Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 41. Salah Sangka


__ADS_3

Narendra berlari menghampiri ke dua istrinya, "Cliantha apa yang kamu lakukan?" Tanya Narendra sekali lagi pada istri pertamanya. Akibat bentakan yang sebelumnya, membuat Cliantha melangkah mundur dan bergatian dengan Narendra yang mengambil alih posisi.


Pria itu membawa Jihan dalam gendongannya, wanita yang sudah terkapar lemas tidak sadarkan diri di atas tanah yang basah dan di bawah derasnya air hujan itu geming saat Narendra membopongnya.


"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan ini," ucap Narendra pada Cliantha selepas dia membawa Jihan dalam bopongannya.


Mendengar itu, Cliantha menautkan alisnya. "Mas, itu bukan seperti yang kamu lihat. Ini tadi..." Cliantha mencoba menjelaskan saat Narendra melihat apa yang tengah ia genggam di tangan kanan Cliantha.


"Bukan saatnya untuk mendebat, Cia," sergah Narendra yang tidak mau mendengarkan Cliantha walau sejenak.


Tidak perlu memedulikan sikap suaminya saat ini, tidak perlu berusaha menjelaskan apapun jika yang terpenting adalah sesegera mungkin Narendra bisa membawa Jihan ke rumah sakit dan menyelamatkan nyawa ibu dan anak yang ada di kandungannya itu. Bagi Cliantha, pembelaan atas dirinya tidak penting untuk saat ini.


Dokter Dewi, dia meminta Narendra dan Cliantha masuk ke dalam ruangannya.


"Bapak, Ibu, ini sudah ke sekian kalianya Bu Jihan masuk ke rumah sakit dengan berbagai masalah yang terjadi dan kesekian kalinya juga ini mengancam keselamatan ibu dan calon bayinya," jelas dokter Dewi dengan serius.


"Bagaimana keadaan anak dan istri saya, Dok?" pertanyaan itu membuat Cliantha menatap wajah Narendra sesaat. Sekarang dengan mudahnya mulut suaminya mengakui status Jihan dalam hidupnya. Harusnya dia senang karena inilah yang dia inginkan sejak Jihan menjadi madunya, tetapi hari ini dia tidak begitu senang karena Narendra sedang dalam keadaan tidak berbaik hati pada dirinya.


Sejenak dokter Dewi menatap Cliantha yang sedikit terkejut dengan pertanyaan suaminya.


"Keadaan Bu Jihan mengkhawatirkan, terdapat luka robek pada pangkal pahanya yang menyebabkan dia kehilangan banyak darah. Untunglah, stok bank darah di rumah sakit ini tersedia cukup untuknya," kata dokter itu menjelaskan.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan janinnya?" Tanya Narendra sekali lagi.


"Beruntunglah Anda karena segera membawa Bu Jihan ke sini sehingga ibu dan calon bayinya dapat tertolong, jangan jadikan ini sebagai alasan takdir Tuhan karena keberuntungan seperti ini tidak datang berulang kali," ucap dokter wanita itu.


"Saya sarankan, supaya Bu Jihan berada di bawah pengawasan ekstra karena mengingat keaadan emosinya yang kurang stabil dan sepertinya beliau kurang mawas diri," jelas dokter Dewi.


"Dia mengidap bipolar, Dok," terang Narendra seketika.


"Apa?!" Terkejut dokter Dewi dengan ucapan Narendra.


"Ini perlu penangangan khusus," cetus dokter Dewi seraya menarik laci dan membuka buku catatan untuk bersiap diberikan keterangan lebih lanjut mengenai pasien ibu hamil yang satu itu.


Di samping seseorang yang terbujur lemas dengan selang infus di tangan kirinya dan tabung oksigen yang membantu jalan napasnya, Narendra dan Cliantha berdiri di sisi ranjang tempat Jihan terbaring lemas tidak berdaya.


Kini mata pria itu menatap sosok wanita yang berada di sampingnya, menggerakkan sedikit posisi tubuhnya supaya bisa menghadap Cliantha, "Yang kuminta bukan perkara sulit padamu, hanya membantu dia menjaga emosinya dan janinnya, bukan malah mencelakainya," ucap Narendra selanjutnya.


Cliantha tertegun atas tuduhan itu, dia berbalik menatap sang suami, "Aku tidak mencelakainya, Mas."


