
"Jangan ganggu saya, Pak Rendra. Ini hanya sampai anak ini lahir, maka aku akan pergi setelahnya. Kita bukan siapa-siapa," ucap Jihan saat sebelum dia keluar melewati pintu itu.
"Dia siapa, Han?" Tanya Bastian yang ternyata sudah berada di depan pintu toilet dan akan masuk ke dalamnya menyusul teman wanitanya.
"Oh, bukan siapa-siapa. Kakak saja," jawab Jihan.
Namun, seakan Bastian tidak percaya karena cerita tentang keluarganya berbeda dari yang dulu pernah diceritakan oleh Jihan. "Kapan kamu punya kakak? Bukannya kamu anak pertama, ya?" Tanya Bastian menyelidik.
Jihan menggeleng, "Bukan kakak kandung, sepupu."
Kedua manusia yang masih di depan pintu itu tidak berkutik, mereka diam dan hanyut pada pikiran mereka sendiri. Melihat kedua orang yang saling diam di depan toilet, Narendra berucap, 'Jihan, ayo kita pulang."
Jihat terhenyak, "Ah? Bas?"
"Aku pulang bersama Bastian, Kak," jawab Jihan yang tiba-tiba memanggil dengan sapaan yang berbeda.
"Kak? Aku bukan kakakmu, Jihan. Siapa pula laki-laki ini, sudah tahu kamu bersuami, kan?" ujar Narendra dengan mudahnya.
"Hah? Bersuami?" Tanya Bastian tidak mengerti, laki-laki itu sungguh kebingungan. Berulang kali dia menggaruk kepalanya sendiri karena bingung dengan beberapa hal yang baru saja didengar.
Kakak laki-laki jihan?
Suami Jihan?
"Apa yang kamu katakan, Kan? Bersuami, mana ada aku sudah bersuami. Gadis miskin sepertiku, mana ada yang mau menikah denganku. Sudahlah, ayo kita pulang saja!" Jihan yang merasa kebingungan harus menjawab apa pada pertanyaan Bastian, dia mencari cara lain untuk meloloskan diri. Jihan mernagkul lengan Narendra dan menarik pria itu mengajaknya pulang supaya tidka berlama-lama di depan Bastian dan membuat lelaki itu banyak bertanya nantinya.
__ADS_1
"Bas, aku pulang sama kakakku, ya. Sampai jumpa lagi," pamit JIhan pada Bastian yang masih diam melihat kepergiaan JIhan dan 'kakak laki-laki' yang tengah dia rangkul itu.
"Jangan mengganguku, Pak. Jangan sebut-sebut aku di depan temanku jika aku sudah menikah denganmu. Aku tidak mau semua orang tahu,"
"Kenapa? Kamu tidak suka jika aku mengatakkan bahwa aku suamimu?" kata Narendra membuat kepala Jihan menoleh karena sedikit tersentak dengan kalimat pria yang berada di sebelahnya.
"Iya, saya tidak suka dengan Anda yang mengaku sebgai suami saya. Jadi, lain kali tidak usah mengingtakanku akan statusku saat ini," ungkap Jihan dnegan melipat kedua tanganya di depan dada. Dia memalingkan wajahnya dari pria yang duduk di sebelahnya.
Drrt. drtt.
Drrt.. drtt.
Di tengah keheningan, ponsel JIhan terus saja bergetar, tetapi dia tidak jua wanita itu segera mengangkatnya.
"Nomor tidak dikenal. Orang iseng," jawab Jihan.
"Blokir saja kalau begitu," saran Narendra.
"Tidak perlu, biarkan saja nanti berhenti sendiri. Mereka akan lelah dan kesal sendiri jika orang yang dituju tidak pernah merespons. Cara seperti itu lebih memuaskan daripada langsung ditolak atau diputuskan langsung," jelas Jihan yang membuat Narendra menganggu-angguk paham.
"Mau kemana? Biar saya antarkan,"
"Turunkan saja saya di sini," jawab Jihan langsung.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Bapak, kan, tahu saya tidak punya tujuan lain saat ini selain pulang ke rumah Anda karena Anda dan istri Andalah yang meminta saya tinggal di rumah itu. Mengapa masih bertanya mau kemana? Jelas jawabannya pulang," ucap Jihan tidak ada nada ramahnya sama sekali dengan sang suami.
"Maksudnya, sebelum pulang mau mampir kemana dulu? Sekalian, gitu. Biar saya antarkan," terang Narendra selengkapnya.
"Saya bukan wanita yang suka mampir-mampir, di luar hanya untuk tujuan yang jelas. Kalau sudah selesai dengan urusan, ya, pulang," jawab Jihan.
Narendra mendesah panjang, "Baiklah, terserah."
Terlintas penjelasan panjang yang ingin pria itu terangkan, seperti, "Barangkali mampir ke toko kosmetik untuk membeli bedak yang habis atau deodoran, sabun mandi atau hal lain sekalian, gitu?" Namun, urung.
Padahal yang pria itu maksudkan adalah mungkin saja Jihan ingin mampir ke suatu tempat untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang wanita pada umumnya. Pembalut kah, keperluan bedak yang sudah habis kah.
Namun, bisa saja wanita itu tetap memberikan penolakan dengan serangkaian kalimat dengan nada bicara yang ketus.
"Kalau begitu, ayo kita turun. Kita mampir ke toko kue dulu. Istriku ingin makan blackforest katanya," kata Narendra.
Tiba-tiba, mobil Narendra bukan menuju ke halaman parkir toko kue yang dia katakan, tetapi berhenti di halaman depan rumah makan padang yang berlokasi di seberang toko bolu dan kue.
"Kenapa ke sini?" Tanya Jihan.
"Kamu ingin makan nassi padang, kan? Sejak tadi perutmu berbunyi, bayi dalam kandunganmu berteriak 'padang-padang!' Benar?" Kelakar Narendra seraya melepas seatbelt-nya.
Kini Jihan memegangi perutnya. Benar, sejak tadi perutnya berbunyi karena kelaparan. Padahal, ia merasa baru saja dirinya makan banyak di tempat makan tadi bersama dengan Bastian.
Bersambung...
__ADS_1