
"Bunda, itu hanya..." jawab Cliantha terbata-bata, dia tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu hamil, tapi tidak memberitahu Bunda?" selidik Daisya pada putrinya.
"Ayah harus tahu kabar ini, Cia. Kabar baik seperti ini, kenapa disembunyikan?" Daisya menarik tangan putrinya untuk ikut dengannya menemui para pria yang masih duduk di ruang tamu dan bersantai ria.
"Ayah, lihatlah apa yang Bunda temukan di dapur," kata Daisya membuat keributan seisi ruang tamu rumah anak dan menantunya.
"Apa, Bun?" tanya Andra lirih pada istrinya yang telihat seheboh itu. Wanita itu masih saja bersikap beringas meski usianya tidak lagi dapat dikatakan muda.
"Pelan-pelan, ada apa? Kenapa terlihat serius sekali?" Tanya Andra yang berdiri menyambut istrinya yang akan melaporkan sesuatu penting dengan membawa serta Cliantha di belakang tubuhnya.
Sedangkan Narendra, ia sudah menduga apa yang akan dibicarakan oleh sang mertua karena dia paham betul apa yang sedang dibawa oleh mertuanya selain Cliantha yang berada di gandengannya.
"Boks susu formula itu?" Tanya Narendra dalam hatinya. Pria itu sama bangkitnya dari posisi duduknya.
Baik Narendra atau pun Cliatha tidak ada yang mampu menghalangi anggapan sang bunda, selain saling diam dan pasrah tentang apa yang akan dibicarakan oleh mertuanya tentang boks susu itu.
"LIhat, bunda menemukan banyak sekali susu formula untuk ibu hamil di dapur," ucap Daisya.
"Lalu?" Tanya Ayah Andra mengerutkan dahinya setelah menerima boks susu yang berformulasikam khusus untuk ibu hamil.
"Jelas, Cia hamil, tapi mereka tidak segera memberitahukan ini kepada kita, Yah. Ini yang Bunda tunggu-tunggu sejak dulu. Namun, bisa-bisanya mereka menyimpannya untuk sendiri," tuding wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Bun, sebenarnya...." Cliantha ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu.
"Tidak usah banyak alasan, Sayang. Bunda masih tetap bahagia meskipun kalian sempat menyembunyikan berita ini sebelumnya,"
"Cia, apakah itu benar, Nak?" Tanya Andra pada putrinya dengan lembut.
"Ayah, sebenarnya aku...."
"Ren, benar kan kalau bunda akan menjadi Oma?" Daisya segera bertanya pada Narendra.
"Benar, Bun," jawab pria itu membenarkan. Entah, cucu yang mana yang akan terlahir. Intinya, akan ada bayi yang lahir di rumah itu, pikir Narendra sebab itulah dia mengiyakan pertanyaan Daisya.
Mata Daisya berbinar cerah, "Masya Allah, tabarakallah. Sudah berapa bulan, Nak? Lailahailallah," sembah syukur Daisya terus gaungkan pujian dan selawat atas berita bagus itu.
"Sudah berapa bulan, Sayang?" Tanya Ayah Andra menyusul. Namun, Cliantha bungkam. Hanya gelengan kepala sebagai jawaban atas semuanya.
"Biar bunda yang memasakkan sesuatu yang enak-enak untukmu. Ibu hamil harus makan makanan yang bergizi," kata Daisya yang sibuk membuatkan menu makan malam untuk suami, anak, dan menantunya.
"Bunda tidak perlu repot-repot," ucap Cliantha tidak bersemangat.
"Jangan membantah, ayo duduklah. Bunda yang akan menyiapkan semua ini,"
Di meja makan.
__ADS_1
"Kalau seperti ini, Bunda punya alasan untuk terus datang da menginap di sini," kata Daisya membuat dentingan kersa di piring mkaan Narendra dan Cliantha terdnegar berisik.
"Apa, Bun?" Kata Cliantha bertanya dengan spontan.
"Bunda bisa menginap di sini dan sering datang kemari, kenapa? Tidak boleh, ya?"
Ciantha merapatkan bibirnya, dia kewalahan sendiri.
"Tentu boleh, Bun. Kenapa tidak?" Narendra yang menyahut, meskipun di dalam hati ada banyak kalimat penyanggahan yang bisa dia katakan atas ketidaksetujuan dengan ide metuanya yang akan sering datang ke rumah.
Hening...
Antara Cliantha dan Narendra sama-sama hanyut dalam pemikirannya masing-masing.
Di tengah keheningan itu, dering ponsel Narendra yang menggema dan memecahkan lamunan mereka.
"Halo?"
"Apa?!" Sentak Narendra, tetapi setelah itu senyum Narendra terbit cerah.
"Alhamdulillah, Jihan sudah siuman," ucap Narendra pada Cliantha secara spontan.
Bukan ekspresi bahagia yang Cliantha tunjukkan pada Narendra, tetapi kekhawatiran yang membuat wajah pria itu pun tampak pias seketika karena saat itu juga ia disadarkan bahwa mereka tidak sedang berdua, ada mertua yang sedang duduk di hadapan mereka.
__ADS_1
"Jihan itu siapa? Kenapa memangnya dengan dia?" tanya Daisya membuat dua orang manusia itu bungkam.
Bersambung...