Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 46. Ingkar


__ADS_3

Seperti tidak makan selama berhari-hari, Narendra menyantap masakan sang istri dengan lahap dan nyaris bisa dibilang rakus dilihat dari caranya memasukkan suap demi suap makanan ke dalam mulutnya secara beruntun.


Dikarenakan Cliantha pun belum sempat sarapan, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk makan bersama-sama.


"Apa perlu setiap pagi aku datang ke sini dan membawakan bekal untukmu?" Tanya Cliantha saat semua makanan yang dia bawa sudah ludas, tidak tersisa.


"Boleh," jawab Narendra langsung menyetujuinya.


Cliantha mengulum senyum, tetapi wajah wanita itu terlihat sendu. "Kalau seperti itu, apa itu artinya Mas tidak akan pernah sarapan bersamaku lagi di rumah kita?"


Pria yang sedang nikmat mengunyah di suapan terakhirnya itu langsung kicep dan merasa bersalah karena langsung menginyakan tanpa berpikir panjang, "Cia?"


"Tidak, hehe. Maksudku bukan apa-apa. Tidak masalah kalau aku harus membawakan sarapan seperti ini setiap pagi," senyum keceriaan terbit, tetapi raut wajah Cliantha tidak murni karena bahagia, melainkan menyayangkan status pernikahannya yang akan dipertaruhkan sebentar lagi.


"Malam ini Mas menginap bersamamu, ya?" kata Narendra menemukan solusi.


"Dengan senang hati, datanglah kapan saja. Kabarkan saja padaku, setiap saat rumah itu akan selalu siap menyambutmu," semringah wajah Cliantha secarah awan di siang terik hari itu.


Sore hari sebelum Narendra menunaikan janjinya pada Cliantha untuk menginap di rumah istri pertamanya, dia sejenak pulang ke rumah yang ditempatinya bersama Jihan. Belum sempat meminta izin, Narendra terlupakan dengan tujuan utamanya datang ke rumah itu setelah melihat Jihan yang sedang bersiap-siap seperti akan bepergian jauh membawa serta barang-barangnya.


"Jihan, kamu mau kemana?" Tanya Narendra yang penasaran dan dibuat heran.


"Aku harus pulang, Mas," jawab Jihan yang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas besar tanpa memandang siapa lawan bicaranya.


"Pulang kemana? Kenapa tiba-tiba?"


"Aku harus pulang, ayahku sakit keras," jawab Jihan dengan terisak-isak.


"Jihan, lihat aku. Kenapa mendadak? Memangnya dengan siapa kamu akan pergi?" Narendra memutar bahu Jihan.


"Bastian," jawab Jihan singkat.


"Bastian? Laki-laki itu?" Detik itu juga, Narendra memutar tubuh Jihan sekali lagi dengan lebih kuat dan memaksanya menatap pria itu.

__ADS_1


"Bisa-bisanya kamu melakukan ini? Pergi dengan laki-laki lain dan tidak meminta izin padaku, dan sekarang kamu telah bersiap pergi begitu saja?" ucap Narendra yang marah besar dan suara yang tinggi.


"Memangnya kenapa? Kenapa harus izin dan apa mungkin kamu mau mengantarku yang tiba-tiba harus pulang ke rumah orang tuaku karena ini keadaannya darurat?" seru Jihan tidak kalah meningginya.


"Belum tentu aku tidak bersedia. Selama aku menjadi suami, Cliantha istriku tidak pernah absen meminta izin padaku kemana pun dia akan pergi," ucap Narendra membandingkan perangai antara kedua istrinya.


Jihan manggut-manggut dan dengan meringis dai berkata, "Jadi, sekarang aku mau tanya. Apakah kalau aku memberitahu Mas sekarang dan memintamu mengantarkanku sekarang juga, kamu mau dan bersedia mengantarku pulang?" tanya Jihan menantang.


"Bukan seperti itu caranya meminta bantuan, tidak mendadak dan setidaknya memberi pilihan jadwal alternatifnya."


Jihan mendesah, "Aku tahu, kamu tidak mungkin bersedia karena ini sungguh mendadak. Kamu sudah terlanjur lelah setelah seharian berada di luar, aku tahu itu. Jadi, pergi bersama Bastian adalah pilihan yang tepat," kata Jihan.


"Apa itu berarti kamu tidak perlu meminta izin padaku? Aku suamimu, Jihan," seru Narendra yang sudah memuncak.


"Tidak perlu Mas meningatkan aku tentang siapa kamu di hidupku, seharusnya kamu mengingatkan dirimu sendiri supaya sadar siapa yang seharusnya menjadi prioritas saat ini. Bukan selalu memikirkan dia dan selalu ada dia di setiap kalimatmu," omel Jihan menunjuk ke sembarang arah pada dia seorang istri tua yang dijadikan sebagai pembanding dirinya.


