sangat tahu siapa penelepon itu, dia mengetahui siapa pemilik suara pria yang sangat Jihan kenal kenal.
Bersambung...
__ADS_1