Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 20. Bukan Siapa


__ADS_3

"Coba kamu rasakan eksrim magnolava-ku. Ini sangat lezat, cobalah," Bastian menyodorkan seujung sendok eksrim berwarna pink rasa strawberry dengan lumeran selai strawberry yang terlihat mirip seperti lava ekslusif keluar dari perut bumi.


Jihan mau, dia membuka mulutnya dan merasakan dinginnya susu beku bertekstur lembut yang berperisa strawberry dengan rasa manis yang pas di lidahnya.


"Bagaimana? Enak?" Tanya Bastian meminta pendapatnya.


Jihan mengangguk-angguk, "Lezat, nikmat. Manisnya pas," komentar Jihan pada rasa eksrim pesanan Bastian.


Orang lain yang tidak tahu jika mereka adalah sahabat sejak masa SMP, mungkin akan mengira jika antara Jihan dan Bastian adalah sepasang kekasih yang romantis yang tidak ragu untuk saling suap-suapan makan dari sendok yang sama. Begitu pun dengan pria yang sejak tadi tampak geram melihat interasksi dua muda-mudi yang saling bergantian menikmati eskrim dari mangkuk dan sendok yang sama.


"Jihan, kenapa kamu tiba-tiba berlari? Ada apa?" Tanya Bastian saat mereka tengah berkumpul di kafe untuk menikmati minuman yang dapat mendinginkan tenggorokan di siang hari yang terik itu.


"Aku hanya sedang menghindari seseorang, Bas," jawab Jihan santai.


"Kamu punya musuh?" Tanya Bastian.


"Bukan, tetapi ya, anggap saja seperti itu. Intinya kami tidak bersahabat sehingga aku memilih kabur daripada jadi panjang urusannya," jelas Jihan.


Masih di kafe yang sama, sepintas kafe itu terlihat kosong di mata Jihan. Dia pikir, pria itu telah pergi dari tempat itu sehingga ajakan Bastian untuk menikmati segelas iced tea tidaklah terbantahkan.

__ADS_1


"Ekhem!" Suara deheman terdengar di belakang tubuh Jihan.


Mata wanita itu berjaga-jaga. Dia takut jika suara deheman itu adalah seseorang yang dia waspadai selama ini.


"Jihan? Bisa kita bicara?" Suara pria di belakang tubuhnya membuat bulu kuuduk Jian merinding seketika.


Jihan bangkit dan menoleh ke belakang, "Bapak? Apa yang sedang bapak lakukan di sini?" tanya Jihan ragu-ragu.


"Ikut denganku!" perintah Narendra tanpa memberikan kesempatan pada Jihan untuk menolaknya karena kini, Narendra meraih pergelangan tangan Jihan dan memaksa wanita itu untuk ikut dengannya.


Di dalam kamar mandi pria, Narendra membawa masuk Jihan dan menyudutkan tubuh wanita itu sampai terasa sulit untuk Jihan mengambil napas.


"Bapak, apa yang akan Anda lakukan?" Tanya Jihan kala Narendra membawa masuk Jihan ke dalam bilik kamar mandi pria kafe itu dan mengunci pergerakan wanita itu sampai tidak bisa kemana-mana selain menatap dada bidang Narendra.


"Seperti inikah kamu jika berada di luar dan itu kah yang kamu maksud dengan teman-teman yang sering kamu temui siang, petang, dan malam?" Tanya Narendra mengintimidasi.


"Kamu bahkan menjadi satu-satunya wanita di antara sekumpulan pria. Benar, mereka yang kamu sebut sebagai teman?" ucap Narendra setelahnya.


"Iya, memangnya kenapa?" jawab Jihan dnegan nada menantang. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan pria itu.

__ADS_1


Narendra semakin mengikis jarak yang ada, "Ingatkan kamu jika statusmu bukan lagi gadis lajang yang bisa berteman dengan lelaki mana saja sesuka hati? Terlebih lagi kondisi kamu yang tengah mengandung," ujar Narendra mengingatkan Jihan akan statusnya.


Jihan yang sudah terhimpit pada dinding hanya bisa menatap dada Narendra seraya mengernyit, "Sepertinya ada yang salah dari pemikiran Bapak. Mengapa sekrang bapak banyak emnagaturku? Memangnya, pernah kah Bapak menganggap saya sebagai istri bapak? Tidak pernah, Anda hanya menganggap saya sebagai wanita yang dimintakan tolong untuk melahirkan seorang anak untuk Anda dan istri Anda. Secara teknis, Anda tidak berhak melarang saya untuk dekat dengan siapa pun, Pak, karena pada dasarnya saya bukanlah siapa-sipa adi kehidupan Anda," jawab Jihan dengan berani.


Narendra tersentak kaget dengan jawaban yang wanita muda itu berikan, "Kenapa kamu lari saat melihatku? Apa aku seperti hantu yang menyeramkan bagimu?" Tanya Narendra mengubah topik lagi.


"Kenapa bapak mengejarku dan membuatku semakin ingin takut bila di dekatmu?" Tanya Jihan berbalik.


"Bapak tenang saja, setelah saya melahirkan anak ini. Kemudian saya kan pergi sejuah mungkin dari kehidupan Anda dan istri Anda tercinta. Saya tinggal hanya karena bapak yang meminta dan saya masih puny atanggungan pada istri Bapak," jelas Jihan.


"Tanggungan apa yang kamu maksud?" Tanya Narendra.


"Bukan urusan Anda, Pak Rendra. Saya permisi," ucap Jihan sebelum akhirnya wnaita itu mendorong pelan dada Narendra sampai pria itu bisa memberikan ruang untuk Jihan dapat bergerak.


"Mengapa mereka merahasiakan sesuatu dariku? Apa yang mereka lakukan di belakangku?" Tanya Narendra di dalam hatinya.


Saat Jihan telah berhasil lolos dari desakan dan himpitan tubuh Narendra, tetapi ada penyesalan di dalam dadanya entah apa itu. Jihan kembali menoleh ke belakang, menatap Narendra tepat pada dadanya. Jujur saja Jihan menyesal, mengapa tadi dia tidak memeluk tubuh itu seperti keingingan hatinya yang baru saja muncul saat itu.


"Mengapa aku merasa sangat menginginkan mendekap dia dan menempelkan kepalaku di dadanya? Mungkinkah aku tengah mengidam epeeti yang orang-orang bilang tentang rumor keinginan ibu hamil yang harus terpenuhi?" tanya Jihan di dalam hati.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2