
Setelah jasad mendiang mertuanya selesai dimakamkan, keadaan rumah itu menjadi sepi dan sunyi. Para tamu yang melayat, satu per satu berpamit untuk kembali ke kediaman masing-masing. Tersisa beberapa orang yang masih berada di dalam rumah itu yang tidak Narendra kenal siapa saja orang-orang yang berseliweran itu, hanya terkadang saling tatap tanpa disengaja dan menampilkan raut wajah suram serta tidak ada sorot pandang yang ramah sama sekali dari mereka. Namun, Narendra maklum karena keadaannya memang masih berkabung.
Lantas, Jihan membawa Narendra masuk ke dalam sebuah ruangan. Mereka duduk di atas ranjang besi berkasur busa tipis di dalam sepetak ruangan yang berukuran sangat kecil, kumuh, dan lembab. Pria itu kebingungan dengan ruangan yang Jihan sebut sebagai kamar pribadinya yang tidak lebih seperti rumah bagi para tikus dan kecoa.
Namun, pria itu santun. Dia tidak bertanya atau terlihat risih selama duduk di atas ranjang itu dengan kaki yang menggantung, hanya sesekali terjingkat saat beberapa ekor tikus menggelitik di kaki seakan ingin naik ke tubuh pria itu.
"Maaf, kamarku memang seperti ini," ujar Jihan sesal saat melihat berulang kali suaminya terjingkat karena terkejut dan berusaha menggusir tikus dan kecoa yang merambat di kakinya.
"Ya, tidak masalah," ujar Narendra mencoba santai meskipun seringnya ia bergidik geli gemetar di sekujur tubuhnya saat melihat kecoa yang tiba-tiba muncul dan terbang dari dalam kolong ranjang atau tikus yang keluar masuk melalui celah pintu kamar itu.
"Apa besok kita bisa pulang?" tanya pria itu pada akhirnya. Tercetus satu pikiran di kepala Narendra untuk segera pulang supaya tidak berlama-lama berada di keadaan itu.
"Besok kita pulang, ya?" tanya Narendra sekali lagi, setelah sebelumnya sudah berkali-kali ia bertanya mengenai hal yang sama.
Namun, jawaban Jihan tetap menggeleng, "Mas pasti tidak nyaman berada di sini. Jadi, pulanglah saja dulu, aku masih mau dan ada perlu di sini," kata Jihan berulang kali mesti Narendra terus-terusan mengatakan tidak akan meninggalkannya seorang diri.
Karena seperti ada keanehan yang Narendra rasakan sejak prosesi sebelum pemakaman terjadi, di mana ia selalu melihat Jihan dengan tatapan gusar dan waspada kala ia berkontak mata dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Timbulah rasa khawatir dalam benaknya.
"Aku mohon, Mas pulanglah sekarang juga."
"Apa kamu tidak membiarkanku untuk menginap barang semalam di sini? Tidak masalah kalau kita pulang besok atau lusa, asalkan bersama-sama," ucap Narendra yang mendapat gelengan kepala dari Jihan.
"Aku belum bisa pulang, masih ingin di sini. Pulanglah, Mbak Cia pasti sedang khawatir," kata Jihan yang membujuk dengan membawa nama Cliantha sebagai pusat kelemahan Narendra.
"Justru itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan kamu, sedangkan aku kembali seorang diri? Apa kata Cliantha nanti?" bantah Narendra, meski dia tahu rasa hati Jihan yang masih berduka dan inginnya berada di rumah yang dulu ditempati bersama dengan sang ayah.
"Mas kan harus bekerja, nanti aku akan pulang setelah 3 hari atau seminggu kemudian," putus Jihan memberikan kepastian.
__ADS_1
"Janji, maksimal sampai seminggu tinggal. Kalau tidak, maka mau tidak mau kamu harus pulang bersamaku," tercetus sebuah kesepakatan sebagai jalan tengahnya.
Malam ini, Jihan membiarkan suaminya menginap, berbagi ranjang miliknya yang secuil itu. Decit kaki-kaki ranjang jadul yang masih terbuat dari besi mengundang berisik saat tubuh besar pria itu mencoba bergerak mengambil posisi tidur yang enak karena posisinya yang sekarang–menyamping–tidak nyaman sama sekali untuknya. Namun, Jihan bungkam meski di belakang terdengar suara kasak-kusuk dan berisik sekali, tetapi malam ini dia tidak mau melakukan agresi apapun.
"Aku pulang, ya? Dimana ibumu?" Tanya Narendra di pagi hari saat dia akan bersiap untuk pulang.
