
Mendengar suara pria itu, tubuh Jihan mendadak langsung bergetar. Rasanya dia ingin berlari sekencang angin dan berada di depan pintu rumah saat itu juga. Jihan bergegas lari ke belakang panggung untuk menghindari kebisingan suara supaya Narendra tidak curiga.
"Halo? Kenapa berisik sekali di sana? Kamu sedang berada dimana?" Tanya pria itu sekali lagi.
"Maaf, Pak. Saya sedang di jalan, jadi terdengar berisik karena banyak kendaraan berlalu lalang," jawab Jihan berbohong.
"Di jalan mana? Ini sudah hampir malam. Katakan di mana, biar dijemput saja!"
Jihan terpejam, ini akan sangat rumit jika orang-orang rumah tahu ada dimana sedang dirinya, "Tidak-tidak, tidak perlu. Ini lima menit lagi saya sampai, ini sudah di dekat rumah," kata Jihan berbohong untuk ke sekian kalinya.
"Ya, saya tunggu. Cepatlah! Assalamualaikum," ujar Narendra sebelum mengakhiri teleponnya.
"Baik, Waalaikum..." Belum selesai Jihan menjawab salam, tetapi panggilan itu telah diakhiri oleh Narendra secara sepihak.
"Ada apa, Han? Semua baik-baik saja?" Tanya Bastian yang khawatir karena Jihan terlihat gugup sejak mendapat telepon tadi.
"Tidak papa, kakakku menelepon menyuruhku pulang karena ada keperluan. Aku pulang dulu ya, Bas," pamit Jihan pada Bastian.
"Tunggu, ini fee untuk hari ini dari manager resto ini," ujar Bastian memberikan lima lembar uang pecahan seratus ribuan.
"Terima kasih, aku pulang dulu, ya?"
__ADS_1
"Tunggu, biar aku antar saja. Yuk?" Ajak Bastian yang sudah bersiap mengenakan jaketnya.
Jihan melotot, itu tidak mungkin, "Tidak perlu, jangan Bas!" Bantah wanita cantik dengan rambut berponi itu.
"Kenapa? Kamu tidak mau aku antarkan pulang?"
"Bukan, tetapi aku sudah memesan ojek. Ya, ojeknya sudah dalam perjalanan ke sini, terima kasih atas tawarannya. Aku pulang dulu. Bye!" pamit JIhan tergesa-gesa.
Belum ada sepuluh menit berlalu, JIhan pun masih berada di jalan. Namun, dia harus menghadarpi telepon bertubi-tubi dari Narendra.
"Halo?"
"Ya, sudah sampai mana? Ini sudah lebih dari lima menit. Kamu berbohong pada saya," sentak Narendra pada Jihan.
"Ya sudah, cepat pulang. Assalamualaikum!" Ucap Narendra. Kali ini jIhan tidak ada niat untuk menjawab salam itu karena dia tahu pasti pria itu tidak akan menunggu sampai Jihan menjawab salamnya.
Ponelsonya masih berada di dekat telinga, "kenapa tidak dijawab salam saya?" Suara seseorang dari seberang panggilan masih terdengar.
Jihan kaget, ternyata telepon masih tesambung, "Eh, Iya, Pak. Waalaikum..."
Tut.. tut.. tut... Pada kenyataannya, Narendra memutus panggilan itu seperti sebelumnya, sebelum jihan menyelesaikan menjawab salamnya.
__ADS_1
Lantas, hal itu membuat bibir Jihan tercetak senyuman simpul yang tiba-tiba muncul.
Lebih dari setengah jam, barulah wanita itu tiba di rumah. Tentu sendi lututnya bergetar dan tubuhnya terasa panas dingin karena dia menyangka akan mendapatkan semprot omelan dari pria yang tiba-tiba datang ke hidupnya dan seakan mengambil alih penuh aturan hidupnya.
"Inikah yang kamu bilang 5 menit?' Tanya Narendra yang sedang duduk di sofa ruang tamu saat JIhan baru saja muncul dari balik pintu.
"Maaf, tadi...."
"Alasan! Apa saja yang kamu lakuan di luar rumah seperti itu?" Tegur Narendra.
"Saya hanya bertemu dengan teman-teman saya, Pak," jawab Jihan takut-takut.
"Bertemu di waktu petang seperti ini? Kamu sadar tidak jika kamu sedang mengandung? Tidak kah kamu dengar apa pesan dokter? Kamu menyepelekan kehamilanmu itu?" Sentak Narendra yang berdiri dan berjalan mendekat ke arah Jihan.
Tentu wanita itu semakin dibuat gemetar, bahkan kali ini bukan hanya pada lututnya saja, tetapi sekujur tubuhnya ikut bergtar karena ketakutan.
"Teman siapa? Teman seperti apa yang mengajak pertemuan atau reuni di waktu petang hari? Siapa? Sebutkan namanya," pinta Narendra yang kini telah berdiri tepat di depan Jihan yang hanya berselang selangkah darinya.
Jihan tidak berani menatap wajah suaminya, dia hanya mampu memandangi sepatu hitam Narendra.
"Sayang, tolong kamu jangan kasih izin dia kalau dia mau pergi ketemu taman-teman di sore hari seperti ini lagi," kata Narendra pada Claintha yang diangguki oleh istri pertamany itu.
__ADS_1
"Saya pasti tahu apa yang coba kamu sembunyikan, jangan coba-coba berbohong," ucap lirih Narendra dengan nada penuh ancaman yang mampu membuat jantung Jihan berdegup semakin kencang.
Bersambung....