Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 15. Tentang Imbalan


__ADS_3

Entah karena apa, Narendra sampai terlupa jika dia tidak seharusnya makan pasta karena makanan itu berbahan dasar tepung dari gandum yang tentu mengandung gluten.


Alhasil, pria itu harus menanggung kesakitan setelahnya. Ruam gatal dan demam hingga tidak sadarkan diri, membuat Narendra harus dirawat sementara di rumah sakit yang sama.


Menjaga dua orang yang sedang sakit, Cliantha tampak lelah dan ingin membelah diri jika dia bisa.


"Temani saja dia. Aku bisa sendiri," kata Narendra saat Cliantha sedang menemaninya di kamar rawat yang berbeda.


Sekarang, dirinya sedang menuju ke kamar Jihan. Namun, selalu ada kejutan sebelum dia membuka pintu kamar rawat wanita itu. Jihan sedang berbicara dengan seseorang melalui teleponnya dengan suaranya yang serak-serak karena bercampur dengan tangisan.


"Bu, tolong jangan seperti itu. Jihan masih belum punya uang," ucap wanita dengan suara tercekat-cekat sedang menangis dalam posisi berbaring di atas ranjangnya.


"Apa? Mengapa bisa? Tolong bawa ayah ke rumah sakit segera, Bu. Jihan mohon sama ibu," ucap wanita itu dengan sentakkan seraya bangkit dari posisinya.


"Jangan seperti ibu, Bu. Baiklah, secepatnya Jihan kirimkan uang itu untukmu,"


"Baik, Bu."


Setelah tidak terdengar percakapan antara dia dan seseorang di telepon itu, barulah Cliantha masuk ke dalam kamar. Melihat Cliantha yang masuk ke dalam ruangan itu, Jihan mengusap air matanya dengan cepat dan menggantinya dengan senyuman kepada Cliantha.


"Bagaimana keadaanmu, Han?" Tanya Cliantha yang mendekat ke ranjang Jihan.


"Baik, Mbak. Lebih segar daripada kemarin. Bagaimana Pak Rendra? Maafkan aku, tidak tahu jika pasta ternyata..."


"Dia baik-baik saja," pungkas Cliantha.


"Mbak?" Panggil Jihan.


"Iya?"


"Bolehkan saya mendapatkan uang imbalan itu sekarang?"

__ADS_1


🌸🌸🌸


Sebulan yang lalu.


Di dalam toko butik milik Cliantha, Jihan adalah salah seorang karyawannya. Mereka cukup dekat setelah selama 2 tahun Jihan menjadi karyawannya.


Sore itu saat butik sudah tutup dan jam kerja karyawan sudah habis, sudah waktunya bagi mereka pulang. Namun, tidak dengan JIhan. Cliantha sengaja memberitahukan kepadanya untuk tidak pulang terlebih dulu saat jam kerja sudah selesai hari itu.


"Ada apa, Mbak?" Tanya Jihan pada Cliantha dengan akrab seperti biasa.


"Jihan, aku membutuhkan bantuanmu," ucap Cliantha.


"Oh, baik, Mbak. Apa yang bisa aku bantu? Shipping? Packing atau ada supplier kain yang baru? Katakan saja, Mbak. Saya masih semangat, kok, Mbak!" Jawab Jihan dengan sesemangat itu. Dari Jihan, yang Cliantha sukai adalah keceriaan dan lincahnya gadis berusia seperempat abad itu.


"Bukan tentang butik, tetapi tentang diriku, Han."


Jihan menurunkan kadar keceriaannya saat Cliantha terdengar sedang ingin serius dengan kalimatnya, "Ouh, baiklah. Bantuan apa pun itu, semoga saya bisa, Mbak," jawab Jihan masih dengan raut jawah yang ceria dan bahagia seperti biasnaya.


"Ada satu pekerjaan untukmu, anggap saja pekerjaan ini semacam proyek untukmu karena ada misi dan jangka waktunya. Jangka waktunya selama satu tahun, dan di akhir kamu akan mendapatkan imbalan sebesar 500 juta. Kamu tertarik?" Harusnya semua orang akan senang karena mendapatkan proyek pekerjaan dengan imbalan lima ratus juta, tetapi tidak bagi Jihan. Wanita itu yang semula semringah, kian menyusutkan senyumnya seketika.


Cliantha bangkit dari kursinya, menatap mata JIhan lekat-lekat sebelum dia mengatakan apa ingin dia katakan pada salah satu karyawannya itu, "Menikahlah dengan suamiku dan lahirkan seorang anak untuk kami," ucap Cliantha.


Deg! Jantung Jihan seakan berhenti seketika.


"Melalui sebuah pernikahan yang sah, aku harap kamu busa melahirkan seorang anak untuk kami. Setelah kamu berhasil, maka kamu boleh pergi setelahnya,"


"Aku gak bisa, Mbak," tolak Jihan dengan menggelengkan kepalanya.


"Ini semua kulakukan karena aku tidak bisa mengandung. Andai kamu tahu jika di keluarga suamiku begitu mengharapkan kehadiran seorang penerus dari suamiku, tetapi kendaalanya ada di aku. Aku tidak bisa mewujudkannya, Han."


"Tidak, Mbak Jihan. Mohon maaf, tetapi untuk pekerjaan ini, saya...."

__ADS_1


"Hanya untuk setahun! Cuma setahun, jika lebih dari waktu itu tidak ada hasil, maka kamu boleh pergi dengan mendapatkan separuh dari imbalan uang yang aku janjikan," kekeuh Cliantha memaksa Jihan secara tidak langsung.


Jihan tidak mengiyakan ataupun menolaknya pada saat itu, tetapi entah gadis itu mempunyai tujuan lain atau berubah pikiran karena beberapa hari setelanya, dia kembali kepada Cliantha dan menyetujui tawaran tersebut.


🌸🌸🌸


"Maaf, ini karena aku membutuhkannya sekarang," ujar Jihan lagi meski dnegan tidak enak hati.


"Kamu akan mendapatkannya hanya jika kamu telah melahirkan anak itu," terang Cliantha.


"Semoga kamu tidak lupa dengan perjanjian kontrak itu, Han," tambahnya lagi/


Jihan menunduk, kemudian mengangguk.


Bagaikan benda yang telah terisi daya penuh, Jihan yang sebelumnya terlihat lemah dan tidak bertenaga, kini dia kembali ke keadaan semula; semangat dan penuh ceria.


"Mbak, apa aku sudah boleh pulang?" Tanya dia dengan semringah di keesokan paginya.


Cliantha mengangguk, dokter mengatakan jika kondisi Jihan sudah sepenuhnya pulih.


"Yeah, akhirnya!" Seru gadis itu turun dari ranjangnya seraya melompat kecil penuh kegirangan.


"Han. hati-hati. Jaga kandunganmu!" Tutur Cliantha yang terkejut karen ulah Jihan.


"Oh iya, hampir terlupa," kekeh wanita muda yang lincah itu.


Di depan rumah sakit, wanita itu tidak turut masuk ke dalam mobil Narendra, dia mengatakan akan menemui temannya di dekat rumah sakit karena sudah membuat janji.


"Jihan, tapi kamu baru pulih,"


"Sudah sehat. Jangan khawatirkan aku, Mbak." kata Jihan.

__ADS_1


Dua orang itu memandangi perut Jihan, "Kalian tenang saja, aku akan menjaga kandunganku," ujar Jihan yang peka dengan apa yang mereka khawatirkan darinya.


Bersambung....


__ADS_2