"Ibu dan saudara-saudaraku masih tertidur dan sepertinya mereka tidak mau diganggu dulu, Mas," jawab Jihan.
Aneh, tetapi tidak diambil pusing oleh Narendra. Kini tatapannya tertuju pada perut Jihan, "Selama jauh dariku, tolong jaga dirimu dan janin di kandunganmu. Hubungi aku sebelum terjadi sesuatu yang mendesak karena membutuhkan waktu untuk sampai di sini," pesan Narendra.
Dirasa tidak bisa membuat hati pria itu yakin, lantas, niat Narenda untuk pergi menjadi urung, "Ayo, ikutlah saja bersamaku. Kita pulang sekarang," ajaknya menarik tangan Jihan.
"Tidak, bukan sekarang. Mas, nanti kamu tidak perlu jemput, biar aku kembali dengan saudaraku saat aku sudah merasa pulih," kata Jihan sebelum mereka berpisah. Tidak bisa memaksa karena selalu penolakan yang Jihan berikan. Akhirnya, ia tetap melanjutkan perjalanan kembali pulang seorang diri.
Di tengah perjalanan, kemudian pikiran pria itu berkelana membayangkan hal-hal buruk yang mungkin bisa JIhan lakukan selama dia tidak ada pengawasan.
"Ibu, Jihan minta maaf," kata wanita muda itu di depan seluruh anggota keluarganya.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Jihan.
"Anak kurang ajar!"
"Untuk apa kamu mengucapkan maaf sekarang? Apa itu bisa mengembalikan semua? Bisa membuat ayahmu hidup kembali?"
"Aku sungguh membencimu, anak sundal!!"
Di halaman depan rumah Jihan, terdengar suara seperti benda besar yang jatuh atau seperti suara seseorang yang memukul suatu benda secara keras sampai suara itu terdengar dari luar rumah.
__ADS_1
Narendra bergegas mencari sumber suara yang berasal dari dalam rumah Jihan.
"Jihan minta maaf, Bu, Jihan memang belum punya uang,"
Plak! Plak! Plak! Berulang kali Jihan mendapatkan tamparan bertubi-tubi dari wanita yang sekarang berdiri di hadapannya.
"Alasan! Kamu sudah membunuh ayahmu sendiri, Jihan!" Bugh!
"Anak tidak tahu diri! Tidak tahu diuntung!" beberapa umpatan disertai tonyoran di kepala wanita muda itu sangat kencang sampai beberapa kali kepala wanita itu terdorong ke belakang dan membuatnya jatuh terduduk di lantai tanpa ada sedikit pun perlawanan.
"Mana rasa terima kasihmu pada suamiku yang sudah merawatmu sejak bayi sampai sedewasa ini?"
"Masih baik kamu dirawat oleh keluarga ini, tapi apa balasanmu?"
"Mana uang yang kau janjikan akan dikirimkan setiap bulan untuk biaya pengobatan ayahmu? Lihatlah, dia akhirnya mati. Sekarang apalagi pembelaanmu? Kurang ajar kamu, Jihan! Tidak tahu terima kasih!"
Bugh, bugh, bugh! Beberapa pukulan mendarat di tubuh Jihan tanpa ampun. Pelakunya bukan hanya satu, tetapi beberapa orang dewasa. Dua wanita yang turut menyiksa dan seorang pria yang menyaksikan saja. Dengan Jihan, si korban wanita yang sudah meringkuk di lantai dengan hidung yang berdarah-darah.
"Pembunuh! Pembohong besar! Anak tidak tahu diuntung sepertimu pantas mendapatkan semua ini!" Beberapa kali tulang kering wanita muda itu ditendang oleh beberapa wanita yang berusia lebih tua darinya. Jihan hanya menangis, merintih kesakitan, dan berucap ampun berkali-kali tanpa melakukan perlawanan, hanya sekadar mencoba menghindar dan melindungi diri sebisanya.
Dan... Byur! Tiba-tiba seember air dingin tersiram padanya, tetapi tidak seluruhnya mengguyur tubuh JIhan, melainkan kini Narendra sudah melindungi tubuh wanita yang terseok-seok di lantai dan membawanya ke dalam kungkungan tubuh besar Narendra.
Semua kericuhan menjadi hening seketika kala sosok Narendra tiba-tiba muncul dan melindungi Jihan.
Narendra bangkit membawa serta tubuh riskan Jihan dalam gendongannya, "Apa kesalahan istriku sehingga kalian tega menyiksanya seperti itu?" tanya dia pada beberapa orang pria dan wanita dewasa yang berada di tempat itu.
Bersambung....
__ADS_1