
Di kantin rumah sakit yang sepi di kala menjelang siang itu, Narendra duduk berhadapan dengan Cliantha. Es kopi susu yang dipesan pria itu terlihat segar saat mengalir di tenggorokan berharap dapat menyegarkan pikirannya juga yang sudah menggelap karena sejak pagi disuguhkan wajah muram dari sang istri yang tidak ramah sama sekali.
Wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada, sebelumnya jarang sekali Cliantha merajuk seperti itu pada sang suami.
"Tidak baik seorang istri menampilkan wajah masam pada suaminya, Sayang," ujar Narendra mencubit kecil dagu Cliantha.
"Mas yang buat aku sebal, kenapa aku yang dibilang tidak baik? Tidak instrospeksi diri," ucap Cliantha dengan kesal meskipun sebisa mungkin tidak meninggikan nada bicara atau suara yang menyebalkan seperti anak kecil yang merengek-rengek minta jajan. Dia sadar jika dirinya sudah dewasa, tetapi tidak ada salahnya jika kali ini dia pun berhak marah karena merasa diacuhkan.
"Baiklah, Mas minta maaf. Kenapa? Apa salah Mas sehingga kamu tidak bersuara sama sekali sejak tadi pagi?" Narendra bertanya seraya membujuk istrinya yang merajuk.
"Malas berbicara karena terakhir kali aku bertanya, kalian tidak menjawab," ucap Cliantha tanpa senyuman seperti biasanya.
Satu sesapan kopi hitam mengawali Narendra untuk menyaut, "Bertanya apa memangnya?"
"Apa yang Mas dan Jihan rahasiakan dariku? Kenapa Jihan mengatakan jika 'itu' menjadi rahasia kalian berdua. Apa aku tidak boleh tahu?"
Narendra tertawa, entah kenapa dia merasa tergelitik melihat sang istri yang merajuk seperti itu. Dalam benaknya, dia terus saja berkata 'tumben' setiap kali Cliantha berucap dengan suara manja dan sedikit merengek. Benar kata mertuanya, sedewasa apapun Cliantha, dia tetaplah anak yang manja yang sering disapa Cia oleh orang-orang terdekatnya.
"Iya, itu karena memang ada yang harus kami rahasiakan," jawab Narendra membuat Cliantha tidak puas dengan jawabannya.
"Termasuk menyembunyikannya dariku? Tidak adil sama sekali," cibir Cliantha yang membuat bibirnya semakin cemberut dan sekarang dia memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Haha. Jadi, seperti ini. Jihan mempunyai kesamaan denganku, sesuatu yang menurutnya harus dirahasiakan dan aku pun pernah melakukan hal itu di waktu dulu," ucap Narendra.
Tanpa menuntut penjelasan lebih, Cliantha sudah tahu kemana arah perbincangan itu. Dia salah satunya orang yang tahu apa rahasia Narendra di masa lalunya.
Lantas, Cliantha pun menggeleng tidak percaya, "Itu tidak mungkin," ucap bibirnya seraya menatap lurus pada mata suaminya. Namun, Narendra tetap mengangguk, "Itu benar, Sayang. Kamu mungkin sudah pernah mendengar kisah masa laluku dari Bunda, Mama, atau yang lainnya. Aku dan Jihan, kami mengalami hal serupa."
Sepuluh tahun yang lalu.
Seorang pria berusia awal dua puluh tahunan, dia berdiri sesekali merentangkan kedua tangannya di tepi jembatan layang yang sedang ramai kendaraan yang melintas di sore hari yang cukup padat lalu lintas kala itu. Dengan air mata berderai, dia sudah lama melawan rasa itu dan memendamnya seorang diri.
Namun, saat itu dia tidak bisa lagi menahan dan melawan rasa yang sejak dulu mendorongnya melakukan hal yang sama. Satu-satunya keinginan yang menggebu setiap kali dia teringat akan kerinduannya pada sang ibu.
Mati. Satu kata yang terus berputar di kepalanya saat dia merasa dunia tidak lagi ada gunanya, dunia bukan tempatnya untuk berpijak, serta saat dia merasa tidak lagi mempunyai harapan untuk hidup.
