Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Jangan bermimpi


__ADS_3

Susan berjalan pelan mendekat ke arah Kana yang membeku dengan wajah pucat. Tangannya mendadak tremor karena tiba-tiba kejadian itu melintas di pikirannya. Tidak, tidak! Kana tidak boleh takut, dia harus berani melawan rasa takutnya. Jika tidak Susan akan terus menganggunya.


Kana menarik napas dalam-dalam, ini di rumah sakit Kana yakin wanita itu tidak akan berani macam- macam di tempat umum. " Ngapain di sini?" Kana berharap suaranya tidak gemetar.


"Aku ke sini untuk minta maaf, aku sangat menyesal sudah menyakitimu, yang menyebabkan bayi kalian meninggal. Sungguh, aku sangat menyesal." Susan berkata dengan wajah sedih terlihat sungguh-sungguh menyesal dengan bibir berkedut seperti menahan senyum, membuat Kana bertanya-tanya apa dia benar-benar serius dengan ucapannya atau hanya pura-pura saja.


Tiba-tiba saja wajah Susan yang semula sedih berubah normal. "Tapi bohong!" seru Susan lalu tertawa terbahak-bahak telunjuknya menunjuk-nunjuk ke muka Kana. Kana bergidik ngeri, sepertinya wanita ini sudah hilang akal.


Susan menggeleng-gelengkan kepala lalu tersenyum manis dan hangat seakan-akan dia baru saja bertemu teman lama yang akrab. "Kana .... Kana .... Kana." Susan berjalan memutari ranjang Kana lalu berhenti tepat di depan Kana.


"Bagaimana rasanya kehilangan?"


Untuk Kana itu bukanlah suatu pertanyaan tapi lebih ke arah memastikan. Kana mengepalkan tangannya menahan amarah yang mengelegak di dalam hatinya.


"Pergi dari sini!" usir Kana menatap Susan tajam. Susan terkikik geli lalu melipat tangannya di depan dada. Mulai membentuk sebuah perlindungan.


"Ups, Anak Kucing rupanya ingin berubah jadi anak singa." Susan tertawa mengejek.


"Pergi dari sini sebelum aku panggil perawat dan mereka akan membawamu ke polisi!" usir Kana sekali lagi. Sayangnya, Susan sama sekali tak bergeming dia malah tersenyum sinis meremehkan Kana.


"Kamu pikir aku takut?" Susan mendekati Kana lalu menarik rambut Kana kuat-kuat, membuat Kana yang tubuhnya belum pulih benar itu tidak dapat mengelak.

__ADS_1


Perih dan panas yang dirasakan Kana. Seolah-olah kulit kepalanya mengelupas.


"Jangan sentuh aku!!" Sekuat tenaga Kana melepas tangan Susan yang menarik rambutnya, mendorongnya ke belakang. Dan berhasil. Walaupun tubuh Susan hanya bergeser sedikit ke belakang tapi tangannya sudah terlepas.


"Pergi dari sini atau aku benar-benar akan membuatmu membayar semua perbuatanmu padaku!" ancam Kana dengan sisa-sisa keberaniannya. Padahal jika boleh jujur Kana sangsi, apakah dia benar-benar bisa melawan Susan dengan kondisi yang belum pulih benar.


Susan tertawa. "Astaga! Galak sekali, padahal aku ke sini benar-benar ingin mengetahui keadaanmu. Aku


sungguh menyesal- " Susan berhenti sejenak menatap Kana tajam. "Menyesal kenapa kamu tidak sekalian saja pergi bersama anak kamu!" jeritnya lalu membanting piring yang berisi buah-buahan di atas nakas. Kana tercengang melihat apa yang dilakukan Susan, pecahan beling berhamburan di lantai menjadi saksi betapa wanita di depannya ini sungguh berbahaya. Dia tidak menyangka Susan akan sebrutal itu. Kana berharap pintu segera terbuka dan mamanya atau Adrian muncul menyelamatkannya.


"Kamu pikir jika aku juga pergi lalu Adrian akan memilihmu?Jangan bermimpi!" Salah satu cara menghadapi musuh adalah dengan melukai harga dirinya, serang mental-nya lebih dahulu. Itu satu-satunya ilmu yang Kana dapat sewaktu mengikuti ekstra bela diri di SMP dulu yang hanya bertahan 2 kali latihan karena Kana selalu mengeluh lelah sepulang latihan.


Susan menatap Kana tak percaya, kenapa gadis kecil yang kemarin begitu lemah jadi berani melawannya?


Kana mengumpulkan keberaniannya, menatap Susan dengan dagu terangkat. Menunjukan kalau dia bukanlah anak kucing, tapi rubah yang cerdik dan lincah. "Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mendapatkan Adrian. Dia tidak akan pernah memilihmu." Kana berharap suaranya tidak terdengar bergetar karena sebenarnya Kana sedikit takut menghadapi Susan yang terlihat mengerikan di matanya.


