
Cliantha menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang bagi dia sangat menggemaskan, "Kalau mau beli susu untuk itu hamil ada di bagian keperluan ibu dan anak, Mas. Di sana," tunjuk wanita itu ke bagian yang memang seharusnya mereka jamah.
Benar, ada banyak sederet susu formula termasuk susu untuk ibu hamil.
"Mas mau merk yang apa?" Tanya Cliantha yang berdiri di depan rak susu berisi macam-macam merk dan formulasi berbeda-beda di antara sejumlah susu untuk ibu hamil.
"Tanyakan pada Jihan, dia mau yang merk apa?"
"Apa, Han?" Tanya Cliantha pada Jihan, dia menuruti perintah suaminya.
"Aku gak minum susu, Mbak," kata Jihan dengan gelengan kepala pelan.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Narendra bukanlah tipe orang yang suka memaksa ataupun suka membujuk dengan kata-kata. Dengan tatapan datar dan gerakan malas, dia mengambil salah satu boks susu ibu hamil tanpa memperhatikan merk atau jenisnya, bahkan tidak juga melihat harganya. Dia langsung membayarnya di bagian kasir.
"Sudah, ayo pulang!" Perintahnya cepat yang mau tidak mau dituruti oleh kedua wanitanya.
Di rumah, tepatnya di ruang tamu rumah itu. Jihan dan Cliantha yang duduk bersandar di sofa ruang tamu. Mereka kelelahan, terlebih lagi Jihan yang energinya sudah terkuras habis dan wajahnya sudah berwarna putih pucat sempurna.
Alih-alih Cliantha yang akan mengambilkan air putih untuk Jihan. Di dapur, dia malah melihat suaminya tengah mencoba menyeduh susu vanila yang baru saja di beli untuk ibu hamil yang berada di rumahnya.
Dia menakar seberapa banyak susu yang harus di tuangkan dalam gelas, beserta takaran air panas dan dingin yang cukup sesuai dengan saran penyajian di balik kemasan.
"Coba, ini sudah pas belum?" tanya pria itu kepada Cliantha yang berada di dekatnya.
Mau tidak mau, wanita itu menyesap sesendok susu vanila yang disodorkan pada dirinya,
__ADS_1
"Pas," jawab Cliantha.
"Apa tidak terlalu panas? Bagaimana rasanya?" tanya Narendra sekali lagi.
"Kurang hangat, sih, tapi rasanya not bad-lah," jawab istrinya menggerakkan tangannya di depan wajahnya. Menunjukkan jika itu bukanlah masalah.
"Oke, thank you," ujar Narendra mengecup kepala istrinya, lalu pergi membawakan susu itu pada JIhan.
"Minum!" Perintahnya tegas pada wanita yang ogah-ogahan meminum segelas susu berwarna putih itu dari tangan suaminya.
"Saya tidak minum susu, Pak," jawab Jihan tetap menggeleng dan hanya menggenggam gelas berisi susu itu pada pangkuan.
"Untuk bayimu, bukan kamu. Dia membutuhkan itu," kata Narendra lagi.
"Minum," perintahnya sekali lagi.
"Cepat diminum atau aku akan tetap di sini sampai susu itu habis dari gelasnya," ujar Narendra yang tidak ada rasa empatinya.
Drt drt. Ponsel Naredra bergetar.
"Okey, aku angkat telepon ini sebentar. Pastikan saat aku kembali, gelas itu sudah kosong," ucap pria itu mengandung ancaman.
Kepergiaan Narendra yang menjauh dari ruang tamu, Jihan tetap tidak mau meneguk sedikit pun air susu itu.
"Aku tidak bisa minum susu, Mbak," Jihan memberitahu.
__ADS_1
"Kenapa?"
Ia menggeleng dan memberikan susu itu kepada Cliantha, "Tidak suka, tidak bisa juga," katanya.
Namun, di depan sana, Narendra sepertinya akan segera mengakhiri teleponnya.
"Minumlah, sedikit saja," bujuk Cliantha.
"Tidak bisa, buang saja kalau begitu, Mbak,"
Tapi, tidak ada waktu untuk membuang susu itu ke wastafel. Satu cara yang bisa dilakukan supaya susu itu kosong dari gelasnya,
"Sudah beres," ujar Cliantha setelah dia meneguk habis isi gelas itu.
"Mbak?"
"Ini peganglah, katakan kamu sudah meminumnya," perintah Cliantha.
Tidak lama, suami mereka kembali, "Sudah diminum?" Tanya Narendra; Jihan mengangguk.
"Bagus, nanti lagi. Harus rutin diminum supaya perkembangan janinmu baik," kata Narendra menepuk puncak kepala Jihan seperti anak anak kucing yang penurut.
"Mbak, bagaimana ini?" Tanya Jihan setelahnya.
Cliantah menarik napas dalam-dalam, "Tenang saja, ada aku di sini."
__ADS_1
Bersambung...