Madu Kontrak Suamiku

Madu Kontrak Suamiku
Part 39. Hilang


__ADS_3

Bagi Cliantha dan Narendra, satu permasalahan besar telah berhasil mereka selesaikan. Ketakutan akan dipisahkan jika orang tua Cliantha mengetahui kebenaran bahwa telah terjadi perpoligamian dalam rumah tangga anak sulung mereka, ternyata tidak berdampak apa-apa pada hubungan keduanya.


Sebaliknya, keduanya merasakan hidup yang lebih baik dan tenang tanpa beban berat karena sesuatu yang berusaha mereka sembunyikan rapat-rapat dari keluarga besar akhirnya tidak lagi menjadi penghalang. Dan hal baiknya, pihak orang tua tidak memperbesarkan perkara sehingga ketakutan akan kehancuran kehidupan rumah tangga sudah tidak lagi mengancam mereka.


Hari ini, seperti biasa, sepagi itu Cliantha sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Menyambut hari baru dengan ketenangan jiwa yang dia dapatkan.


"Dimana, Jihan?" Tanya Narendra di sela kegiatan sarapan.


Bahkan, sekarang suaminya pun sudah tidak bersikap kekeras dulu terhadap Jihan.


"Masih di kamar, tadi bilang masih mager buat bangun," jawab Cliantha.


Tidak berkata banyak hanya menganggukan kepalanya, "Mas berangkat dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik, nanti kalau di butik jangan terlalu lelah." pesan Narendra seraya mengecup kepala istrinya saat mereka berjalan menuju ke depan rumah; rutinitas Cliantha yang mengantarkan sang suami sebelum berangkat bekerja.


"Okey! Hati-hati ya, Mas."


"Ajak Jihan juga supaya dia tidak suntuk di rumah dan tolong bantu dia menjaga calon bayinya juga, ya. Hubungi saja aku jika terjadi apa-apa," kata Narendra.


"Iya, pastinya," jawab Cliantha, lalu dia mencium tangan suaminya seperti biasa.


Sebelum ia benar-benar pergi, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Narendra. Tersirat pertanyaan karena ada sesuatu yang menyusup ke dalam hatinya, denyutan yang tidak enak dirasakan dalam sekejap.


Pria itu menyentuh dadanya. Bertanya-tanya, denyutan apa yang sempat terjadi di dalam rongga dadanya.


"Kenapa?" Tanya Cliantha, satu-satunya orang ada di dekatnya saat pria itu celingukan mencari sesuatu di balik tubuh istrinya.


"Apa yang Mas cari?" Tanya Cliantha sekali lagi.


"Apa benar dia belum bangun?" Narendra menanyakan satu pertanyaan yang sebelumnya sudah ia tanyakan.


"Belum, tadi katanya masih mager. Ya sudah aku biarkan saja dulu. Mas mau ketemu dia sebelum berangkat ke kantor? Baiklah, aku panggilkan sebentar," jawab Cliantha memutuskan. Baru saja kedua kaki wanita itu berputar haluan, tetapi tangan Narendra berhasil menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Jangan, tidak usah. Sudah siang, kabarkan saja kalau ada apa-apa," ujar pria itu. Yang dirasakan Narendra hanyalah rasa cemas saat teringat dengan wanita itu secara yang dia tahu emosi Jihan akhir-akhir ini tidak bisa ditebak dan tidaklah sama seperti orang yang tanpa gangguan mental.


"Iya, tenang saja. Sudahlah, berangkat sana nanti Mas kesiangan," ucap Cliantha mendorong pelan tubuh suaminya.


Lambaian tangan Cliantha mengantarkan kepergian Narendra sampai mobil itu hilang dari pandangan sejauh mata wanita itu memandang.


"Bi, apa Jihan sudah keluar dari kamar?" Tanya Cliantha pada asisten rumah tangganya.


"Saya lihat tadi Nona di dapur. Saat ditawari makan, Nona Jihan tidak mau. Sepertinya Nona kembali ke kamarnya lagi, Bu," jawab wanita muda, pembantu rumah tangga.


"Bik Siti, tolong panggilkan Jihan. Kalau tidak, coba pastikan saja dia masih tidur atau tidak di kamarnya. Kalau bangun, ajak turun untuk makan," perintah Cliantha kepada ART-nya.


"Baik, Bu."