Wajah Susan menegang tapi dia berusaha bersikap tenang dengan cara tersenyum sinisseolah-olah membentuk pertahanan diri dari serangan Kana.


"Oya? Yakin sekali." Susan mencondongkan tubuhnya ke arah Kana bermaksud mengintimidasi." Asal kamu tahu, Susan selalu bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Apapun." Susan menekankan kata 'apapun' , seolah-olah diapun bisa mendapatkan Adrian.


"Termasuk Adrian. Aku akui, dia sulit untuk aku dekati tapi bukan berarti gak bisa didapatkan kan? Walaupun memang semua cara sudah aku lakukan untuk menarik perhatiannya tapi semua usahaku gagal karena kehadiranmu!"

__ADS_1


Bagi Susan, Kana adalah penghalang satu-satunya. Kalau saja Kana tidak hadir dalam kehidupan Adrian pasti Susan bisa mendapatkan hatinya. Itu yang dipikirkan Susan selama ini. Dia adalah anak tunggal yang terbiasa mendapatkan semua yang dia mau. Dan Adrian, Adrian adalah satu-satunya yang sulit dia dapatkan selama ini. Hanya Adrianlah satu-satunya pria yang tidak tertarik padanya. Padahal banyak pria yang memujanya, mendambakannya tapi Susan menolak mereka. Hanya pada Adrian lah Susan menyerah, menasrahkan dirinya.


Sayang, Adrian memilih gadis kecil yang bahkan seujung kukunya pun tidak akan bisa menandinginya. Tapi kenapa Adrian memilih gadis ini! Apa istimewanya?


"Aku kasian padamu, sehebat apapun kamu mencoba menarik perhatian suamiku dia tidak akan pernah tertarik padamu! Jadi, jangan berharap, bermimpi pun jangan."


Mendengar kata-kata Kana, Susan menjadi kalap. Amarahnya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Dengan sekali sentak dia menarik tangan Kana turun dari ranjang sampai selang infus di tangan Kana terlepas membuat tangan Kana berdarah.


Kana mencoba melepaskan tangan Susan yang mencengkram erat pergelangan tangannya tapi memang kondisinya yang masih lemah membuatnya tidak berhasil lolos dari serangan Susan yang sudah mendorong tubuhnya sampai terjatuh di lantai yang dingin. Kana merintih tertahan saat dia merasakan nyeri di bawah perutnya. Tapi sekuat mungkin Kana berusaha menahan rasa sakitnya dia harus bisa keluar dari kamar ini dan mencari pertolongan.


Kana mencoba bangkit tapi Susan menginjak kaki Kana lalu menekannya kuat-kuat. Kana menjerit tertahan. Tulangnya seakan-akan remuk, karena Susan memakai sepatu wedges yang cukup tebal.


"Mau kemana anak kucing? Kabur?" Susan berjongkok untuk menyamai tinggi Kana.


"Seberapa kuat kamu menyakitiku ini hanya akan membuat suamiku semakin membencimu dan tidak akan merubah kenyataan, kalau dia tidak akan pernah tertarik pada wanita sepertimu!!" teriak Kana dengan sisa-sisa kekuatannya.


Susan memdelik dia semakin kalap lalu dengan kasar dia mendorong Kana dan menaiki tubuh Kana lalu mencek*knya.


Kana memengang pergelangan tangan Susan mencoba melepasnya. Tapi seperti dirasuki oleh kekuatan jahat tangan Susan semakin kuat tekanannya di leher Kana. Kana mencoba melepas kan diri dengan cara meronta dan menendang-nendangkan kakinya ke udara. Tapi semua sia-sia karena Susan yang sudah dirasuki amarah menekan lehernya dengan kuat membuat Kana sulit untuk bernapas. Kana merasakan panas di tenggorokannya pandangannya mulai kabur. Hal terakhir yang dia lihat adalah Susan yang tersenyum penuh kemenangan.


*********

__ADS_1


Maafkan jika ada sedikit kekerasan please jangan dicontoh. Story ini hanya untuk hiburan. Jika tidak suka atau merasa cerita ini tidak ada gregetnya silahkan bikin cerita sendiri. hihihi Seburuk apapun komentar kalian tidak akan berpengaruh karena prinsip aku 'pembaca adalah raja tapi penulis adalah dewa' hoho maafkan mulut aku yang julid..lid..lid!!!! Untuk yang selalu komentar positif dan membangun i love you so much..much much!!! Makasih banget udah mau baca dan nungguin cerita abal-abal ini. I love u all. Happy reading!!!


__ADS_2