Di sanalah kini dia berada, berdiri tegak tanpa gemetar dan bertekad akan mengakhiri semuanya setelah hitungan ketiga dimulai.
Dia siap untuk terjun bebas dari fly over.
Di saat yang bersamaan, seluruh stasiun televisi dan selebaran-selebaran yang ditempel di sepanjang jalan dan mading umum yang menampilkan berita kehilangan sudah merebak ke seluruh penjuru kota. Pihak keluarga yang merasa kehilangan anak laki-laki mereka tidak gentar untuk terus mencari dan mencari keberadaan sang putra yang sudah beberapa hari silam menghilang dan diketahui sedang dalam keadaan mental yang tidak stabil.
Anak muda itu sudah menutup matanya, ia merenggangkan genggamanya pada pipa besi yang berada di belakangnya. Dia sudah siap untuk menjatuhkan dirinya dan meninggalkan dunianya yang sekaan tidak berharga itu.
__ADS_1
"Bunda, kalau Bunda tidak ada aku bisa apa? Kenapa sulit sekali kita bertemu? Kalau saat kita bertemu, aku selalu melihat Bunda dengan deraian air mata, aku tidak sanggup lagi. Lebih baik aku mati dan mengakhiri semua masalahku di dunia ini. Bunda bersedih karena kelahiranku di dunia ini, andai saja aku tidak pernah ada, maka Bunda tidak akan pernah bersedih. Selamat tinggal, 1...2...." ujar pemuda itu menghitung mundur nasibnya sendiri.
Namun, menjelang hitungan ketiga saat dia sudah siap untuk melepas semua beban tubuhnya, hitungannya terjeda karena seseorang tengah meneriakan namanya di belakang tubuhnya.
"Narendra! Narendra, berhenti! Jangan bergerak, Nak!"
"Bunda?" lirih Narendra muda saat menoleh ke belakang dan ia tidak jadi meluncurkan tubuhnya dari jembatan layang itu.
"Saat itu Bunda Nabilah datang. Jika saja Bunda tidak datang, mungkin saja aku sudah...." ucap Narendra di akhir ceritanya. Namun, ia harus berhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya karena pada saat itu Cliantha sudah bangkit dan memeluk tubuh suaminya.
"Mas, jangan diteruskan. Sudah cukup," ujar Cliantha yang tidak mau mendengar lebih jauh cerita masa lalu suaminya yang mengerikan itu.
Narendra menarik tubuh wanitanya, memintanya untuk saling menatap dan menyalurkan rasa percaya. "Aku sudah pulih berkat dirimu, Sayang. Setelah menikah denganmu, aku bisa terbebas dari obat-obatan itu. Karena kamu, aku merasa punya harapan untuk semangat hidup. Duniaku terasa berharga dan aku mempunyai masa depan yang terang saat kamu berada di sisiku," ucap Narendra membelai pipi istri pertamanya.
Cliantha mengangguk, "Aku akan selalu ada di sisimu, hidup hingga matiku."
"Dulu, kata mati bukanlah hal yang aku takutkan, malah itu menjadi harapanku. Ada banyak cara yang terpikirkan demi untuk mewujudkan keinginan untuk mati itu. Saat ini, itulah yang Jihan rasakan. Dia mengalami apa yang aku rasakan dulu. Dia mengidap bipolar dan harus berhadapan dengan obat-obatan," jelas Narendra.
Cliantha mengangguk, "Aku tidak pernah tahu tentang penyakit ini pada Jihan sebelumnya. Apa dia juga bisa sembuh dan pulih?"
"Itu yang ingin aku usahakan. Karena bagi kami para mengidap bipolar, kematian adalah sesuatu yang selalu terpikirkan saat sedang kalut dan mengalami keterpurukan mental. Aku harap, kita bisa sama-sama membantu Jihan untuk pulih dari kondisinya dan bisa lepas dari obat-obatan itu," terang Narendra.
__ADS_1
Bersambung...