
Di kampung halaman Jihan.
Narendra tidak pernah tahu sebelumnya jika tanah kelahiran istri kedua berasal dari daerah yang jauh dari perkotaan tempat perantauannya. Kemarin petang mereka berangkat menuju kampung halaman JIhan, tetapi barulah sampai di lokasi ketika matahari telah terbit kembali dan telah berganti esok pagi.
Satu pemandangan yang menyambut kedatangan mereka ialah beramai orang berada di pelataran sebuah rumah yang dindingnya saling berdempetan satu sama lain. Orang-orang yang dominasi berbusana tertutup dan sebagian menggenakan pakaian bernuansa hitam, serta terdengar rintih tangis dari sebagian orang yang berada di sana. Sedangkan, bendara kuning melambai menjadi pertanda bahwa ada keluarga yang sedang berduka.
Narendra masih diam saat melihat wajah orang-orang yang bersedih di depan mata, tetapi mereka masih mempersilakan supaya mobil Narendra dapat masuk ke dalam pekarangan rumah yang sempit itu.
Narendra memposisikan mobilnya sampai berhenti dan terparkir sempurna, saat itu juga dia baru menyadari bahwa wanita yang berada di sampingnya sudah berlinangan air mata dan siap untuk turun dari mobil saat itu juga. Andai kata Narendra tidak mengunci semua pintu mobil itu secara otomatis, maka dia sudah melompat turun.
"Ayah!" teriak Jihan sesaat setelah ia keluar dari mobi dengan tergesa-gesa. Berlari menuju ke dalam rumah dan membelah kerumunan orang secara brutal sembari memegangi perutnya.
Narendra dibuat gagu sejenak melihat semua yang terjadi di depan mata, keluarga yang sedang berkabung adalah keluarga istrinya.
Melihat seorang wanita yang bersimpuh di depan keranda yang sudah tertutup kain hijau dan untaian bunga setaman yang mengantarakan suasana kepiluan bagi mereka yang ditinggalkan.
Jihan meremas kain hijau itu dan menangis meratap, "Ayah! Ayah kenapa pergi ninggalin Jihan secepat ini, Yah?!"
"Katanya Ayah ingin melihat cucu ayah dari Jihan? Jihan belum sempat melahirkan, kenapa ayah sudah pergi duluan?" ujarnya tidak terima dengan kenyataan.
"Ayah sudah janji pada Jihan untuk bertahan sampai Jihan mendapatkan uang banyak dan kita akan melakukan operasi itu, Yah! Kenapa ayah berbohong padaku?"
Wanita itu mengguncang-guncang keranda di hadapannya, "KENAPA AYAH MENINGGAL? KENAPA AYAH TEGA NINGGALIN JIHAN SEORANG DIRI! KENAPA, YAH! KENAPA?"
Wanita itu dirundung pilu, dia tidak hentinya memukul dan mengguncang-guncang keranda yang telah wangi dengan semerbak wewangian cairan kemenyan yang berulang kali dituangkan oleh pengurus jenazah.
Narendra tandang, pria itu turut duduk bersimpuh di sebelah sang istri. Dipeluknya tubuh Jihan meski dengan keraguan, pria itu tetap membawa Jihan dalam dekapannya tanpa ada penolakan dari sang wanita.
"Dia ayahku, satu-satunya pria di dunia ini yang tulus mencintaiku dan mau menerimaku apa adanya. Tapi, kenapa ayah pergi meninggalkan aku? Kenapa, Yah?!" tidak henti Jihan memukuli keranda berbahan besi itu dengan tangannya sampai genggaman tangan itu memucat saking kuatnya menggenggam untuk memukul keranda.
"Jihan, stop. Stop, Jihan," Narendra menarik mundur tangan yang tidak berhenti memukul itu.
"Jihan, tidak baik meratapi kepergian seseorang. Entah itu orang terdekat, terkasih, atau tercinta, kita tidak boleh menangis meratap di depan jenazah seperti itu. Tabah dan ikhlas, semoga ayah kamu husnul khatimah," ujar lembut Narendra mengusap sisi air mata Jihan yang sudah membanjiri wajahnya.
"Ayahku telah pergi, sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi," lirih Jihan, lambat laun mata itu memejam dan semakin samar gerakan tubuh Jihan yang melemas sampai wanita itu hilang kesadaran.
"Jihan?"
"Jihan, bangun, Nak. Ayah masih di sini, berdirilah," seorang pria paruh baya berpakaian biru langit menepuk-nepuk pipi Jihan yang sedang terbaring di atas permadani di tengah hamparan lahan yang hijau.
__ADS_1
"Ayah? Ayah, sedang apa kita di sini?" tanya Jihan yang heran bisa berada di taman luas seperti berada di belakang rumah neneknya, tempat tinggal saat kecil dulu.
Pria itu menganguk, "Ayo ikut ayah," ajak pria itu.
Jihan dibawa ke tepian perbukitan yang hijau dan subur yang ditumbuhi oleh bunga tulip berwarna putih.
Jihan berlari ke tengah hamparan taman yang dipenuhi dengan bunga tulip yang berkuncup besar.
"Bunga tulip inu sangat cantik, Ayah!" girang wanita itu berputar selayaknya dia di masa kecil dulu, ia berlari ks tengah taman yang sangat luas berisikan bunga tulip.
"Iya, bunga yang cantik sama seperti kamu," kata pria paruh baya itu.
