
Nameera naik pitam, dadanya naik turun senada dengan amarahnya yang sudah memuncak. Tidak perlu lagi dia bertanya apa yang terjadi di antara mereka karena suatu kejadian di depan mata sudah dapat menjelaskan semuanya.
Dan lagi, dia menjadi orang pertama yang tidak bisa terima jika kakak perempuannya diduakan dengan alasan apapun.
Saat itu juga, Nameera menuding dengan telunjuk kanannya ke arah wanita yang sedang berada di pelukan Narendra. "Siapa wanita itu, Mbak? Mas Rendra menduakan Mbak?" Tanya Nameera dengan bersungut-sunggut seperti singa betina yang menemukan mangsa di saat kelaparan. Jelas, dia tidak terima jika sang kakak diduakan oleh suaminya.
"Katakan 'bukan' kalau memang dugaanku salah tentang wanita itu, Mbak, Mas!" ucap Nameera menatap Cliantha dan Narendra bergantian, memberikan kesempatan kepada orang-orang itu untuk melakukan penyanggahan atas tuduhan yang disebutkan. Namun, ketiga orang itu diam tanpa penyanggahan apapun.
Respons diam yang diberikan oleh kakak dan kakak iparnya itu membuat gadis berambut cokelat gelap dan berkuncir kuda itu semakin geram. Kaki kanannya menghentakkan lantai, "Ini tidak bisa dibiarkan, ayah dan bunda harus tahu!" Ucap Nameera menggebu-gebu. Selanjutnya, dia langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang menderap dan menghentak-hentak.
Narendra dan Cliantha bertatapan. Mereka sudah menduga sebelumnya jika keluarga Cliantha tahu, maka akan menjadi runyam masalahnya. Namun, Cliantha tidak geming, dia langsung mengejar kemana adik bungsunya itu pergi.
"Nameera, tunggu! Tunggu dulu," kata Cliantha yang berhasil meraih tangan adiknya itu dan memaksanya menghentikan langkahnya.
"Ayo, ikut sama mbak." Cliantha membawa adiknya masuk ke dalam toilet supaya keributan itu tidak menjadi tontonan orang seisi rumah sakit, "Dengarkan dulu penjelasan dari mbak," kata Cliantha yang sudah ngos-ngosan setelah mengejar langkah cepat dari adik bungsunya itu.
__ADS_1
"Lepaskan, Mbak!" Ujar Cliantha menghempaskan tangannya dari cekalan Cliantha saat keduanya sudah berada di dalam toilet.
"Ayah dan bunda tetap harus tahu. Benarkah, Mbak, kalau Mas Rendra selingkuh?" Tanya gadis muda itu dengan nada tinggi dan marah besar.
Cliantha menggeleng, "Mas Rendra tidak selingkuh, Nameera, tapi berpoligami."
"Itu sama saja. Keterlaluan!" Sungut Nameera yang kemudian mengambil ponsel dari tas kecilnya dan menelepon nomor sang ayah. Namun, Cliantha segera merebut ponsel itu dan mematikan sambungan telepon yang belum sempat terhubung.
"Nameera, jangan seperti itu. Jangan beri tahu orang rumah. Memang inilah jalannya, ini yang terbaik. Kamu tidak boleh langsung menghakimi kami," ucap lirih Cliantha lembut pada adiknya.
Cliantha menggeleng-gelengkan kepalanya, wanita itu harus bisa bersikap tenang saat berhadapan dengan adiknya yang sedang dikuasai oleh amarah yang membara, "Meera, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Mbak bisa menjelaskan semuanya kepadamu, asalkan kamu janji tidak akan memberitahukan ini kepada ayah dan bunda."
"Nggak! Yang salah akan tetap salah, aku akan tetap melaporkan ini pada ayah dan bunda. Mereka harus tahu dan Mas Rendra pasti akan menyesal seumur hidupnya, Mbak. Lihat saja nanti," ucap Nameera mengancam. Seperti ibundanya, Nameera merupakan seorang gadis yang pantang untuk diduakan, entah itu perselingkuhan atau berpoligami.
"Meer, stop. Jangan kamu bertindak terlalu jauh, karena memang inilah yang terbaik untuk Mbak dan Mas Rendra," ucap Cliantha mencoba mengimbangi emosi Nameera yang memuncak.
__ADS_1
Namun, perdebatan itu bukan mereda. Kalimat yang didengarnya dari mulut sang kakak malah membuat darahnya naik dan berkumpul ke atas ubun-ubun. "Apa yang baik dari berpoligami, Mbak? Yang ada mbak lah yang tersakiti!" Ucap Nameera.
Claintha mengembuskan napas pelan, Nameera sudah sulit untuk diajak bicara baik-baik. Adiknya itu tipikal gadis yang keras kepala dan tidak mudah ternyuh dengan oleh keadaan.
"Sekalipun mbak Cia melarangku atau mbak membenciku setelah ini, bagiku tidak masalah. Lebih baik mbak marah kepadaku seumur hidup daripada aku harus diam melihat mbak yang menderita dalam menjalani kehidupan berumah tangga, Mbak. Bagiku, kebahagiaan mbak Cialah yang terpenting karena setelah ini aku akan tetap mengadukan poligami ini pada ayah dan bunda," ucap Nameera yang menerobos tubuh Cliantha yang berada di tengah pintu.
Tidak lagi menghentikan langkah Nameera yang melewati dirinya, Cliantha hanya berujar dengan nada suara yang pasrah, "Lakukan apa yang menurutmu benar, Meera. Adukan saja semuanya pada ayah dan bunda, maka setelah itu kamu akan membuat rumah tangga mbak hancur karena pasti ayah dan bunda akan memisahkan mbak dari Mas Rendra. Silakan lakukan itu jika kamu ingin melihat mbak meratap sedih seumur hidup karena dipisahkan dari orang yang mbak cinta," ucap lirih Cliantha yang mampu menghentikan langkah Nameera saat itu juga.
Gadis itu berputar balik dan berdiri di belakang tubh Cliantha dengan air mata yang berderai, "Mbak..." Panggillnya lirih penuh dengan tangisan, ia memeluk sang kakak yang sedang menunduk dari belakang.
"Kamu belum pernah merasakan mencintai seseorang begitu dalam sampai kamu rela melakukan apapun untuk orang itu kan, Meer? Jika Mbak bisa memilih, pasti tidak akan mengambil jalan ini selagi mbak mampu membuat dia bahagia dengan cara mbak sendiri, tapi nyatanya mbak tidak mampu. Mbak membutuhkan orang lain untuk membahagiakan dia. Apa kamu pernah mencintai seseorang sampai sulit mengatur batas berbuat waras hanya demi cinta, pengorbanan, dan keikhlasan, Meer?" Ujar Cliantha dengan suatu pertanyaan yang tidak bisa Nameera jawab.
"Mbak sudah jatuh terlalu dalam, Meera. Jika tidak kuat, maka kamulah orang pertama yang akan mbak panggil saat mbak sedang membutuhkan bantuan untuk kembali ke permukaan," ujar Cliantha memeluk tangan yang merengkuh dirinya dari belakang.
Bersambung...
__ADS_1