
Setelah dipastikan ke dokter dan dinyatakan Kana hamil 3 minggu, kehidupannya berubah total. Adrian menjadi lebih posesif terhadap Kana begitupun dengan orangtua masing-masing.
Mama Kana hampir setiap hari menelpon hanya untuk memastikan Kana sudah meminum vitaminnya, ayah dan bunda juga sering menelpon hanya untuk menanyakan apakah Kana menginginkan sesuatu, Adrian? Jangan ditanya lagi dari semua keluarga dekat, Adrian lah yang paling posesifnya level dewa. Dia akan tiba-tiba pulang lalu menanyakan keadaan Kana, menelpon Moli atau Nea dan memastikan Kana baik-baik saja ketika di kampus, atau tiba-tiba mengirim banyak makanan untuk Kana yang dipesan melalui gofood.
Kanda? Dari semuanya dia yang paling santai. Dia masih bersikap wajar sering datang ke rumah Kana dan menyuruhnya memasak. Kanda bilang dia tidak ingin memanjakan Kana karena nanti ponakan dia akan menurun manja dari ibunya. Sayangnya, Kanda sering menjadi korban ke-posesifan Adrian. Jika Adrian tidak bisa mengantar-jemput Kana ke kampus maka Kanda lah yang menggantikan Adrian.
Untungnya, pekerjaan Kanda di bidang fotografi tidak mengharuskannya duduk manis di kantor sehingga selalu ada waktu untuk Kana. Apakah Kanda melakukannya secara sukarela? Tentu saja tidak! Entah apa yang dijanjikan Adrian pada Kanda sehingga Kanda begitu bersemangat menjaga Kana.
"Nih." Kana meletakkan sepiring nasi goreng di depan Kanda, sebagai balas budi karena telah mengantar Kana ke toko buku seharian bersama dua temannya. Anehnya, seharian ini Kanda bersikap manis tidak seperti biasanya yang ngeselinnya minta ampun.
Kana jadi curiga kakaknya kerasukan apa gimana ya?
"Uenak banget Na,"puji Kanda saat memakan makanannya. Satu lagi, Kanda memuji masakan Kana yang sebelumnya belum pernah Kanda lakukan.
Kana menatap Kakaknya lekat-lekat. "Bang, kamu gak kerasukan jin penunggu toko buku kan?"
Kanda tersenyum manis dan itu makin membuat Kana yakin kalau Kanda sedang tidak biasa. " Na, Nea itu manis ya." Kanda menunduk tersipu.
Kana tercenung menatap kakaknya lebih lekat lagi. " Kakak naksir sama Nea?"
Kanda menyuapkan makanannya lalu menatap Kana dengan muka merah. Fix kakaknya naksir sahabat baiknya itu. lha, jadi sikap aneh Kanda hari ini karena Nea?
"Kayaknya waktu SMA item kenapa sekarang jadi kayak dikerubuti semut begitu ya?"Kanda tersenyum matanya menerawang membayangkan wajah manis Nea.
"Hah? Dikerubuti semut??" pekik Kana kaget lalu bergidik ngeri membayangkan Nea yang tubuhnya dipenuhi semut.
"Itu analogi ogeb!" Kanda menoyor pelan kepala adiknya. "Maksudnya Nea itu terlalu manis." Lagi-lagi Kanda tersenyum malu-malu.
Kana membulatkan matanya kaget.
"Itu juga analogi, jangan nanya apa gue udah pernah jilat!" sambar Kanda cepat karena Kanda tahu sekali reaksi polos Kana.
"Ihh, kok Bang Kanda tahu aku mau nanya itu?" Kana mengerjap kagum pada kakaknya membuat Kanda menghela napas lelah menghadapi tingkah polos adiknya.
"Lupakan! Gak penting juga!" Kanda mengibaskan tangannya.
" Bang, naksir Nea?" Kana menopang dagu menatap kakaknya lekat-lekat.
"Ehm..." Kanda menatap adiknya sekilas lalu tersenyum malu-malu membuat Kana berdecak kesal karena sedari tadi tidak mendapat jawaban dari sang kakak.
"Sekarang makin cantik beda banget waktu jaman bocah."
"Kan, temenan sama aku." Kana mengedip manja. Membuat Kanda memutar bola mata jengah, kepercayaan diri yang mencengangkan.
"Jangan naksir deh!" larang Kana
" Kenapa?" Kanda tertarik dengan kata-kata adiknya itu.
Kana mencondongkan tubuhnya ke depan ke arah Kanda lalu menatap Kanda misterius. "Nea udah punya calon," bisik Kana lirih.