"Ayah sudah bisa berjalan? Kaki ayah sudah sembuh?" tanya Jihan melihat kaki sang ayah yang semula dia ingat jika kaki itu tidak bisa berjalan, kini ayahnya terlihat sehat dan baik-baik saja.
Tidak menunggu sang ayah menjawab, Jihan menarik tangan pria itu dan membawanya berlari kembali ke tengah taman bunga tulip putih, bunga kesukaan Jihan sejak kecil.
"Yah, cuacanya semakin terik ya, Yah?" ujar Jihan.
"Ini menggambarkan perasaanmu, Nak,"
"Perasaan apa? Aku hanya sedang bahagia karena ayah sudah bisa kembali berjalan dan berlari bersamaku. Sehat selalu untuk Ayah," kata Jihan memeluk sang ayah.
Jihan mendongak, "Iya?"
"Ayah sangat berterima kasih padamu. Kerja kerasmu yang tidak main-main hanya untuk berusaha menyembuhkan ayah, ayah sangat bangga padamu."
"Tidak perlu berterima kasih, Ayah. Itu sudah menjadi kewajiban Jihan sebagai anak yang harus berbakti pada orang tuanya. Tapi, sekarang Jihan nggak perlu kerja sekeras itu lagi, kan? Karena sekarang ayah sepertinya sudah bisa berjalan dan terlihat sangat sehat dan bugar," kata Jihan yang memandangi sosok sang ayah dari atas sampai bawah yang berdiri tegak seperti pria muda.
"Kamu benar, ayah sudah sehat dan pulih dari sakit. Ayah sudah tidak sakit lagi, Nak. Sekarang, maukah kamu mendengarkan pesan ayah?"
"Apa itu?" tanya Jihan.
"Ayah selalu dan sangat ingin melihat cucu ayah yang masih ada di perutmu," ucap sang ayah.
"Hah? Dari dulu sebelum aku menikah, ayah selalu mengatakan hal itu. Namun, sejak kapan ayah tahu jika aku tengah mengandung? Belum pernah Jihan memberitahu ayah, kan, dari setelah menikah? Usia kandunganku masih sangat awal, Ayah," Jihan menjawab seraya mengelus perutnya.
"Ayah tahu. Makanya, jaga dia baik-baik, ya. Dan untukmu, hatimu sedang panas, Nak. Jika kamu tidak kuat akan suatu keadaan, maka berhentilah. Jangan memaksakan, tidak semua yang kita usahakan adalah benar milik kita. Semua akan kembali pada tempat yang semestinya. Itu pesan ayah," kata pria itu seraya melepas tautan tangannya pada tangan Jihan.
"Ayah mau kemana? Kita kan pulang bersama," Jihan menahan tangan sang ayah, tapi tautan itu memaksakan untuk terlepas.
__ADS_1
"Ayah akan pulang dulu, kembalilah dan ingat selalu pesan ayah," kata pria itu seraya berjalan mundur dan seperti hilang ditelan kabut putih tebal dan angin yang berembus semilir.
"Jihan..."
"Jihan," terdapat suara seseorang memanggil dirinya di belakang tubuhnya, posisinya berlawaan deegan langkah sang ayah yang semakin melangkah mundur dan menjauh ssat Jihan mencoba mengerjanya.
"Ayah, Tunggu! Ayah mau kemana?" teriak JIhan yang tidak sanggup mengejar langkah sang ayah yang perlahan lenyap di balik gumpalan awan putih.
"Jihan, Jihan bangunlah," sayup-sayup suara pria yang berada di belakang tubuhnya semakin jelas terdengar telinga dan semakin jelas pula seperti tepat menempel pada daun telinga Jihan sampai wanita itu bergidik menggeliat.
"Ayah!" Jihan terpekik lirih. Dia membuka matanya perlahan yang terasa berat dan napas yang menderu, serta sulit untuk menghirup oksigen di sekitarnya. Dia bangun di dalam dekapan seseorang, Narendra.
"Ayah? Ayah? Ayah! Dimana ayahku?" wanita itu celingukan mencari ke sekitar yang tadi dia lihat hamparan taman bunga tulip putih.
"Ayahku dimana? Huks..." tangis pilu wanita itu di dalam dekapan Narendra dan semakin meringsek masuk ke dalam dada suaminya.
Narendra.
"Sayang, ayah Jihan meninggal," ucapnya bertutur kata pada Cliantha lewat sambungan telepon.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Jihan pasti sangat sedih, Mas. Kamu temani dia terus, ya. Apa perlu aku menyusul kalian ke sana?" tanya Cliantha yang turut bersimpati.
"Tidak perlu, sangat jauh lokasinya."
"Tapi, aku sangat mengenal ayah Jihan. Sepertinya tidak pantas kalau aku tidak datang, aku ke sana bersama Nameera, boleh?" tanya Cliantha sekali lagi.
"Baiklah, hati-hati di perjalanan," ucap Narendra yang akhirnya mengizinkan.
"Tunggu, aku di sana," ucap Cliantha.
"Mas," panggil Jihan di belakang tubuhnya, Narendra menoleh sebentar.
"Sayang, sudah dulu ya, Jihan memanggilku," pamit Narendra yang akan menutup telepon.
"Kamu pulanglah saja, aku masih tetap di sini beberapa hari. Tinggalkan saja aku di sini sendiri," ucap Jihan.
"Kenapa memangnya? Akan aku temani," jawab Narendra yang berjalan mendekat.
"Tidak perlu, ada sesuatu yang harus aku urus selama di sini," kata Jihan sekali lagi.
__ADS_1
Bersambung....