"Maksudmu Cliantha? Kenapa? Kenyataannya memang dialah istri yang patuh dan tidak sewenang-wenang seperti kamu, aku selalu tahu apa yang dia lakukan meski aku tidak sedang bersamanya. Dia mampu membuatku percaya  dan tenang dimana pun dia berada karena ia selalu memberitaku dan meminta izin padaku lebih dulu," jelas Narendra yang sama sekali tidak menurunkan nada bicaranya. Seharusnya, Jihan ingat apa yang pernah dikatakan Cliantah dulu, jika Narendra tidak suka saat dirinya dibantah.


"Iya, dia memang istri terbaik untukmu. Bukan seperti aku, wanita yang mendadak kamu nikahi hanya untuk melahirkakn anak untukmu! Dengan atau tanpa seizinmu, aku akan tetap pergi dengan Bastian. Setidaknya, pergi bersamanya jauh lebih aman daripada naik kendaraan umum lainnya," tukas Jihan sekaligus sebagai keputusan final.


Di tempat lain, Cliantha sudah memasakan sesuatu yang enak-enak di meja makan. Spesial dia pulang lebih awal hanya untuk memasakkan menu makan malam untuk menyambut Narendra yang akan menginap di rumahnya setelah beberapa hari terakhir Cliantha rindukan sosoknya karena sudah lama tidak datang ke rumah itu.


"Halo, Assalamualaiku, Mas? Kamu jadi datang?" Tanya Cliantha mengawali begitu panggilan tersambung.


"Waalaikumsalam, Sayang. Maaf, hem, tapi." Terdengar suara sesal dari seberang.


"Tidak jadi datang?" tanya Cliantha selanjutnya.


"Iya, maaf, Sayang. Ini mau nganterin Jihan pulang ke rumah ortunya, ayahnya sakit keras," jawab Narenda yang merasa tidak enak hati mengingkari ucapannya sendiri.


"Innalillahi, syafakallah untuk ayah Jihan. Ya sudah, tidak papa," jawab Cliantha turut prihatin dan nada bicara yang lesu. Tangan yang semula semangat mengaduk sup jamur, menjadi lemah dan tidak bersemangat seperti sebelumnya.


"Iya, maaf ya. Bagaimana kalau aku menginap besok hari?" cakap Narendra menawarkan solusi.

__ADS_1


"Tidak masalah, Mas bisa datang kapan saja di lain hari. Lain kali tidak perlu janji kalau sepertinya tidak yakin bisa menepati," saran Cliantha.


"Maafkan aku sayang, iya kalau besok Mas pasti akan datang. Jangan sedih, ya. Jangan marah, ya?" bujuk Narendra mewanti-wanti supaya istrinya yang lain tidak bersedih karena ulahnya.


"Iya, hati-hati kalian di jalan," ucap tulus Cliantha.


"Iya, sayang. Makasih, ya, jangan lupa makan."


"Oh, ya, Mas. Aku mau minta izin ke kamu, ini kan aku udah masak cukup banyak. Boleh nggak kalau aku bawa makanan ini ke panti dan bagi-bagi ke anak-anak di sana?"


"Oh ya? Dengan siapa? Bik Siti?"


"Tidak, sendirian saja," kata Cliantha.


"Sendiri? Kamu yakin?"


"Iya, boleh ya?" pinta Cliantha memohon.


"Baiklah, Sayang. Kabari aku setiap waktu, okey?" pinta Narendra.


"Iya, baiklah. Terima kasih sudah memberi izin."


Mendengar sang suami yang sedang berbicang ria dengan istri pertamanya, Jihan hanya mendengarkan seraya menatap keluar jendela dengan bibir yang terkatup rapat. Dia merasa kesal, "Haruskah aku menjadi seperti mbak Cia supaya Mas Rendra mencintaiku juga? Dan dia bisa bersikap lembut padaku seperti dia memperlakukan istri pertamanya?" geremeng Jihan yang tidak terdengar jelas di telinga Narendra.


"Apa? Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Narendra mendekatkan sedikit sisi kepalanya supaya telinganya dapat menjangkau suara lirih Jihan.


Jihan menatap suaminya, dia menggeleng, "Tidak, itu lihatlah di luar hujan pasti terasa menyegarkan berlarian di bawah tetesan hujan itu, kamu mau?" tanya Jihan menunjuk ke pemandangan di depannya. Jalanan yang sepi, tepian pepohonan, dan hujan yang deras.


"Nggak, nanti bisa sakit," jawab Narendra.


"Kalau yang mengajak Mbak Cia, pasti Mas Rendra akan langsung mengiyakan walau dia mengajakmu melompat ke jurang sekali pun akan kamu penuhi segala keinginannya," cibir Jihan.


"Hah? Apa, Jihan? Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Narendra yang tidak bisa menangkap suara JIhan yang lirih dan bertabrakan dengan suara kerasnya tetesan air hujan yang menerpa atap mobil dan jalan beraspal itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2