Malam Pertama Kana

Malam Pertama Kana
Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

Kana mengigit ujung jarinya dengan gugup. Kakinya bergerak tak beraturan. Air mata tak berhenti mengalir di sudut mata. Kana panik, takut dan tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Suaminya tertembak saat melindungi dirinya. Masih terlihat jelas bagaimana darah itu membasahi kedua tangan Kana saat dia memeluk Adrian.


"Na, tenang Sayang, berdoa." Maya merangkul bahu Kana mencoba menguatkan putrinya yang sedang gelisah menunggu kepastian dari dalam ruang operasi.


"Semua salah Kana, Ma. Seandainya Kana nurut Kak Ian untuk tidak terlalu dekat dengan Randu pasti ini tidak akan terjadi. Semua salah Kana, Ma!" Racauan Kana di sela isak tangisnya itu, membuat hati yang mendengar mencelos. Bagaimana tidak? Belum lama Kana kehilangan bayinya dan sekarang suaminya sedang berjuang di ruang operasi.


Melihat Sang Menantu yang gelisah dan menyalahkan dirinya sendiri Rahayu merasa tak tega melihatnya. Dia mendekati Kana lalu duduk di sampingnya. "Kana, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua bukan salah kamu. " Rahayu membelai kepala Kana berharap agar menantunya itu tenang, walaupun sebenarnya Rahayu lebih khawatir. Bagaimanapun Adrian anak tunggal di keluarganya. Kehilangan Adrian sama saja memutus rantai keturunan keluarga Rusman.


"Maafkan Kana Bun. Kak Ian terluka karena Kana. Maafkan Kana Bunda," isak Kana mencium tangan mertuanya sebagai luapan penyesalan yang teramat dalam. Tanpa sadar setetes air mata membasahi pipi Rahayu dia buru-buru mengusap pipinya sebelum Kana menyadari dia menangis.


"Kana, dengerin Bunda." Rahayu memegang kedua pundak Kana. "Apa yang terjadi pada Adrian bukan salah kamu atau siapapun. Ini musibah Na, dan kita tidak akan pernah tahu kapan suatu musibah terjadi. Jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri. Kamu harus kuat, berdoalah karena saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan." Rahayu menatap lembut ke arah Kana yang menatapnya dengan mata berair. Rahayu yakin berkedip saja air mata akan menetes dari kedua mata Kana.


"Kana takut Bunda. Kana takut! " Kana menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. "Kana tidak siap jika harus kehilangan Kak Ian, Bun." Kana menatap kembali mertuannya matanya kabur, tertutup oleh air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya.


Rahayu mengambil tangan Kana mengenggamnya erat-erat.


"Jika kalian berjodoh, kalian masih bisa bersama. Tapi jika jodoh kalian hanya sampai di sini, tolong ikhlaskan Adrian, Na."


Mendengar kata-kata mertuanya tangis Kana semakin pecah. Dia tidak akan siap jika harus kehilangan suaminya. Kana tidak siap sendiri menjalani hidupnya, dia sudah terbiasa dengan keberadaan Adrian dan jika harus kehilangan suaminya Kana benar-benar akan hancur begitupun Rahayu. Hanya saja Rahayu tidak menunjukan segala kegelisahan dan kesedihannya, dia harus terlihat tegar agar menantunya tetap kuat dan tidak semakin sedih.


"Kana, benar kata Bu Rahayu. Kamu- kita harus kuat. Doain Ian Na. Dia sedang berjuang di dalam sana. Jangan sia-siakan perjuangan Ian di dalam sana." Maya memeluk putri kesayangannya menepuk punggung Kana perlahan.

__ADS_1


Melihat adegan itu Rusman, Joddy dan Kanda hanya terdiam. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Randu dan Randi sudah dalam pengamanan polisi. Joddy akan pastikan keduanya mendapatkan hukuman yang sepadan dengan apa yang sudah mereka lakukan. Adrian dan Kana sama-sama berarti untuk Joddy. Adrian adalah sahabatnya, sedangkan Kana adalah seseorang yang pernah dia cintai bahkan mungkin sekarangpun rasa itu masih tertinggal jauh di dalam lubuk hatinya. Ingin rasanya Joddy berlari dan memeluk Kana membuatnya tenang dan meyakin jika semua akan baik-baik saja. Sayangnya, Joddy hanya bisa menatap Kana dari jauh karena untuk lebih dari itu bukan kapasitas Joddy. Dia hanya melakukan apa yang sepantasnya dia lakukan.


Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka seorang dokter yang masih memakai OK keluar, membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.


"Bagaimana anak saya, Dokter?" buru Rusman, ayah mertua Kana yang sejak tadi terlihat cemas bergegas mendekati pria paruh baya itu. Kana pun beranjak dari duduknya ikut mengerubungi pria itu.


