
Seminggu kemudian, Jihan diperbolehkan pulang. Selama itu juga, tidak absen bagi seorang Narendra untuk tetap berada di sisinya karena hanya pria itulah yang mampu menenangkan Jihan saat wanita itu tidak stabil dengan kontrol emosinya.
Dalam perjalanan pulang, Cliantha yang bertugas membawa mobil, sedangkan di jok belakang duduk berdua sepasang suami istri yang baru mengarungi hubungan pernikahan sejak beberapa minggu yang lalu. Mereka sedang tenang dalam posisi duduknya yang saling berdempetan.
"Ada sesuatu yang ingin dibeli?" Tanya Narendra pada Jihan di tengah perjalanan.
"Tidak ada, Pak," kata wanita muda itu seraya menggelengkan kepalanya yang bersandar pada bahu Narendra.
Cliantha, sebagai istri pertama hanya bisa menatap keduanya dari cermin depan mobilnya, betapa diubek-ubeknya perasaan dia saat melihat Narendra membiarkan jemarinya digenggam oleh Jihan dan dimainkan sesuka hati oleh wanita itu.
"Pak, boleh saya beli buah mangga yang rasanya manis. Rasanya enak sekali jika dibuat jus atau dimakan saat dingin," kata Jihan tiba-tiba padahal Cliantha sudah hampir membelokkan mobilnya di gerbang kawasan tempat tinggal mereka.
"Cia, apa kamu keberatan jika kita putar balik mampir ke supermarket?"
"Cia?" Alis Cliantha mengerut, dia lebih suka saat suaminya memanggil 'sayang' daripada nama kecilnya, terlebih lagi saat dia akan dimintai tolong. Seharusnya, kata 'sayang' adalah hal yang tidak boleh absen dari mulut Narendra saat pria itu membutuhkan bantuan Cliantha.
Namun, tentu saja wanita itu tidak keberatan sama sekali, karena itu perminataan ibu hamil. Anggap saja wanita yang sedang bersama suaminya itu sedang mengidam dan harus keturutan jika tidak mau anaknya ileran kelak.
"Supermarket yang mana? Di sini atau dekat central park?" Tanya Cliantha saat mobilnya sudah dekat dengan supermaket terdekat.
"Di sini saja, Mbak," ucap Jihan membuat keputusan yang terbaik karena Claintha pun sudah siap untuk menepikan mobilnya.
Baru sepuluh menit mereka berjalan menyusuri kios-kios buah di dalam super market itu, kaki Jihan sudah kesemutan dan mengatakan jika perutnya menegang.
"Kamu tidak kuat berjalan terlalu lama," kata Narendra melihat kaki Jihan yang membiru tanpa tahu apa penyebabnya.
Lantas, semua mata menatap pada Cliantha yang sama-sama sedang menatap mereka bergantian. Seolah mata dua orang itu mengatakan jika mereka menaruh harapan supaya Cliantha mau mencarikan buah mangga yang Jihan maksud.
"Baiklah, biar aku yang carikan. Mangga jenis apa saja, kan, Han?" tanya wanita berhati baik itu.
__ADS_1
Jihan mengangguk, "Kalau bisa yang jenis lalijiwo, Mbak," susulnya dia me-request jenis mangga yang dia mau.
"Ya, ku usahakan," saut Cliatha yang sudah berjalan beberap alangkah meninggalkan mereka di tengah pasar swalayan itu.
Saat memilih buah dan mencari jenis yang Jihan mau, terasa ada yang menyapa dirinya dari kejauhan. Namun, berulang kali lehernya menoleh ke kanan dan belakang, tidak ada satu mata pun yang tertuju padanya.
"Hanya perasaanku saja," cicitnya pada diri sendiri.
"Cia, kamu Cia, kan? Bunda panggil kok diam saja?" Tanpa di duga, dari sebelah kiri datang seorang wanita yang menepuk bahunya.
Cliantha termangu sejenak, dia mencoba memastikan bahwa yang di depannya memanglah sang bunda dari suaminya, "Bunda Bilah? Bunda apa kabar? Maaf, Bun, Cia tidak mendengar jelas saat Bunda panggil," kata wanita itu sopan mencium tangan dan memeluk ibunda dari suaminya.
"Kapan bunda kembali?" Tanya si menantu yang tahu jika sang mertua telah lama berada di USA karena urusan pekerjaan.
"Kemarin, ini niatnya mau ke rumah kalian. Mau ketemu kamu dan Narendra," kata Nabilah–wanita paruh baya berusia, ibu kandung dari Narendra.