Mata Kanda membulat sempurna saat mendengar jawaban Kana.
Calon? Calon apa? Gebetan? Pacar? Tunangan? Apa suami?
__ADS_1
"Maksud lo?"
Kana tersenyum manis. "Calon suami," imbuhnya.
"Masa sih? Siapa?"
"Gak tau." Kana mengangkat bahunya acuh.
"Kok gak tau? Ngibul lo ya?" tuduh Kanda menunjuk Kana tepat di depan hidung dengan garpu yang dia pegang .
Kana bergidik ngeri lalu menurunkan tangan Kanda. "Aku gak ngibul. Kan tiap orang punya calon suami atau calon istri. Cuma belum pada ketemu aja," kata Kana menahan senyum karena berhasil mengerjai Kakaknya.
"Jadi maksud lo calon suami ini, jodoh yang belum kelihatan?"
Kana mengangguk membuat Kanda melotot ke arahnya. Kana terkikik geli lalu membentuk huruf V dengan jarinya sebagai tanda damai.
"Dasar! Udah senam jantung aja gue." Kanda bernapas lega, berati dirinya masih punya kesempatan buat deketin Nea. Yah, walaupun umur mereka agak sedikit jauh selisihnya tapi tidak masalah lah. Buktinya Kana sama Adrian saja bisa sampai ke pelaminan jadi tidak menutup kemungkinan juga dirinya mengikuti jejak sang adik ipar.
"Tapi kayaknya Nea gak bakal tertarik deh sama kamu Bang," seru Kana membuat Kanda menyipitkan mata menatapnya.
"Standar Nea soal cowok itu tinggi Bang. Gak main-main dia mah kalau milih cowok, dan Bang Kanda-" Kana mengantungkan kalimatnya memperhatikan Kanda dari atas sampai bawah.
"Kayaknya gak masuk kriteria cowok idaman Nea deh!"imbuh Kana jujur terlampau jujur malah sampai-sampai Kanda merasa harga dirinya sebagai pria tampan terluka.
"What? Lo meragukan pesona gue? Asal lo tahu aja ya Na, di luar sana banyak banget cewek antri demi jalan sama gue." Kanda berkata dengan penuh percaya diri membuat Kana mendecih ke arahnya.
"Halah! Omong doang! Buktinya udah kepala tiga masih aja single, " cibir Kana terkikik geli.
"Ampun Bang! Ampun!" Kana tertawa geli meronta-ronta untuk minta dilepaskan. Dan berhasil. Kana merasa tubuhnya ditarik menjauh dari rangkulan Kanda.
"Sayang, kamu gak papa?"
Kana mengerjap kaget saat melihat Adrian sudah berdiri di depannya membelakangi Kanda. Jadi yang menarik dia tadi Adrian? Sejak kapan dia pulang?
"A-aku ..." Kana urung melanjutkan kata-katanya saat Adrian membalikkan badan ke arah Kanda.
" Lo tuh, jangan kasar dong! Kana kan lagi hamil. Kalau tadi kenapa-kenapa sama calon anak gue gimana?" marahnya pada Kanda yang berdiri dengan muka binggung itu.
"Aelah, tadi gerakkan gue juga pelan kali!" Kanda mencibir lalu duduk kembali di tempatnya melanjutkan makan.
"Kamu beneran gak apa-apa kan?" Adrian dengan wajah panik memengang kedua pundak Kana memperhatikan istrinya itu dari atas sampai bawah.
"Aku baik-baik aja." Kana menatap ke arah Kanda yang memasang wajah jengah melihat tingkah Adrian yang berlebihan itu.
"Ya sudah. Sini, duduk! Aku beliin kamu banyak makanan." Adrian tersenyum lalu membimbing Kana untuk duduk di kursi.
Kana menatap binggung ke arah Adrian yang sibuk membuka-buka kantong-kantong plastik yang sudah berjejer rapi di meja makan.
"Ini aku beliin buah-buahan organik ada apel, jeruk sama pisang." Adrian mengeluarkan 1 keranjang kecil buah-buahan sepertinya dijual paketan.
"Ini aku beli susu sama cemilan sehat khusus ibu hamil." Kali ini Adrian mengeluarkan 5 dus susu ibu hamil dan juga beberapa biskuit yang Kana belum pernah liat sebelumnya.