Dokter itu menatap satu persatu wajah-wajah tegang yang ada di sekelilingnya, lalu tersenyum. "Alhamdulilah, luka tembak yang dialami Saudara Adrian tidak terlalu dalam, tidak sampai mempengaruhi organ vitalnya hanya sedikit merusak otot punggungnya saja. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan semua akan pulih. Kami akan terus memantau kesehatan Saudara Adrian."


Semua orang yang berada di ruang tunggu itu bernapas lega Kana bahkan memeluk mamanya erat. Rasa cemas, panik dan ketakutan menguap entah ke mana. Berganti rasa lega yang luar biasa melingkupi hatinya.


"Kami akan segera memindahkan Saudara Adrian ke bangsal rawat. " Selesai bicara dokter itu bergegas pergi. Kana tersenyum lega air mata bahagia tak hentinya menetes dari kedua pelupuk mata.


*


"Na, kamu pulang lah. Istirahat. Aku baik-baik saja. Ada mereka juga di sini?" bujuk Adrian sudah yang ke 3 kalinya. Kana mengeleng pelan dia tidak mau meninggalkan Adrian barang sedetikpun. Dia ingin menemani suaminya sampai benar-benar sembuh.


"Aku mau di sini. Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari dua manusia yang tidur pulas itu?" Kana mengedikan dagunya pada Joddy dan Kanda yang tidur di sofa yang tersedia di kamar rawat Adrian.


"Kamu harus istirahat Na."


"Kak, berhenti mengkhawatirkan aku. Di sini yang harus dikhawatirkan Kakak, bukan aku. Aku akan baik-baik saja. Jadi, Kakak diam dan biarkan aku tetap di sini." Ayrin mengenggam tangan Adrian lalu menempelkan telapak tangan Adrian ke pipinya, merasakan kehangatannya.

__ADS_1


Adrian akhirnya menyerah dan membiarkan Kana tetap berada di sampingnya.


"Kak, maafin Kana ya? Kakak berada di sini karena Kana. Coba saja kalau Kana nurut sama kamu, pasti ini tidak akan terjadi," ujar Kana mendekatkan dirinya pada Adrian. Lalu memeluknya. Tangan Adrian yang bebas dari infus membalas pelukan Kana.


"Bukan salah kamu Na. Bukan salah siapa-siapa," balas Adrian mengusap pundak Kana. "Yang terpenting sekarang kita baik-baik saja." Adrian mengecup pucuk kepala Kana.


"Aku takut banget waktu lihat darah kamu. Aku benar-benar takut, Kak. Aku gak siap kalau kamu pergi lebih dulu." Kana membenamkan kepalanya ke dada Adrian, membuat Adrian meringis kesakitan, karena luka dipunggungnya agak tertekan.


"Eh, maaf. Sakit ya?" Kana mengendorkan pelukannya menatap Sang Suami penuh rasa bersalah. Adrian tersenyum jarinya menelusuri garis wajah Kana. Lalu berhenti di bibir mungil Kana yang berwarna pink dan terasa lembut di kulit jemarinya.


"Aku tidak akan pergi di tempat yang tidak ada kamu, Sayang. Sebelum takdirku memintaku untuk itu, aku akan selalu ada di sampingmu."


Kana tersenyum lalu mengecup pipi suaminya lembut. "Jangan tinggalkan aku, Kak." Kana mengecup sekali lagi pipi Adrian tapi dasar Adrian, walaupun dalam keadaan sakit tetap saja dia menginginkan lebih dari sekedar kecupan di pipinya


maka Adrian menarik dagu Kana dan melahap bibir Kana yang sudah seperti candu baginya.


"Gila ya lo, Ian! Sakit aja bisa nyosor!" Suara protes Kanda membuat Kana refleks memundurkan kepalanya menjauh dari Adrian dengan wajah merah menahan malu, dia lupa kalau di ruangan itu dia tidak hanya berdua dengan Adrian melainkan ada dua pria yang juga sama-sama menyayanginya tengah tidur pulas, awalnya, tapi Kana dan Adrian tidak sadar jika kedua orang itu sudah bangun.


"Lo berdua bener-bener gak bisa jaga perasaan kami sebagai kaum jomblo," seru Kanda lagi. Joddy hanya menggeleng-geleng ke arah Adrian dan Kana, lalu tiba-tiba dia memegang dagu Kanda menatap sahabatnya itu dengan tatapan aneh. "Kak, jangan tinggalkan aku. "Joddy menirukan kata-kata Kana membuat Kana menutup mukanya. Malu. Dan Kanda bukannya marah tapi malah membalas Joddy. " Aku tidak akan pergi ke tempat yang tidak ada kamu, Sayang!" Kanda menirukan suara berat Adrian.


Adrian menatap kedua temannya dengan mimik jijik. "Geli kampret!" serunya kesal pada dua sahabatnya yang sengaja meledeknya itu.

__ADS_1


Kanda dan Joddy saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak.


*********


__ADS_2