Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 44. Pisah Rumah


__ADS_3

Tepat di hari yang telah ditentukan, Narendra memenuhi permintaan sang istri. Dua hari ini, dia menjadi seseorang yang sangat sibuk mengurus semua barang yang akan dibawa pindah turut serta ke kediaman barunya bersama Jihan.


Setidaknya berkas-berkas penting dan beberapa lembar pakaian pun ikut diangkut untuk persediaan selama tinggal di rumah baru bersama istrinya yang lain. Di saat itu juga, Cliantha membantu menata barang-barang suami dan madunya mengenai apa saja yang hendak dibawa.


Bagi Cliantha hal itu sudah biasa dia lakukan, seperti mengemas pakaian sang suami saat dia hendak pergi ke luar kota. Bedanya, kali ini barang-barang yang disiapkan dalam koper besar itu bukan untuk perjalanan bisnis belaka, tetapi seperti mengemas kisah hidupnya yang sepertinya akan berakhir entah kapan tiba dan seperti apa jadinya.


"Banyak sekali pakaian yang kau bawakan? Ini seperti kamu mengusirku dari rumah ini, Sayang," ujar Narendra berkelakar saat Cliantha menata beberapa stelan pakaian kasual dan stelan kerja: jas, kemeja, celana, dasi yang biasa pria itu gunakan dalam aktivitas sehari-harinya.


"Mas benar, biasanya aku menata ini hanya untuk keperluan kamu ke luar kota untuk beberapa hari saja. Tapi, hari ini aku melakukan ini untuk mengantarkanmu menempuh perjalanan hidupmu yang baru di rumah istrimu yang lain, yang pasti bukan untuk beberapa hari saja, tapi untuk waktu yang lama. Entah, setelah ini kamu akan ingat pulang atau tidak, Mas," ujar Cliantha yang bersedih.


"Kamu bicara apa? Jangan bilang seperti itu, aku akan tetap berada di dekatmu. Aku akan tetap menjadi suamimu dan ke sini selagi aku mampu kesana-kemari," kata Narendra.


"Ingat, aku pergi bukan berarti kamu bebas melakukan apapun. Tidak ada yang akan berubah, tetaplah menjadi wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya dan menjadi istriku yang patuh, Cia," pesan Narendra seraya memeluk tubuh wanitanya dari belakang.


Sesiap apapun hati yang sudah disiapkan untuk keputusan ini, tetap saja wanita berhati lembut itu tidak bisa menjaga pertahannya, dia tetap kalah dengan emosinya untuk tidak bersedih dan berakhir mengalirkan air mata tanpa henti.

__ADS_1


Semakin rapi wanita itu menata pakaian suaminya ke dalam koper, semakin terasa pula kesedihan di dalam hati untuk melepas kepergian suaminya. Dekat atau jauh, setelah pisah rumah pasti akan ada jarak yang terbentang di tengahnya.


Cliantha menghela napas berat, "Sudah siap," ujar wanita itu setelah selesai mengemas semuanya. Dia melepaskan pelukan suaminya, berputar balik, menampilkan seulas senyum, lalu menangkup wajah pria itu untuk kemudian dikecupnya sekali.


"Antarkan aku sampai depan," pinta Narendra selagi barang-barang diangkut oleh orang-orang suruhannya.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Cliantha selain mengangguk dan mengiyakan permintaan itu.


Bagi Cliantha, tapak demi tapak kaki yang terayun menuju keluar rumah, semakin membawanya mendekat ke jurang pemisah dan menghitung mundur waktu perpisahan mereka benar-benar tiba. Dia hanya menatap ke bawah, dimana tautan tangan yang sedang menggenggam erat itu sebentar lagi akan terlepas dan terurai, dia harus bersiap untuk ikhlas merelakan semuanya terjadi dan siap bila jadinya semakin dijauhkan dari sang kekasih tercinta.


Sebuah villa megah di kawasan daerah dataran tinggi yang Narendra beli untuk tempat tinggal Jihan, telah siap dihuni. Di rumah itu, telah tersedia semua perlengkapan rumah beserta dengan pekerja yang akan membantu mengurus urusan rumah.


Villa yang diubah menjadi rumah, didesain sedemikian rupa supaya nyama untuk dihuni dan dengan tatanan yang menyerupai desain interior rumah yang sebelumnya dihuni bersama Cliantha. Hampir tidak ada perbedaannya dengan rumah lamanya, semua furniture, tata letak, dan ornamen lainnya ditata sama persis seperti di rumah, hanya warna cat dinding yang membedakan.


"Pak Supri, tolong besok semua ruangan ini dicat warna putih seperti yang di rumah," perintah Narendra pada salah seorang tukang kebun yang bekerja di rumah baru itu.

__ADS_1


Jihan yang mendengar langsung paham mengapa Narendra meminta hal itu, "Tidak perlu, Pak Supri. Aku menyukai warna cat abu-abu ini, tapi aku tidak suka furniture dan tata letak ruangan ini yang terkesan sangat kuno. Aku ingin menyusun ulang semua ini dengan suasana yang baru supaya tidak membosankan," kata Jihan yang berdiri di samping Narendra, dia melipat kedua tangannya seolah telah menjadi satu-satunya wanita yang berkuasa di rumah itu dan di kehidupan Narendra.


"Jihan?"


"Iya, ini tempat tinggal kita kan?" Jihan menyaut dengan sedikit pongah.


"Jadi, di sini akulah yang akan mengatur semuanya. Aku tidak mau kamu hidup di bawah bayang-bayang istri pertamamu, Mas," kata Jihan yang dengan penekanan kalimat terakhir, dia telah berani menyebut Narendra dengan sapaan 'Mas' yang penuh penekanan, tujuannya tidak lain supaya Narendra peka jika dia juga istrinya.


"Pak Supri, saya sangat tidak menyukai ornamen klasik dan kuno. Saya ada trauma pada benda-benda bernuansa jadul, tolong pindahkan semua guci kusam yang besar-besar itu, jam dinding mengerikan itu, dan hiasan kipas besar di dinding itu," perintah Jihan menunjuk semua berang-barang yang tidak dia sukai.


"Jihan, tapi itu barang antik," ucap Narendra.


"Lalu kenapa? Aku tidak meminta semua itu untuk dibuang, hanya dipidahkan. 'DI-PIN-DAH-KAN', jadi terserah mau disimpan dimana atau barang kali Mas mau jual supaya bisa dapat uang banyak. Itu bukan urusanku," ujar Jihan tidak peduli dengan barang-barang yang Narendra dapatkan dari pasar lelang barang antik sebelumnya.


Narendra pikir, Jihan dan Cliantha merupakan dua tipe orang berbeda. Dia sangat paham jika semua orang tidak bisa diperlakukan sama. Sampai sini, dia masih menganggap wajar semua tingkah Jihan yang berbanding terbalik dengan Cliantha istri pertamanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2