Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 37. Kebenaran


__ADS_3

Bukan jawaban itu yang Nabilah mau, dia tetap ingin tahu lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang mendasari keduanya sepakat melakukan perpoligamian.


Dengan menahan emosi sedalam-dalamnya, Nabilah kembali mendekatkan diri pada menantunya, hanya tersisa selangkah sebelum tubuh itu saling menempel. Nabilah meraih pergelangan tangan Cliantha, "Jujurlah kepadaku, Sayang. Jika apa yang dikatakan wanita itu benar, kenapa kamu menyetujui saat Narendra melakukan ini?" Tanya Nabilah yang terus mendesak menantunya.


"Jawablah. Apa yang telah terjadi pada kalian? Bunda ingin tahu," ucap lembut Nabilah yang membujuk anak dan menantunya itu untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Katakan saja semuanya pada Bunda, apa yang sudah terjadi? Benarkah telah terjadi poligami di sini?"


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh wanita muda di hadapannya yang sudah dalam keadaan tertunduk penuh, tetapi ia mampu memberikan jawaban mencengangkan bagi Nabilah walau sekadar memberikan respons anggukan kepala.


Helaan napas berat Nabilah embuskan berulang kali, matanya menatap dua anaknya yang tidak berani menatap balik mata Nabilah.


"Tidak habis pikir dengan jalan pikiran kalian. Apa bunda Daisya tahu tentang ini?" Tanya dia pada menantunya.


Seketika wajah yang menunduk itu terangkat, gelengan kepala langsung Cliantha berikan berbanyak kali dengan kedua tangannya yang bergelayut di lengan Nabilah, menantunya itu memohon-mohon.


"Tolong jangan katakan ini pada ayah bunda, Bun. Jangan," pinta Cliantha yang memohon dengan sangat.

__ADS_1


"Kenapa? Ayah bundamu tetap harus tahu,"


"Tidak! Jangan dulu. Bukan sekarang, Bunda. Tolong jangan beritahu mereka, Cia mohon," sanggah Cliantha dengan bibir yang bergetar dan deraian air mata mulai membasahi pipinya.


Berikutnya, wanita itu membawa serta Cliantha untuk mendekat pada putra semata wayangnya. Tidak ada aba-aba, telapak tangan Nabilah langsung melayangkan tamparan panas di pipi Narendra. Tamparan terkeras yang pernah diberikan Nabilah kepada seseorang.


"Kenapa kamu melakukan ini, Ren? Benarkah kamu anak bunda yang telah berjanji tidak akan menyakiti hati wanita terutama Cliantha, istrimu?" Tanya Nabilah yang sudah terlampau emosi.


"Bukankah kamu tahu kalau bunda sangat membenci laki-laki yang bersikap bajingan, Ren? Kenapa kamu malah seperti ini? Tidakkah kamu berpikir jika ini nantinya akan menghancurkanmu sendiri? Sudahkah kamu memikirkan ini matang-matang? Jawab Bunda kalau kamu sudah yakin dan telah memikirkan tentang ini sejuta kali, Narendra!" tegas Nabilah mengguncang lengan tangan putra kesayangannya yang sudah besar melebih dirinya.


Anak satu-satunya yang selalu menjadi kebanggannya dan sangat dia percaya akan memberikan harapan besar di masa depan. Namun, hari itu kepercayaan Nabilah terasa dihancurkan leburkan seketika.


Sedangkan di belakang tubuhnya, Cliantha masih terisak dengan tangisannya. Wanita itu tersedu-sedu, lantas membuat Nabilah ingin sekali membelai kepala menantunya itu, "Kenapa kamu izinkan dia menikah lagi kalau kamu tersakiti?"


"Katakan pada Bunda, siapa yang mencetus ide ini?"


"Tidak, Bun, ini sudah menjadi keputusan kami. Cia berusaha untuk ikhlas karena itu yang terbaik untuk Mas Rendra dan semuanya," kata Cliantha di dalam dekapan Nabilah.

__ADS_1


"Benarkah kamu ikhlas? Tatap bunda jika benar kamu ikhlas, Cia?" Ucap Nabilah menantang dan menggerakan wajah kecil itu supaya mau menatapnya.


"Tatap bunda sekarang!" Nabilah mengguncang kedua bahu Cliantah yang enggan menantap mata Nabilah.


"Tatap bunda dan jawab siapa yang mencetus ide gila ini?! Apa wanita itu yang menghasut kalian? Apa dia yang menyuruhmu melakukan ini?" Tuding Nabilah pada Hanna yang sejak tadi diam dan kini ia berdiri di samping tubuh Narendra memeluk lengan anak laki-lakinya itu setelah mendapat tamparan keras sebelumnya.


Cliantha dengan derai air matanya menatap Nabilah dengan terpaksa. Hanya gelengan kepala yang dia lakukan, wanita muda itu segera memeluk tubuh mertuanya.


"Bunda, Cia tidak tahu harus bagaimana. Ini semua karena Cia nggak bisa memberikan keturunan untuk suami Cia, Bun. Cia bukan istri yang sempurna buat Mas rendra, Bun. Maafkan Cia," ucap Cliantha yang tidak mau menyalahkan siapapun atas peristiwa ini.


"Kamu wanita baik, sayang. Tidak ada yang kurang dari kamu. Jika ada yang mengatakan hal buruk itu padamu, akan bunda robek mulut dia dengan tangan Bunda," ucap Nabilah menepuk teratur punggung Cliantha.


"Tapi, tetap, Ayah dan Bundamu harus tahu tentang ini," cetus Nabilah di akhir kalimatnya.


Selagi Nabilah memeluk tubuh menantunya, sepasang mata itu melihat sesosok wanita berambut panjang terurai yang berdiri di lantai dua rumah itu dan wanita muda di atas sana berbalik menatapnya.


Namun, beberapa detik kemudian Nabilah mengedarkan pandang ke arah lain. Dia enggan bertatapan lebih lama dengan pemilik mata sayu itu karena dia sudah mengetahui siapa sosok wanita itu.

__ADS_1


"Tidak akan bahagia siapapun yang berusaha menyingkirkanmu. Cliantha adalah anak Bunda," ucap Nabilah yang mungkin sengaja dengan suara yang agak keras supaya sampai ke telinga tujuan.


Bersambung...


__ADS_2