"Kalau tidak mencelakai, lalu apa? Sedangkan yang aku lihat, kamu menarik dia dari belakang sampai Jihan hilang keseimbangan. Dia terjatuh dengan keras. Itu bukan hal sepele, Cliantha," ucap Narendra.


Seakan diingatkan dengan kejadian beberapa jam yang lalu, saat ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Jihan terjungkal ke belakang dengan begitu kerasnya dan betapa shock-nya dia saat melihat Jihan mengerang kesakitan dan darah segar mengucur dari pangkal pahanya. Untunglah, bayi di dalam kandungan wanita itu baik-baik saja.

__ADS_1


Namun, tuduhan 'sengaja mencelakai' sama sekali bukan niat hati Cliantha. Dia murni hanya ingin menggagalkan rencana Jihan yang hampir terjun ke dalam sungan besar itu.


Lantas, pembelaan pun dia lakukan sendiri, "Mas, maaf, aku memang salah membuat Jihan terluka, tetapi sungguh aku tidak mempunyai niat jahat padanya. Kenapa kamu menuduhku berbuat hal buruk seperti itu. Aku menarik Jihan dari belakang karena dia mau melompat ke sungai!" ucap Cliantha berusaha meyakinkan sang suami jika dirinya sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakai Jihan sedikit pun.


"Apa tidak ada cara lain yang lebih aman dilakukan daripada mengancam dua nyawa sekaligus? Apa perlu menarik dia dengan begitu kerasnya sampai dia terjatuh ke tanah dan luka robek karena bebatuan yang runcing di sana?" Narendra mendikte kesalahan yang telah Cliantha buat secara tidak sengaja.


"Jangan berniat membantu jika pada akhirnya sama-sama merugikan orang lain, apalagi membahayakan nyawa. Lain kali pikirkan risikonya. Telepon aku kan bisa, jangan bertindak gegebah sendiri," nasihat Narendra tang membuat Cliantha mengangguk-anggukan kepala.


"Maaf, aku tidak sempat menghubungimu saat itu karena aku pun sedang kacau sendiri," Cliantha yang merasa bersalah hanya bisa menundukkan kepalanya, niat hati menyelamatkan nyawa seseorang malah berujung petaka yang tidak bisa dibenarkan atas pembelaan apapun.


"Lalu, di tanganmu saat itu..." ucap Narendra yang tidak melanjutkan kalimat dugaan selanjutnya.


Cliantha mengerutkan dahinya, merasa heran dengan tuduhan lain yang hendak suaminya tujukan padanya, "Jangan bilang Mas juga akan mencurigai aku yang membawa pisau saat itu? Andai kamu tahu jika saat itu Jihan kabur dari rumah dan membawa serta pisau dapur, tapi aku berhasil merampasnya," ucap Cliantha mencoba menjelaskan yang sebenarnya.


"Lalu, kenapa saat aku masih berada di kejauhan dapat kudengar jika dia berteriak kamu ingin mencelakainya? Apa Jihan berbohong? Untuk apa dia berbohong?" Tukas Narendra yang seakan tidak mudah percaya pada penjelasan Cliantha daripada apa yang telah dilihatnya dengan mata kepala sendiri.


Cliantha jengah, tidak habis pikir dengan semua kecurigaan suaminya. Bahkan dia tidak pernah menduga jika sang suami bisa mencurigai dia, wanita yang bertahun-tahun telah hidup berdampingan dan tinggal bersama.


"Lalu, apa mas pikir saat ini aku yang sedang berbohong? Untuk apa? Aku tidak pernah menduga jika kamu bisa mengira aku mempunyai niat jahat padanya. Apa sekarang dia yang kamu cinta? Dia, ibu dari calon anak kamu?Cintamu sudah bukan lagi padaku yang tidak bisa menghadirkan anak untukmu, benar begitu?" Terka Cliantha menyerobot dengan segala prasangkanya.


"Okey, Mas. Sekarang aku mengerti jika semua pria pasti menginginkan hal yang sama, mereka mau wanita yang sempurna yang berada di sisinya. Mereka yang bisa menjadi ibu untuk anak-anaknya, sebab itulah aku tidak lagi kamu butuhkan dan sebentar lagi kamu pasti akan membuangku," ucap ketus Cliantha sebelum dia berlari pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2