Wanita itu celingukan seperti mencari sesuatu, "Kamu di sini sendirian? Dimana dia, Nak?"
"Iya, anak itu. Siapa lagi orangnya?" Nabila menjawab.
Cliantha bungkam, dia tidak ingin ibu mertuanya tahu jika saat ini Narendra berada di sini, tetapi dengan istrinya yang lain juga.
"Mas Rendra ada pekerjaan. Cia sendiri, Bun. Ingin jalan-jalan saja," jawab sang menantu sekaligus pernah menjadi keponakannya.
"Keterlaluan anak bunda itu, nanti biar kupukul dia membiarkan istrinya belanja seorang diri dalam swalayan," komentar Nabilah seraya membawa buah mangga berukuran besar ke udara seolah akan melemparkan buah itu ke wajah putranya di depan mata.
Cliantha menunduk saja atas tindakan Nabilah yang berusaha kocak itu, seakan tahu ada sesuatu yang disembunyikan dari sang menantu. Nabilah pun curiga, "Kalian tidak sedang bertengkar, kan?" Tanya Nabilah menyelidik dan berusaha bertatapan dengan wanita pemilik mata indah itu.
"Tidak, Bunda. Bunda tinggal dimana? Biar Cia bisa berkunjung,"
__ADS_1
"Dekat, kok, di sekitar sini. Apa lagi yang mau dibeli? Hanya mangga? Dan sebanyak itu?" Nabilah yang heran melihat banyak buah mangga yang masuk ke dalam troli belanja Claintha, satu jenis mangga yang sama dalam jumlah yang banyak.
"Oh iya, Bunda baru ingat kalau kamu sedang mengandung, ya?"
Cliantha tersentak, "Bunda tahu dari mana?"
"Bundamu yang bilang. Betapa bahagianya dia saat memberitahukan kabar ini padaku, begitu pun aku, Sayang. Ciaku yang dulu kecil dan cerewet sudah akan menjadi ibu. Selamat, ya," Nabilah mengusap-usah kepala Cliantha dan mengingat masa-masa kecil keponakannya itu yang rumil dan banyak tingkah sewaktu kecil.
"Bunda tidak menyangka, Nak, jika kamu akan menjadi ibu dari cucuku. Tabarakallah," Nabilah mengecup sisi kiri kepala Cliantha.
"Yuk, Bunda antar pulang, sekalian mau mampir." Ajak Nabilah.
"Eh, Bun. Apa namanya, hem. Tidak usah, jangan," gugup Cliantha mencari alasan. Jelas, keadaan rumah belum siap menyambut sang bunda jika Narendra, Jihan, dan pekerja belum di-briefing apa yang harus mereka lakukan saat kedatangan sanak keluarga.
"Hei, maksudmu, apa Bunda tidak boleh berkunjung ke rumah kalian?" Tanya Nabilah.
"Bukan! Tidak, Bunda. Bukan seperti itu, hanya saja. Hem... Selepas ini, Cia akan pergi ke tempat bekerja, sedangkan Mas Rendra sedang di luar. Di rumah sepi, Bunda sendirian. Bagaimana jika Bunda datang sore hari nanti saja? Nanti Cia jemput, ya? Bunda bisa menginap jika Bunda mau, please...." Pinta Claintha, dia yang memberikan alasan panjang lebar membuat Nabilah mengartikan lain dari alasan yang menantunya berikan.
Takut jika sang mertua tidak percaya dengan alasannya yang panjang dan lebar itu, Cliantha hanya bisa memohon supaya sebisa mungkin Nabilah tidak berkunjung ke rumahnya saat itu juga.
"Bun, Please...." Pinta Claintha memujuk.
"Okey, kabari Bunda, ya, kalau kalian sudah di rumah. Jangan kelamaan ngabarinnya, nanti keburu Bunda terbang lagi ke USA," kelakar Nabilah yang tidak pernah kehabisan bahan candaannya.
"Terima kasih, Bun. Malam nanti biar Cia buatkan menu makan malam yang spesial untuk Bunda, I Love You, Bun!" ucap wanita itu mengecup pipi sang mertua sekaligus tantenya.
Kepergiaan Cliantha, Nabilah memandangi punggung anak itu dan menemukan satu kecurigaan besar atas sikapnya barusan.
"Sepertinya sedang ada yang dia tutupi dariku, tapi apa? Semoga anak dan menantuku dalam keadaan baik-baik saja," suara hati Nabilah melihat Cliantha yang berlalu meninggalkannya.
__ADS_1
Bersambung....