"Ini ada steam ayam kampung, cumi goreng kesukaan kamu yang digoreng dengan minyak zaitun terus ada salad buah sama sayur organik." Dengan sigap Adrian mengeluarkan aneka makanan yang dari bentuknya saja sudah membuat air liur menetes, tapi bukan air liur Kana melainkan Kanda yang sejak tadi menatap ke arah makanan yang tersaji di meja makan.
__ADS_1
Kanda menatap nasi goreng buatan Kana yang sederhana lalu membandingkan dengan makanan yang ada di depan Kana. Jauh berbeda.
"Wah, kelihatannya lezat!" Tangan Kanda terulur meraih bungkusan salah satu makanan Kana tapi urung saat Adrian menepuk punggung tangan Kanda dengan mata mendelik.
"Astaga, lo pelit amat Ian. Itu gak habis semua buat Kana!Mubazir kalau sisa,"protes Kanda kesal.
"Iya, Kak! Ini kebanyakan. Mana mahal pula." Kana mengamati makanan yang ada di meja lalu mencomot cumi goreng dan memakannya.
Kana melebarkan matanya saat mengunyah makanan di mulutnya. Wah, enak pakai banget!
"Lha itu juga mubazir nasi goreng kalau gak lo makan. Itu masakan Kana kan? Besok jangan minta Kana masak lagi dia gak boleh kecapekan," sambar Adrian posesif.
"Lha gue lapar dong!"
"Ya, lo beli aja. Kan lo gue gaji selama 8 bulan buat jagain Kana," balas Adrian santai. Kanda terdiam menatap adik iparnya sebal.
"Jadi Bang Kanda dibayar?" tanya Kana tak percaya. Kanda dan Adrian saling lirik lalu mengangguk.
Kana mendengus sebal. " Aku kira tulus."
"Yakali, kan lumayan Na buat nambah-nambah tabungan." Kanda mennaik turunkan alisnya.
"Kak Ian gak perlu sampai bayar Bang Kanda buat jagain aku. Aku ini hamil Kak. Bukan sakit parah!"
"Justru kamu lagi hamil Na, makanya harus dijaga. Dan Kanda orang yang tepat buat jagain kamu. Apalagi ini cucu pertama keluarga Rusman sama keluarga Gufron," jelas Adrian mengelus punggung Kana membuat Kanda yang melihatnya mencibir iri.
"Iya, tapi... duh ini juga makanan banyak amat sih Kak? Besok-besok jangan belanja segini banyaknya kita kan di rumah cuma berdua," pinta Kana.
Kanda mendelik ke arah Kana. Jadi dia tidak masuk hitungan? Dia tidak dianggap di rumah ini? Hellooo, siapa yang jadi bodyguard dadakan buat jagain bumil yang anaknya aja baru sebiji jagung? Siapa yang capek ngantar ke sana kemari? Enak saja dia gak dianggap.
"Ya, aku kan cuma ingin yang terbaik Na buat calon anak kita." Adrian memeluk Kana, tangannya terulur mengelus rambut Kana.
Kanda yang melihat adegan itu hanya bisa mengelus dada. Benar-benar berlebihan. Udah kayak anak sultan aja tuh calon bayi. Lagian mereka berdua kenapa gak peka sih?Gak ngerti apa kalau dia jomblo dan butuh perhatian ?
"Aku tahu Kak, tapi besok-besok jangan belanja banyak-banyak gini ya?" pinta Kana. Adrian mengangguk patuh.
"Terus cuma ini aja kan , Kak?"
"Di bagasi masih ada sekarung beras merah organik sama sayuran tuh!" Adrian tersenyum manis.
"Gila, lo kagak malu belanja udah kayak perempuan begitu?" celetuk Kanda tak percaya. Kanda heran kenapa sahabatnya yang terkenal kaku itu jadi bucin setengah hidup begini?
"Ngapain malu? Demi calon anak, lautan pun akan aku sebrangi," sahut Adrian tangannya mengusap perut Kana yang masih rata. Kana tersenyum dengan wajah merah menahan malu.
"Makanya lo buruan kawin!" sergah Adrian melirik Kanda yang mukanya sudah seperti kepiting rebus.
"Teroooos! Teross aja ceng-cengin gue!" seru Kanda kesal lalu mencomot cumi goreng sebanyak-banyaknya. Membuat Adrian melotot ke arahnya.
"Woy, jangan dihabisin buat anak gue!" Adrian mengambil kembali cumi di piring Kanda. Sedetik kemudian mereka sudah saling berebut makanan seperti anak kecil.
Kana hanya bisa menghela napas lelah memperhatikan dua pria dewasa yang bertingkah seperti bocah itu.
******
__ADS_1