Bik Siti langsung menjalankan tugasnya, tetapi tidak berapa lama kemudian Bik Siti turun dengan tergesa-gersa dan menghampiri Cliantha yang sedang duduk di ruang makan.


Cliantha melihat gelagat aneh dari pembantunya, lantas pertanyaan 'ada apa?' pun keluar dari mulutnya.


"Bu, Nona Jihan tidak ada di kamarnya, tidak ada di kamar mandi, balkon kamarnya pun tidak ada. Di kamar itu kosong," ujar Bik Siti dengan suara tercekat-cekat karena beradu dengan napas yang tersengal-sengal.


"Sungguh? Kemana Jihan?"


Tidak menunggu jawaban, ia segera berlari menaiki anak tangga dengan cepat untuk mencari keberadaan Jihan. Sekali lagi, Cliantha mengedar ke segala penjuru kamar itu. Tidak ada apapun yang mencurigakan, selain ditemukannya satu bingkai foto yang telah tercerai berai dan potongan kecil-kecil dari sebuah foto pernikahannya yang telah tercecer di lantai serta gunting yang berada di dekatnya.


Cliantha sudah tidak bisa tenang dan pikiran tidak lagi bisa berpikir jernih dan dingin, dia dibuat cemas dengan apa yang dilihatnya.


"Jihan!"


"Jihan! Kamu di mana, Jihan?"


"Tolong semuanya, bantu aku cari Jihan sekarang juga! Cari ke segala sisi rumah ini!" perintahnya,

__ADS_1


"Pak Dul, tolong cari ke sekeliling jalan kompleks ini. Jihan pasti masih berada di sekitar sini," Cliantha mengerahkan segala orang-orang yang bekerja di rumahnya untuk membantunya mencari keberadaan Jihan.


"Jihan!"


"Jihan!" Setiap kemana kaki melangkah, hanya satu nama itu yang terus terlontar dari mulut Cliantha.


Di saat sedang cemas mencari keberadaan Jihan yang hilang entah kemana, Bik Siti tiba-tiba memanggil Cliantha dengan berlari terbirit-birit dan tangis yang terisak-isak.


"Bu, ya Allah, Bu. Di dapur, Bu!" Ucap Bik Siti dengan tangisnya yang tersedu-sedu.


"Di dapur," ucap Bik Siti yang tidak jelas dan hanya menunjuk-nunjuk ke arah dapur.


"Di dapur kenapa? Bicara yang jelas, Bik!"


"Pisau. Pisau besar tidak ada, Bu. Saya takut jika ini ada hubungannya dengan Nona Jihan karena tadi dia bertanya pada saya dimana tempat penyimpanan pisau," ungkap Bik Siti membuat Cliantha semakin dirundung kepanikan tiada tara. Darah seakan sudah berkumpul di atas kepala, tubuhnya memanas, dan semua otot di tubuhnya menegang.


"Jihan kambuh lagi," satu yang terpikirkan saat itu juga oleh Cliantha.


"Kenapa baru bilang, Bik? Sekarang cepat bantu aku cari Jihan," perintah Cliantha yang tidak pupus harapan untuk terus mencari keberadaan wanita itu.


"Bu!" Suara seseorang kembali mengejutkan Cliantha.


"Bu, saya melihat Nona Jihan di sana!" Tunjuk seorang pria tua ke suatu tempat.


"Dimana? Dimana Pak Budi melihat Jihan? Cepat beri tahu saya!"


"Nona ada di kebun belakang. Bu. Tapi, saya takut untuk mendekat padanya karena Nona membawa pisau besar yang runcing di tangan kanannya, Bu," lapor seorang tukang kebun itu.


"Di mana sekarang Jihan, Pak Budi? Tolong antarkan saya ke sana," tanya Claintah tidak sabar.


"Jangan, Bu. Biar menunggu Bapak datang saja. Nona Jihan sedang histeris, saya takut jika Nona gelap mata," pria berusia enam puluhan itu menolak permintaan Cliantha.

__ADS_1


"Tidak, Pak Budi. Saya yakin, Jihan tidak akan menyakitiku," ucap Cliantha yang merasa yakin, tetapi tidak bagi seluruh pekerjanya yang sudah tahu seperti apa setiap kali jika Jihan sedang marah atau histeris.


Bersambung...


__ADS_2