
Dengan langkah perlahan, Cliantha dan para pekerjanya berjalan menyusuri pematang perkebunan di belakang rumah. Membelah luasnya halaman belakang yang dialih fungsikan sebagai perkebunan buah dan sayur milik Narendra. Namun, hampir di ujung perkebunan, sosok Jihan juga belum ditemukan hanya terlihat jalan setapak yang sepi dan jarang dijamah oleh orang-orang rumah.
Di atas bebatuan samping sungai, terlihat seorang wanita dengan penampilan kacau dan rambut yang berantakan sedang duduk menunduk di tepian sungai seorang diri. Satu tangan Cliantha dia gunakan untuk memberikan kode pada para pekerjanya untuk tidak perlu melangkah lebih jauh.
"Pak Budi, tetap berjaga di belakangku beberapa meter. Hanya kita berdua. Selebihnya, tetap di sini. Siapa pun, tolong hubungi Mas Rendra segera," Cliantha memberikan komando.
Dengan langkah waspada, Cliantha memanggil nama wanita itu.
"Jihan?" Panggilnya lembut pada sang madu.
Cliantha tetap berjalan mendekat dan sekali lagi memanggil pemilik nama itu, meski dengan jantung yang berdegup tidak beraturan.
Jihan menoleh. Dengan keadaan yang kacau, dia menatap Cliantha dengan tatapan mata sinis. Kemudian, menggema suara tawa renyahnya, "Hahaha, mbak? Sedang apa di sini?" Tanya dia pada Cliantha.
"Jihan, ayo kita kembali. Ayolah, ini akan turun hujan. Lihatlah, langitnya mendung," ujar Cliantha mengulurkan tangannya supaya Jihan mau menggapai tangan itu dan mau kembali ke rumah.
Jihan memandangi tangan yang terulur itu, tetapi kemudian tatapannya beralih pada sungai besar yang berada di bawahnya dengan arus yang tenang, tapi menghayutkan.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu, Han," ucap Cliantha mewanti-wanti.
__ADS_1
"Ayo, pulanglah bersamaku," ajak Cliantha tidak menyerah dan kembali melangkah mendekat padanya.
"Jangan mendekat, Mbak!" Pekik Jihan yang seketika menodongkan pisau ke arah Cliantha. Dia terlihat panik dan berusaha menjauh dari jangkauan Cliantha.
"Jihan!" Terlepas suara memekik dari mulut Cliantha karena dia terlalu takut jika Jihan tergelincir dari bebatuan itu dan berisiko dia dapat terjatuh ke bawah sana.
"Okey, tenang. Aku gak akan mendekat, tapi ayolah, kita pulang bersama-sama," bujuk Cliantha dengan sangat sabar dan tanpa ada pegerakan untuk melangkah maju.
Lagi-lagi Jihan memandang arus sungai yang berada di bawahnya, dengan gerakan perlahan seakan ingin terjun ke bawah sana. Cliantha berusaha mengajaknya berbicara supaya fokusnya teralihkan, "Jihan, ada banyak hal yang bisa kamu lakukan di dunia ini. Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri semua, itu putus asa namanya," kata Cliantha.
"Hahahaha, apa yang bisa aku lakukan jika semesta pun tidak menginginkan aku?" Jihan menjawab dengan diiringi tawa sumbangnya.
"Hahaha, siapa, Mbak? Haha, kalian munafik! Aku tahu jika kalian hanya mengingkan anak ini, kan? Padahal yang sebenarnya, tidak mengingkan aku ada di antara kalian. Huks huks huks, aku bukan kamu yang disayang semua orang," ucap Jihan dengan tawa dan tangisnya secara bersamaan.
"Tidak, Jihan. Aku menyayangimu, kita semua menyanyangimu. Ayo, kemarilah. Kita pulang, Mas Rendra nanti mencarimu," bujuk Cliantha tidak ada habisnya.
"Dia tidak akan mencariku karena dia tidak mencintaiku. Tidak ada yang mencintaiku, tidak ada yang sayang padaku, tidak ada yang menginginkan aku ada. Semua datang jika ada perlunya saja, tidak kamu, suamimu, dan bahkan keluargaku. Aku sudah lelah menjalani hidup ini yang tidak pernah adil padaku," ujarnya seraya memandangi arus sungai yang tenang dan dalam.
"Andai aku mati, maka semua ini pasti akan berakhir," ucap wanita itu yang sudah bersiap melompat.
__ADS_1
"Tidak, Jihan. Jangan!" Pekik Cliantha yang menarik mundur pakaian Jihan dan membuat wanita itu terjengkal ke belakang.
"Jihan, Jihan. Jihan, kamu tidak papa? Kamu baik-baik saja?" cemas Cliantha pada keadaan Jihan dan calon bayinya, lantas pisau di tangan Jihan seketika ia rampas untuk diamankan.
"Ah, perutku sakit sekali!" Pekik Jihan meremas perutnya dan menggeliat tidak tenang, dari sela-sela kainya menggucur darah segar yang membasahi tanah yang basah itu karena kini hujan deras turun menerpa.
Dalam posisi berdiri dan menggenggam pisau di tangan kanannya, Cliantha kebingungan harus melakukan apa untuk menolong wanita yang kesakitan di depan matanya.
Namun, wanita yang hampir sekarat itu tidak mau saat tangan Cliantha mencoba membantunya, "Jihan! Jihan, bertahanlah. Pak Budi panggilkan ambulans! Pak Budi, tolong panggilkan ambulans!" teriak Cliantha pada Pak Budi yang berada beberapa meter di belakangnya dan tengah bersembunyi di balik semak-semak.
"Siapa pun, cepatlah ke sini! Bantu aku selamatkan Jihan! Bik Siti, Bik Ijah, Pak Dul, tolong!" Teriak Cliantha meminta bantuan kepada pada pembantunya.
Di saat ketegangan berada di puncaknya, Cliantha yang kebingungan dan tidak ada seorang pun yang datang membantunya, dia hanya berusaha menolong meski Jihan terus memberontak dan berteriak untuk dilepaskan dan mengatakan tidak perlu bantuan darinya.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku, kamu mau membunuh anakku! Kamu ingin mencelakai aku!" teriak Jihan meronta-ronta saat Cliantha berusaha membatunya.
"Tidak, Jihan. Aku tidak sengaja," bantah Cliantha meski kini lengannya berdarah-darah karena cakaran kuku-kuku Jihan yang meronta dan melawan.
"CLIANTHA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Bentak keras suara dari belakang tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung....