
"Mbak, aku izin untuk menemui temanku lagi, ya?" Ujar Jihan pada Cliantha pada sore hari di keesokan harinya.
Cliantha menggeleng, "Mas Rendra sudah berpesan untuk tidak memberikanmu izin pergi lagi, Han. Jika mbak tidak menurut, maka mbak tidak amanah dengan perintahnya, dong," ucap Cliantha seraya membuka pintu mobilnya.
"Sudah, ayo cepat masuk. Kita pulang sekarang juga," perintah Cliantha selanjutnya.
"Mbak, please. Aku mau bertemu dengan temanku, mumpung dia sedang berada di sini. Dia datang dari luar kota sehingga aku hanya bisa menemuinya mumpung dia di sini," pinta Jihan memohon-mohon.
"Teman siapa? Kamu tidak pernah bercerita teman seperti apa dia, siapa namanya. Kamu gak pernah bilang sama mbak," ucap Cliantha yang ditahan tangannya oleh Jihan.
"Teman spesial, Mbak. Tolong, kali ini aku akan pulang lebih awal, pukul 6. Janji!"
"Jangan suka menebar janji hanya karena kamu sedang terpepet seperti ini. Ya sudah, mbak izinkan. Kali ini saja, besok jangan. Janji?" Kata Cliantha.
"Maaf, mbak. Aku tidak bisa berjanji, hehehe." Jihan memutar balikan ucapan Cliantha dengan kedua jari tangan diangkat membentuk huruf 'V'.
"Terima kasih, ya, Mbak. Dadah," ucap Jihan berikutnya. Lantas, wanita itu pergi begitu saja menghentikan taksi yang kebetulan sedang melintas.
Di rumah.
"Mas, kita makan malam di luar, ya?" pesan singkat Cliantha kirimkan pada Narendra mengajak suaminya dinner di luar malam ini.
Seperti biasa, pria itu tidak akan membantah kemauan istrinya. Dalam hitungan detik, saat Narendra punya waktu luang dia segera membalas pesan singkat dari istrinya, "Ayok! Tunggu sampai Mas pulang dan jemput kamu," jawab Narendra lewat pesan singkatnya.
Pukul tujuh malam. Sesuai rencana, Cliantha sudah siap untuk pergi makan malam bersama suaminya. Narendra, pria itu sedang duduk di ruang makan sembari mengulir ponselnya.
"Mas, aku sudha siap. Ayo, pergi!" Ajak Claintha.
"Sudah, okey. Apa Jihan sudah siap juga? Dimana dia?" Tanya Narendra.
"Jihan tidak ikut," ucap Cliantha lirih.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Dia, dia sedang tidak berada di rumah," jawab istrinya itu.
"Kemana lagi dia? Pergi lagi bersama teman-temannya?" Tanya Narendra, Cliantha mengangguk.
"Biar kutelepon dulu, ya? Harusnya jam segini sudah pulang," ujar Cliantha merogoh tasnya untuk mencari ponsel dan menelepon Jihan.
"Tidak usah, dia tidak mau mendengarku. Terserah saja, tidak usah dipedulikan," ucap Narendra dingin dan wajah yang marah.
Setelah Narendra berbicara seperti itu, ternyata Jihan berada di belakang mereka.
"Tidak usah pedulikan aku, Mbak. Aku tahu kapan aku harus pulang," ucap Jihan mengejutkan mereka berdua.
"Masih bagus kamu ingat pulang," komenar Narendra.
"Lain kali tidak usah pulang sekalian, biar puas membuat orang rumah khawatir," ujar Narendra berikutnya.
"Ayo sayang, jadi kita makan di luar?" Ajak Narendra pada Cliantha.
"Kita mau pergi makan di luar. Kamu mau ikut, Han?" ajak Cliantha pada Jihan. Jihan menggeleng.
"Tidak, Mbak. Mbak saja sama suami," jawab Jihan.
"Kalau tidak mau jangan dipaksa," komentar Narendra pada perbujukan Cliantha.
"Ayolah, ikut!" Genggaman tangan Cliantha memaksa Jihan untuk ikut serta dengan mereka.
Di sebuah restoran western, mereka duduk di meja yang semula sudah direservasi oleh Narendra untuk makan malam spesial dipesan untuk tiga orang.
"Kursinya tiga, apa Pak Rendra sengaja menyiapkan ini untukku?" tanya Jihan di dalam hatinya.
Seorang pelayan sudah siap menulis pesanan menu mereka, "Pesan apa, Mas?" Tanya Cliantha membolak-balikkan buku menu.
"Samakan saja denganmu," jawab Narendra.
__ADS_1
"Baiklah, steak saus kejunya 2, ya, Mbak," ucap Cliantha pada sang waitress.
"Kamu pilih menu apa, Jihan?"
"Aku, korean steak yang tingkat medium rare," jawab Jihan seraya membaca salah satu menu retoran itu.
"Ibu hamil tidak boleh makan daging setengah matang!" Sanggah Narendra yang mendengar menu pilihan Jihan.
"Mbak, semua steak-nya di-grilled tingkat well done," kata Narendra pada pelayan itu.
"Mbak, besok kan butik libur. Aku ada janji mau ngadain kegiatan amal sama temanku ya dari pagi," ucap Jihan berbisik.
"Ketemu siapa lagi, Han?" Tanya Cliantha yang sama-sama berbisik di depat telinga Jihan. Melihat dua orang berbisak-bisik di depna mata membuat Narendra tidak nyaman.
"Di sini ada tiga orang, kenapa bicaranya berbisik-bisik?" sindir Narendra pada kedua istrinya.
"Maaf, Jihan meminta izin padaku katanya besok ada pertemuan dnegan temannya," ujar Clliantha
"Kenapa tidak meminta izin padaku juga?"
"Takut Pak Rendra tidak memberikan saya izin," balas Jihan taku-takut.
"Nggak perlu takut, kalau kamu tidak berniat melakuakn maksiat harusnya tidak perlu takut," kata Narendra.
"Besok aku juga akan ada meeting bersama klien di luar," Narendra menambhakan.
"Kalian sangat sibuk. Hanya aku yang berada di rumah. Baiklah, besok aku akan datang ke rumah orang tuaku. Boleh, kan, Mas?" ujar Cliantha.
"Jauh, sayang. Nanti saja denganku, aku takut orang tuamu berpikir yang tidak-tidak karena kamu berkunujung seorang diri," ucap narendra seraya menyuapkan irisan daging ke mulut Cliantha.
"Ekhem! Huk, huk," Jihan seketika terbatuk-batuk. Dia merasa menjadi obt nyamuk di antara kegiatan romantis suami istri itu.
"Minum, Han. Pelan-pelan makannya," kata Cliantha menyodorkan air minumnya.
__ADS_1
"Tidak papa. Aku ke toilet dulu, Mbak, duluan." Kata Jihan meninggalkan meja makan dengan makanan yang tersisa.
Bersambung....